Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Minggu, 29 Januari 2012

Ketika Proposal itu Diminta (Bag.1)

Masih saja begitu indah Allah merangkai jalinan mozaik peristiwa agar makhluk-Nya senantiasa mengambil hikmah atas segalanya. Dua hikmah yang sangat besar, tentunya adalah Al Qur’an dan kabar duka dari siapapun tentang kematian. Dua hal itu sangat terang untuk dicari hikmahnya dalam-dalam jika menginginkan Allah berkenan meridhai jalan bagi manusia untuk menuju kepada-Nya.
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al Baqarah:269).
Secuil lagi hikmah dari kisah sederhana menghampirinya. Peristiwa itu, muncul sekitar 24 jam penentuan keberlanjutan hubungan antara dua insan yang tengah berharap ridha-Nya.

Arliva. wanita itu,  menangis hebat pagi itu. Jiwanya sungguh terasa sangat picisan. Entah mengapa kisah sederhana yang sebetulnya ia yakini telah banyak dilewati dua sejoli di dunia ini membuat benteng jiwanya porak poranda. Sungguh picisan jiwa ini. Seolah berbagai masalah besar tiba-tiba saja hilang dari pikirannya. Lalu, tergantikan dengan masalah sepele yang ternyata membuat arah kemudi kalbunya oleng. Apakah ia memang selemah ini?

Benarkah ini bukti bahwa memang Allah seringkali menguji jiwa pada titik lemahnya? Ketika sang jiwa bisa menghadapi suatu cobaan, bahkan orang kagum dengan kemampuan sang jiwa menghadapi cobaan itu, masih belum cukup ketika titik lemah sang jiwa belum diuji? Atau memang jiwanya teramat lemah atas imannya yang lemah? Sehingga ketika segala teori ia pahami belum pula cukup kuat untuk memberi cahaya bagi amalnya untuk bekerja.
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah:155)
Ia, sebagai wanita merasa sungguh sangat manja atas cita-citanya menggapai langit, mendambakan proses percintaannya dengan manusia begitu suci menurut kehendaknya. Menginginkan setiap jalan menuju bahtera bernama pernikahan adalah sesuai apa yang dipikirkannya. Mungkin pula wanita ini lantas mendirikan benteng keangkuhan sikap yang ia sebut sebagai keperawanan hati yang juga ia inginkan dari lelaki yang hendak bersamanya. Ia tidak ingin mencinta sebelum waktunya.

Untuk itulah ia berniat menjaga komitmennya untuk tidak menjalin hubungan khusus dengan lawan jenisnya sejak SMA, dimana saat itu ia merasa sudah ada bibit cinta dalam hatinya untuk menemukan tulang rusuknya. Begitupula ia ingin lelaki yang datang padanya tak cacat dalam hal ini.

Impian yang juga mungkin saja dipunyai oleh banyak wanita jagat ini dengan setiap laku takdir mereka sendiri. Alasan itulah yang membuatnya sangat gemetar ketika hatinya telah condong kepada seorang lelaki yang ia kagumi kesalehannya. Dengan segala dayanya, ia pungkiri setiap rasa. Ia doktrin hatinya bahwa siapapun yang hatinya condong kepadanya sebelum akad diucapkan adalah bukan untuknya. Wanita ini memilih jalan dimana cintanya bagai mutiara setelah pernikahan. Awalnya tiada berbentuk. Hanya sebutir pasir kecil. Namun, dengan kuasa Sang Pemberi Cinta, butir pasir itu dipertemukan dengan liur suatu hewan yang juga bukanlah barang berharga di awal prosesnya, bahkan lebih hina dari sebutir pasir. Ketika keduanya dipertemukan, muncullah butir mutiara yang makin menebal dan menampakkan kilaunya yang beraneka warna hingga diburu manusia akan keindahannya.

Demikianlah wanita itu berteori, sehingga ia sangat ingin Allah menghadirkan cintanya laksana mutiara itu setelah akad diucapkan. Hanya saja, atas perihal jiwanya itu, Allah seolah hendak mengujinya. Ia malah dekatkan wanita itu pada lelaki dambaannya. Semakin dekat dengan segala agenda yang tidak disangka, hingga hatinya sangat lemah seraya memohon kepada-Nya. Wanita itu takut jika amal yang ia perjuangkan tidak lagi murni untuk pencipta-Nya. Kedekatan momentum dengan lelaki dambaannya  di ladang perjuangan seorang pelajar,  di sekolahnya. Sekolah tempat  wanita itu dibentuk paradigmanya dan dibesarkan dengan segala kesibukan organisasi dan akademis.

Dan sekali lagi, dalam beberapa kesempatan harus bertemu dengan lelaki dambaannya itu. Ia yakin kisah ini juga dialami oleh banyak aktivis organisasi sekolah atau kampus kala seumurannya. Bukanlah kisah istimewa, tapi ketika ia mengalaminya pula, semuanya menjadi tampak tidak sederhana.

Seharusnya, jika ia cuek saja tentunya tidak ada masalah. Ya, memang bukan masalah besar. Namun, masalah yang muncul adalah bahwa hatinya terasa tidak sekuat pikirannya. Ia sadari ia harus berbenah dan hanya Allah-lah tumpuan harapan. Ia bersyukur ketika apa yang ia sebut solusi adalah ada lelaki lain yang hendak meminangnya. Tanpa pikir panjang, ia sambut niat baik itu.

Atas sikap hatinya itu, wanita itu sudah bisa mengendalikan diri hingga sekitar dua puluh empat jam menuju waktu ia dikhitbah hatinya membiru melankolik.

“Ya Allah benarkah aku sering berlebihan? Jika iya, tunjukkanlah caranya agar aku senantiasa dekat kepada-Mu.Tuangkanlah kesabaran pada hatiku agar aku tidak terjerumus kepada maksiat kepada-Mu melalui sikapku yang tidak aku pahami ini.”

Ia hanya berderai tangis saat perantara dari sang lelaki yang hendak mengkhitbahnya meluncurkan SMS pertanyaan.

“Maaf mbak, bagaimana akhirnya? Apakah beliau diizinkan datang ke rumah untuk mengkhitbah antunna? Tentang pertanyaan yang mbak tanyakan akan dijelaskan lebih rinci kalau khitbah sudah berlangsung. Saya izinkan berkomunikasi langsung lewat sms atau jika mendesak lewat telpon. Asal, tetap menjaga batasan syar’i.”

Belum sempat ia balas, tampaknya sang perantara mulai gusar hingga akhirnya menelponnya.

”Mbak, saya menjadi perantara proses ini sungguh ingin mencari ridha Allah. Dan saya memang cukup yakin bahwa beliau bisa menjadi qowwam antunna. Tentang masa lalu, saya pikir itu tidak terlalu diambil pusing.”

Wanita itu hanya mencoba menahan tangisnya agar tidak terdengar dari sang perantara dan sang perantara melanjutkan petuahnya.

“Dulu, istri saya mengatakan kepada saya bahwa ia menerima saya utuh. Bukan hanya dengan sebagaimanapun masa lalu saya, tapi juga sebagaimanapun masa depan saya. Dan, saya juga berharap mbak bisa demikian atas beliau.”

Wanita itu sedikit bisa menenangkan diri meskipun agak gemetar menjawab. Ia tentu saja percaya atau bahasa lainnya tsiqah dengan perantara tersebut. Dengannya lah Allah memudahkan jalan menuju bahtera rumah tangganya. Ia sangat bersyukur bisa menjadi sekian dari wanita yang menuju rumah tangga dengan cara yang demikian, sungguh nikmat baginya meskipun ini tentu bukanlah jalan satu-satunya yang paling diridhai-Nya. Setiap orang punya cerita. Dan ia ingin citanya bisa terwujud karena cara inilah yang ia pahami bisa memberikan hikmah yang besar baginya.

“Bukan tentang masa lalu, Pak. Saya sudah mencukupkan masa lalu beliau. Tidak masalah bagi saya, seperti halnya perkataan beliau bahwa beliau sudah mencukupkan masa lalunya sebagai pembelajaran. Tidak lebih. Hanya saja, adakah jaminan bahwa saya tidak akan berada dalam bingkai emas sosok yang telah beliau ciptakan atas sosok mulia perempuan di masa lalunya itu?”
Perempuan itu sangat mulia di mata saya, bahkan memliki banyak yang tidak saya miliki. Dan keduanya berpisah bukan karena tidak saling ridha. Tapi karena ada hal lain yang lebih prioritas, Pak.”

Wanita itu masih saja tenggelam dalam opininya. Ia mencoba mengurai sendu hatinya.

“Tentang itu, beliau juga sudah menyampaikan melalui SMS bahwa beliau sudah yakin memilih antunna. Dan, bagaimanapun antunna adalah pintu syukur bagi beliau yang akan membuat beliau mencinta sepenuh jiwa. Mungkin SMS nya masih pending. Tadi sudah saya forward ke antunna.”

Sekitar satu hari menjelang khitbah, wanita itu malah meragu atas informasi dari seorang teman yang ia percaya netral berbicara, hingga akhirnya kisah masa lalu terbongkar. Ia berniat di awal tidak akan mencari rekomendasi atau informasi tambahan terkait lelaki itu hingga ia berpikiran ikhtiar harus pada titik akhirnya. Bahwa mengetahui sebelum memutuskan patut dilakukan. Lalu ia pun akhirnya  menghubungi seorang sahabat dari lelaki yang hendak meminangnya itu.

Keperawanan hati yang ia citakan, benarkah tidak bisa ia dapatkan dari seorang yang akan mengkhitbahnya? Padahal itulah yang menjadi puncak ridhanya agar seorang lelaki bisa menyandingnya. Yang ia dapatkan kini adalah lelaki dengan masa lalu dimana tiap pelaku masa lalu itu ia kenal dengan baik. Sangat akrab bahkan. Tak lain adalah teman berjuangnya. Ia tidak memungkiri bahwa perempuan masa lalu itu begitu indah yang juga membuat hatinya menciut. Bagaimana jika peran perempuan itu di hatinya tidak dapat tergantikan?

“Saya harap mbak bisa sedikit bijak. Saya khawatir keraguan ini adalah langkah syaitan untuk menjerumuskan hamba-Nya dalam beribadah,” kata bapak perantara itu.

Wanita itu tersadar sejenak akan niat awalnya. Mengapa harus ragu ketika ternyata hatinya sudah tidak perawan? Mungkin juga ini adalah ladang amal yang disiapkan baginya. Dimana di dalamnya akan terkuak hikmah yang ia cari. Mengapa harus bertinggi angan, bisa jadi semua itu tidak penting. Atas nama ukhuwah, sungguh, Salman Al Farisi pun menyerahkan wanita yang akan dilamarnya kepada Abu Darda. Ketika terjadi permasalahan rumah tangga mereka maka Salman pula yang mendamaikannya. Tidakkah wanita ini paham tentang makna ukhuwah? Tidakkah doa rabithah-nya menyinari sanubarinya?

Wanita ini dibesarkan pada akhir zaman, tapi tentu saja ingin meneladani sosok-sosok generasi terbaik. Masalahnya, tentu bukan menjadi masalah di masa generasi emas itu. Ini hanyalah masalah kecil. Namun, mungkin karena ia yang belum mendalami bagaimana sosok-sosok teladan itu berkiprah ia pun menjadi kurang bijak.

Kalau boleh dianalogikan, untuk masalah yang lebih berat, seperti halnya poligami, dimana di masa Rasulullah bukanlah suatu masalah. Namun, sekarang terasa kurang patut untuk dilakukan karena nilai sudah bergeser. Dan ia sebagai wanita, menghadapi masalahnya saja belum ridha apalagi perkara poligami. Masih lagi syariat lain yang harus ditunaikan sebagai seorang muslim. Ia ingat perkataan temannya yang shalih bahwa dasar yang dijadikan patokan adalah syariah, bukan kecenderungan zaman apalagi keinginan hati.

Dan wanita itu berazzam untuk membuka lembaran baru, mencukupkan pemahamannya atas keperawaan hati yang adalah cita-citanya demi hikmah yang lebih besar. Antara ukhuwah dan cinta.

“Ya Allah, tunjukilah aku ke jalan rahmat-Mu. Buatlah hatiku melunak karena iman kepada-Mu dengan mencintai saudaraku dan bukalah pintu cinta-Mu untuk membangun kehidupan baruku. Dan bimbinglah aku menepati bacaan doa rabithahku.

Dan wanita itu, Arliva, mencukupkan bimbangnya dengan menjawab kepada sang perantara bahwa ia mengizinkan lelaki yang hendak mengkhitbahnya datang ke rumah hingga bertemu dengan walinya untuk menegaskan bahwa wanita itu tidak halal dikhitbah oleh lelaki manapun selainnya.

“Aku akan mencoba menerimamu. Utuh, penuh, dan seluruh. Bukan hanya atas masa lalumu, tapi juga masa depanmu.

--fimadani--

Ketika Proposal itu Diminta (Bag.2)

Maka, Arliva akhirnya menyerahkan proposal tanpa foto kepada murabbiyah-ku. Di siang itu, setelah murabbiyah kami menunggunya selama dua hari hingga Arliva siap.

“Fotonya mana?” tanya murabbiyah-ku yang sangat ayu meskipun usianya hampir paruh baya.
“Hmm… Saya tidak punya ummi, nanti saya susulkan saja via email. InsyaAllah.” Jawabnya meski agak heran atas dirinya sendiri. Begitulah, ternyata saudariku ini baru sadar kalau ia tidak punya foto diri, dan dia memang termasuk tipikal yang jarang sadar kamera. Akhirnya saya ingat di dompet saya ada foto 3×4 dengan almamater untuk foto ijazah dan tentunya beliau juga punya.
“Ummi, kalau fotonya seperti ini boleh tidak?” tanyaku padanya.
Seperti biasa, beliau seringkali membalasnya dengan senyum tanpa gigi yang terlihat sebelum akhirnya menyampaikan pendapat.

“Kalo bisa yang satu badan ya. Close up.” Tutur beliau.
“Yang begini saja ya ummi. Saya malu kalau bentuknya seperti itu,” Arliva menawar.
Ummi sepertinya menangkap pesan hati saudari saya itu. Memang sudah menjadi tabiatnya demikian, pemalu kelas tinggi. Mau tidak mau ummi pun sepakat dengan syarat.
“Baiklah Arliva, tapi kalau nanti ada kesempatan, tolong fotonya diperbarui ya. Kan biasanya foto itu ga terlalu jelas berbicara, jadi kalau bisa dibuat sangat mewakili sebagai pertimbangan ikhwannya.”
“Agar tidak ada dusta di antara kita.” Tambahku
Haha… kami tertawa bersama.

Tradisi per-proposal-an ini sudah sekian lama populer di dunia keakhwatan. Karena ini adalah salah satu jalan menuju ridho-Nya yang dirasa paling pas dan aman dari ikhtilat antar lawan jenis. Proses penyampaiannya pun dibantu oleh perantara yang biasanya adalah murabbi.

Proposal itu, salah satu dari ribuan yang beredar, dibuat oleh Arliva selepas sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan tahun ini. Beliau mengiringi hari-hari pencarian inspirasi dengan membaca surat Yasin plus terjemahannya serta menghayati maknanya. Meskipun sadar bahwa secara material dan kasat mata, pernikahan mungkin akan datang agak lama, Arliva menunggu masa itu dengan doa.

Kini kesadaran bahwa kelak ia juga akan menikah menguat dalam diri. Kesadaran yang muncul setelah banyak temannya membicarakan tema tersebut,  lalu mencari banyak referensi tentangnya.  Al ukh ahli syuro banyak berdiskusi tentang tema itu, al ukh yang pandai menjahit telah menyusun pola gamis pengantinnya, al ukh yang jago nulis banyak menulis pula tentangnya. Yang terakhir, saudaranya yang satu itu, Ukhtina pemberani sudah menyodorkan proposal ke murabbiyahnya.
Jantung Arliva berdetak kuat. Subhanallah, pekiknya dalam hati. Dan, yang membuat ia terharu adalah ucapan al ukh pemberani itu saat menyerahkan proposal  kepada murabbiyah kami.
“Ummi, kami sudah membuatnya. InsyaAllah kami berupaya bersiap diri. Ini adalah secuil bukti betapa kami tsiqoh dengan ummi untuk mengarahkan bagian dari kehidupan kami selanjutnya.”

Merinding
Kini ia makin bisa merasakan jantungnya berdegup
Tsiqoh,
kata itu… sungguh sangatlah tinggi maknanya

Arliva termangu. Malu, bahkan kata itu diucapkan oleh al ukh yang usianya lebih muda darinya. Sungguh bijaksana sekali. Setelahnya, ada al ukh lain yang menyusul. Arliva makin kagum dengan saudari-saudarinya satu lingkaran itu. Beginilah tarbiyah akhirnya mewarnai mereka. Dan Arliva, sekali lagi, memang sudah menjadi tabiatnya, terdiam, tanpa ekspresi. Hanya ingin merasakan tanpa bicara. Tingkah polah inilah yang sering membuat saudarinya bertanya-tanya dan seringkali pula salah paham. Satu ungkapan baginya yang tak kasat mata, bahwa ‘Perjuangan adalah Melaksanakan Kata-Kata.’ Kata eksotik yang dia dapatkan dari sebuah organisasi kampusnya, tempat pabrik kata-kata yang kadang pabrik itu tidak diawasi apakah benar sudah melaksanakan kata-katanya sendiri?

Bisa jadi, pabrik kata -pengemas aksara itu tidak memahami apa yang mereka katakan sendiri. Arliva, sepertinya larut dalam kata eksotik tadi. Menjadikannya banyak diam tanpa kata. Membuatnya termangu dari tiap peristiwa. Hanya bisa merasa tanpa ingin banyak bertutur kata. Demikianlah, rona hatinya bicara. Dan tentunya, suatu saat nanti, ketika porsi dan waktunya untuk bicara telah tepat, Arliva ingin sekali bersuara berbagi hikmah apapun yang terkumpul pada kantong pencariannya.

Ia makin menyadari tema tahun ini adalah merah jambu. Sangat indah pendarnya. Gradasi warnanya memukau hati yang rindu akan suatu sosok samar yang tak jelas siapa. Fastaqbikhul khoirot menyambut seruan menggenapkan separuh agama terasa kental di sanubarinya. Namun, soliditas tekadnya untuk membersamai teman-temannya belum tergambar nyata. Telah berkali-kali ia membaca contoh format proposal, namun tetap saja belum mendapatkan inspirasi.

Dalam diskusi mereka iapun memilih diam dan menjadi pendengar yang baik. Tentu saja sikap itu memancing  al ukh pemberani naik pitam. “Kenapa sih diam saja. Itu membuat saya tidak nyaman. Saya yakin pasti ada pendapat.” Sanggahnya atas sikap Arliva.

Arliva tidak enak hati. Ia mencoba menjawab semungkinnya agar tidak ada prasangka. “ Afwan sekali, bukan maksud saya. Hanya saja, satu kalimat di sanubari saya,
bahwa masa itu….
bagi saya…..
masih jauh…” jawabnya sepotong demi sepotong
“Saya butuh persiapan banyak. Bahkan, sampai sekarang saya belum membaca buku tentang nikah. Just feeling saja, saya harus banyak berbenah.” Lanjutnya.

Huff… Arliva sedikit lega. Namun, al Ukh sepertinya tidak sepakat. “Ukh, maksud diskusi kita adalah untuk pembelajaran. Bukan masalah cepat atau lambat jodoh kita. Itu urusan Allah. Namun, kita sangat perlu membicarakan ini. Saya sudah biasa menerawang jauh. Dan seringnya saya bisa melihat apa yang seringkali belum bisa dilihat oleh yang lain. Itu yang sering tidak kalian pahami atas saya.” Tukasnya dengan nada menegaskan. Tipikal ahli syuro dan pemberani memang al ukh ini.

Kini Arliva hanya bisa termangu. Baiklah ukhti, saya sangat sepakat antunna begitu visioner. Namun, tentang pernikahan, entah mengapa hati ini masih ingin tenang saja dalam memikirkannya, tidak ingin membahasnya panjang lebar ataupun berkata indah tentangnya. Batin Elvira.

Arliva menerawang. Mencoba mencari bahasa yang paling tepat atas diamnya. Tentu saja dia juga punya pendapat. Tapi ketika pendapat itu disampaikan, malah akan jauh dari alur topik yang dibicarakan oleh saudari-saudarinya itu. Baginya, kunci pernikahan itu sederhana. Yang mungkin berbeda dengan yang lain.

Pernikahan adalah masalah rasa, bukan fikriyah. Bahwa kadang hanya butuh doa di awal sebagai peletup ihkhtiar sebelum merasa telah banyak ilmu terkait tentangnya. Karena pernikahan adalah masalah esensial yang tiap orang berbeda cerita. Bahkan, membaca buku pernikahan hanyalah sekian persen dari persiapan itu. Sangat belum cukup. Lantas pula kita harus memilah mana yang perlu kita tindaklanjuti terkait kesesuaian dengan kondisi kita dan keluarga.

Intinya, Arliva belum ingin membuat bangunan mimpi tentang bagaimana, seperti apa, bisa apa jodohnya nanti. Arliva pun tidak ambil pusing bagaimana jika begini, bagaimana pula jika begitu. Ini pula yang membuatnya heran. Kok hanya segini pemikirannya tentang hal besar bernama pernikahan?

Arliva pun berupaya makin memahami darimana ia harus memulai jika harus berfikir tentang menikah. Hingga, adapula al ukh yang mengatakan, prosesnya tidak seperti yang beliau bayangkan sebelumnya. “Saya ingin merevisi buku yang dulu saya baca. Harus ada buku yang mengungkapkan apa yang kurang ideal. Seperti proses yang saya jalani ini. Ternyata sangat melelahkan” cerita beliau.

Hingga ia lebih memilih bersimpuh menangis tersedu pada sepertiga malam terakhir bulan puasa tahun ini. Ketika itu, ia berkesempatan pulang ke rumah karena liburan panjang yang sangat menggembirakan bagi mahasiswa sepertinya.

Menangis sejadi-jadinya menurutnya lebih nyaman daripada berdiskusi masalah nikah. Karena menurutnya, ini masalah hati. Masalah citarasa. Muaranya adalah pada kemantapan, bukan teori ataupun penampakan kasat mata.  Tentang fiqh-nya, InsyaAllah akan bisa dipelajari setelah hati menerimanya. Sedu sedan tangisnya ia sembunyikan dari tidur ayah ibunya. Doa lirih ia panjatkan malam itu, saat. Arliva hanyalah seorang pemalu yang sangat takjub dengan upaya teman-temannya.

Bisa jadi yang menikah dulu adalah Al Ukh  ahlul syuro itu, yang begitu kuat pendapatnya. Hmm, bisa jadi pula Al Ukh yang pandai memasak dan menjahit, sedang parasnya sangat cantik merona. Atau, pikirnya, Al ukh manis kekanakan yang sangat pandai mempertahankan indeks prestasinya pada jajaran mahasiswa cumlaude. Atau, bisa jadi murabbiyah-nya memprioritaskan Al Ukh yang lebih tinggi usianya. Hmm, bisa jadi mereka-mereka itu. Jadi, masa Arliva masih jauh.

Enam halaman hasil perenungan berisi data singkat dan uraian cerita pada halaman kelima dan keenam sebagai modal menuju Ridlo-Nya.

Ya Allah, sungguh aku hanyalah wanita sederhana yang sepertinya, setahu saya tidak punya kelebihan menonjol
Engkau yang paling tahu simpuhku pada-Mu tiga tahun lalu
Engkaulah yang memahami sedu sedan tangisku tempo dulu
Bahwa aku ingin di sini karena dakwah kepada-Mu. Aku ingin kuliah di sini karena-Mu Ya Allah. Karena ini adalah muara segala masalahku saat itu.
Hingga Engkau memberikan nikmat-Mu yang sangat agung kepada salah seorang hamba-Mu ini
Ya Allah, segala dayaku telah aku kerahkan untuk menuju ridlo-Mu. Namun, ternyata di sini sangat lain dengan tempatku sebelumnya.
Ya Allah aku sangat ingat akan kata-kata seniorku. Pertahankan akademis dengan raih IP 3. Pokoknya minimal 3 dan carilah medan dakwah seluasnya. Jadilah petarung dalam dakwah-Nya.
Dan kesalahanku adalah, atas ketidaksyukuranku, atas kebodohanku, aku akhirnya salah memahami kata itu. Hingga aku puas dengan IP 3 koma dan meninggalkan persaingan meraih yang lebih baik. Sungguh, aku merasa jauh dari syukurku atas jalan yang telah kau tetapkan Allah, karena saat itu, jalanku bersyukur seharusnya adalah memperjuangkan apapun yang bisa diperjuangkan. Poin inilah salahku Ya Allah. Bukan tentang hasil yang kuraih, namun sikap hatiku.
Aku berlindung kepada-Mu dari segala tindakanku yang berlebihan. Ampuni aku Ya Allah
Sakit hati ini, jika salah seorang yang mengatakan berdakwah di jalan Allah namun lalai dari kewajiban.
Lalai dari belajar
Hingga semua itu melemahkan aku dengan sendirinya
Tapi, Allah, bolehkah aku membela diri?
Semua itu, yang dulu kulakukan adalah untuk-Mu Ya Allah, bukan karena malas
Ups…mungkin ada malas. Tentu saja ada….
Tapi sedikit Ya Allah, atau mungkin yang sedikit bagiku itu banyak bagi-Mu Allah?
Pliss…ampuni aku. Bukankah ampun-Mu lebih besar dari dosa hamba-hamba-Mu? Maka tujukilah aku jalan untuk memperbaiki diri ya Allah
Arliva menyeka tangisnya
Ehmmm… Ya Allah jika, memang menikah adalah jalan memperbaiki diri yang paling ampuh. Jika memang menikah adalah solusinya, meski aku belum banyak paham; Tentu saja Engkau akan memudahkannya bukan? Membuka jalan yang sebelumnya tampak tertutup, bahkan Engkau akan memberi sesuatu yang tidak terduga. Ampuni aku Ya Allah…. Plizzz….

Dan…. Arliva tertidur… Plizzz Ya Allah… Plizzz… Matanya terpejam dengan suara yang makin lirih.
Dua pekan setelahnya. Di atas bus yang mengantarkannya kembali ke kampusnya, sebuah pesan singkat di handphone-nya ia baca.

Assalamualaykum wr wb. Arliva, afwan bisa kita bertemu besuk pagi? Sekalian proposalnya dibawa ya
Arliva membalasnya.  Afwan ummi, maksudnya bagaimana? Proposal? Saya takut saya ke GR-an ummi. Jadi tolong dijelaskan lebih banyak ya ummi.

Beberapa detik kemudian, Umi menanggapi. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Menurut saya sudah sangat jelas. Datang saja besok ya, di tempat yang telah saya sampaikan tadi.
Inikah cobaan atau inikah kebaikan yang banyak dari-Nya? Hanya Allah yang Maha Tahu. Dan, Alvira mencoba menepati janjinya itu.

--fimadani--

Sang Murabbi, KH Rahmat Abdullah

Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam.

Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya.

Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk sekolah dasar negeri di bilangan Kuningan, yang kala itu masih berupa perkampungan Betawi, belum berdiri gedung-gedung pencakar langit. Dan seperti umumnya generasi saat itu, Rahmat kecil setiap pagi mengaji (belajar membaca Al Quran, baca tulis Arab, kajian aqidah, akhlaq & fiqh dengan metode baca kitab berbahasa Arab, nukil terjemah dan syarah ustadz) baru siang harinya dilanjutkan dengan sekolah dasar.

Tahun 1966, setelah lulus SD, yang tahun ajarannya diperpanjang setengah tahun karena terjadi peristiwa G-30-S/PKI, Rahmat masuk SMP. Tapi kali ini ia mesti keluar lagi karena terjadi dilema dalam dirinya. Ironi memang, di satu sisi keaktifan dirinya sebagai aktifis demonstran anggota KAPPI & KAMI yang dikenal sebagai angkatan 66, namun di hari Jum’at sekolahnya justru masuk pukul 11.30, tepat saat shalat Jum’at.

Karenanya pada permulaan tahun ajaran berikutnya (1967/1968) Rahmat memutuskan pindah ke Ma’had Assyafi’iyah, Bali Matraman. Dari hasil test dan interview, ia harus duduk di kelas II Madrasah Ibtidaiyah (tingkat SD). Namun Rahmat tidak puas dengan hasil itu, ia mencoba melakukan lobby dengan seorang ustadz, untuk melakukan test ulang hingga ia pindah duduk di kelas III.

Permulaan belajar di Ma’had ini, bagi Rahmat begitu berbekas. Apalagi ia harus ikut mengaji pada seorang ustadz senior Madrasah Tsanawiyah (Tingkat SMP) yang sangat streng dalam berbicara dan mengajar dengan bahasa Arab. Namun tak selang lama, ternyata sang guru kelas ini justru sama-sama mengaji bersamanya.

Rahmat memang langsung meloncat naik ke kelas V, di sinilah ia belajar ilmu nahwu dasar yang sangat ia sukai karena dengan ilmu itu terkuaklah setiap misteri intonasi dan narasi penyiar Shauth Indonesia, yang sering disiarkan oleh radio RRI dengan berbahasa Arab. Siaran inilah yang menjadi acara kesukaan Rahmat. Sehingga meski hidupnya serba kekurangan, namun karena sadar akan pentingnya komunikasi dan informasi, Rahmat merelakan uang makannya untuk dikumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jerih payahnya mencari pelanggan sablon, untuk membeli radio. Padahal saat itu, radio masih menjadi status simbol bagi orang-orang kaya zaman itu.

Selepas kelas V, Rahmat melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Assyafi’iyah. Di MTs ini ia belajar ushul fiqh, musthalah hadits, psikologi & ilmu pendidikan, di samping tetap belajar ilmu nahwu, sharf dan balaghah. Tapi pelajaran yang paling ia sukai adalah talaqqi. Biasanya talaqqi ini dilakukan langsung dengan para masyaikh (kiai) serta bimbingan langsung sang orator pembangkit semangat yang selalu memberikan inspirasi Rahmat muda, KH Abdullah Syafi’i.

Di saat ini pula Rahmat merintis dakwah dengan mengajar di Ma’had Asyafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet Kuningan. Di tempat inilah Rahmat remaja mengabdikan dirinya sebagai guru, pendidik dan mengajarkan berbagai ilmu. Keseharian ini ia jalani bertahun-tahun dengan berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Bahkan untuk memberikan pelajaran tambahan berupa les privat pun ia lakukan dengan berjalan kaki masuk ke lorong-lorong jalanan Jakarta hingga larut malam.

Semangat hidup dan dakwah ini juga ia tuangkan dalam berbagai untaian bait-bait syair, puisi serta berbagai tulisan artikel kecil yang ia kirim ke berbagai media. Tak jarang ia juga berlatih bermain teater bersama rekan-rekan guru atau teman-teman seperjuangannya.

Dari jerih payah inilah, selain bisa membeli sebuah motor Honda 66 atau sering disebut motor Chips, Rahmat Abdullah mampu mengasah watak dan pikirannya sehingga menjadi murid terbaik dan murid kesayangan dari KH. Abdullah Syafi’i. Bahkan sempat pada tahun 1980, bersama empat rekannya mau diberangkatkan ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir, namun sayang gagal karena adanya ‘fitnah’ dari kalangan internal.

Namun hal itu tak menyurutkan Rahmat untuk selalu belajar. Sejak berkenalan dengan Syeikh Mesir yang pernah dikenalkan KH. Abdullah Syafi’i padanya, ia mulai senang melahap berbagai buku dan pemikiran Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Maududi serta tokoh nasional seperti HOS Cokroaminoto dan M. Natsir.

Sedang dari perjalanan dakwah bersama remaja-remaja Kuningan, menjadikannya sangat suka kala berdiskusi dan berguru dengan tokoh-tokoh M Natsir, Mohammad Roem ataupun Syafrudin Prawiranegara. Rahmat pun mengakui secara terus terang mengadopsi logika dan metode orasi yang ia ambil dari sang orator Isa Anshari dan Buya Hamka serta sang gurunya sendiri, Abdullah Syafi’i yang masyhur dengan teriakan lantang penggugah jiwa.

Rahmat remaja meski dikenal sebagai demonstran tapi sosoknya dikenal lembut, bahkan dianggapnya seringkali tidak bisa marah. Kemarahannya akan terlihat meledak jika Islam dilecehkan. Sebagaimana saat mendengar pembicaraan sang kakak, Rahmi, saat meminta kolega bisnisnya yang bekerja sebagai Kopasanda -Kopassus- untuk melunasi hutangnya. Tapi Kopassanda malah menjawab, “Nabi saja bisa meleset janjinya.” Kontan mendengar pernyataan itu Rahmat keluar dari ruangan samping dan langsung berucap, “Nabi yang mana janjinya tidak tepat,” Kopasanda itu malah menjawab, “Anda ndak usah ikut campur dengan urusan ini.” Rahmat remaja langsung menyambut, “Suara Bapak terdengar di telinga saya di sini, sekali pun bapak berpakaian dinas, nabi yang mana yang ingkar janji itu,” ujar Rahmat menahan emosi. Akhirnya Kopasanda itu minta maaf.

Sikap tegas ini lah yang menjadikan Rahmat Abdullah muda sangat disegani para pemabok ataupun preman. Karena caranya mendekati yang bersahabat. Bahkan, meski pernah kakaknya disakiti jagoan Kuningan waktu itu, H. Hamdani, ia tetap bisa menghadapinya dengan baik. Malah anak jagoan itu yang kemudian sempat ditahan polisi.

Anak-anak muda, preman, seniman semuanya ia rangkul terutama dalam wadah seni teater yang sering ia gelar di lapangan depan masjid Raudhtul Fallah —lapangan yang berada di belakang Dubes Malaysia saat ini-. Di tempat inilah Rahmat muda sering mengekspresikan syair dan puisinya serta peranan imajinasi dan pemikirannya sebagai sutradara teater dengan menggelar pagelaran teater drama terbuka. Teater yang terakhir kali ia pentaskan berjudul “Perang Yarmuk” yang tampil bersama Abdullah Hehamahua (1984). Dimana pementasannya sempat dikepung oleh intel dan aparat keamanan karena dianggap subversif di masa kekuasan Suharto.

Selepas pentas pun, tak ayal Rahmat dipanggil untuk menghadap KODIM. Namun Rahmat justru menjawab “Kalau yang memanggil Ibu, saya akan datang. Kalau yang memanggil KODIM sampai kapan pun saya tak akan pernah datang. Kalau mau saya datang ke KODIM, datang dulu ke ibu saya,” ungkap Rahmat muda menjawab aparat dari kodim yang melayangkan surat panggilannya. Bahkan salah satu aparat KODIM, Soeryat, sempat menangis di hadapan Rahmat muda karena nasehat-nasehatnya agar tidak saling ‘memberangus’ sesama Muslim.

Keasyikan menceburkan diri dalam dakwah, rupanya menjadikan Rahmat tak sadar telah dimakan usia. Rahmat baru tersadar ketika seorang teman yang baru menikah mengingatkan sudah waktunya memikirkan bangunan rumah tangga. Barulah ia menyadari usianya sudah memasuki tahun ke-32.

Malam itu, malam Kamis 14 Ramadhan 1405 H. (1984 M), bertiga; Rahmat, ibunda dan bibi datang mengkhitbah seorang anak yang pernah menjadi muridnya, Sumarni, tatkala Rahmat duduk di kelas II MTs. Saat itu Sumarni masih menjadi siswi kelas I Madrasah Ibtidaiyah (lk. Umur 5 tahun). Ia adalah sang nominator juara I untuk lomba praktik ibadah.

Saat berlangsungnya khitbah, ketika keluarga Rahmat mengajukan usulan walimah bulan Syawal seperti kebiasaan Rasululllah saw, seorang ustadz wakil dari perempuan mengatakan, “Itu tetap walimah, tetapi Anda tidak akan menemukan keberkahan seperti bulan (Ramadhan) ini.” Akhirnya, disepakati untuk nikah besok malamnya, malam Jum’at 15 Ramadhan. “Soal KUA urusan Ane, tinggal terima surat aje,” ujar ustadz tadi. “Bah, ini rada-rada ketemu,” ujar Rahmat muda dalam hati.

Walhasil sampai menjelang rombongan berangkat 15 Ramadhan itu, masih ada teman pemuda masjid yang bertanya, “Ini mau kemana sih?” Apalagi suasana saat itu memang masih represif. Bahkan belum sebulan menikah, di pagi buta ba’da subuh sesaat setelah peristiwa Tanjung Periok, Rahmat telah dijemput untuk mendengarkan rekaman peristiwa penembakan massa di Tanjung Priok yang terjadi semalam. Pagi itu lelaki yang sudah mulai akrab dipanggil Ustadz Rahmat itu, bersama pemuda Islam lainnya langsung meninjau lokasi yang porak poranda. Mendengar peristiwa itu pun, sang mertua justru mengusulkan untuk selalu membawa sang isteri untuk diajak juga keliling berbagai kota di Jawa. “Untuk penjajagan sikap ummat dan apa yang kerennya disebut ‘konsolidasi’lah,” ujar Ustadz Rahmat saat diwawancarai beberapa saat lalu.

Setelah menikah, ia tinggal di Kuningan, bersama Ibu dan Adiknya. Hingga lahir tiga orang anaknya, Shofwatul Fida (19), Thoriq Audah (17) dan Nusaibatul Hima (15).
Pada pertengahan tahun 80-an Rahmat muda bergabung dengan Harakah Islamiyah yang saat itu tumbuh berkembang di Indonesia. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin dan beberapa tokoh pemuda Islam lainnya terus bersatu bergerak dalam dakwah yang lebih luas dan tertata. Gerakan dakwahnya ini lebih terinspirasi pada gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan Al Banna di Mesir yang sama-sama menjadi acuan kalangan muda saat itu

Pemikiran Hasan Al Banna yang telah lama menginspirasi dakwah pribadinya kini telah bertemu implementasinya bersama teman-teman yang merintis pendidikan dan kaderisasi dalam rangka penyadaran akan Islam dan mempertahankan kemurniannya. Di wadah baru inilah Rahmat selain berdiskusi, mengakses berbagai informasi tanpa melalaikan fungsi utama juga sebagai pendidik, penceramah, Rahmat merintis sebuah majalah Islam yang sangat disukai dan digemari kalangan muda. Namun sayang, saluran ekspresi pemikirannya itu harus dibredel di saat rezim orde baru mulai mengkhawatirkan kiprahnya. Namun pembredelan itu tak menyurutkan Rahmat untuk membuka lembaran baru berekspresi dalam dakwah.

Dan setelah 8 tahun menetap di Kuningan, ia mengontrak di Jl. Potlot I/ 29 RT 2 RW 3 Duren Tiga, Kalibata. Di sana lahir anaknya, Isda Ilaiha (13). Tapi panggilan dakwah sepertinya lebih memanggilnya. Tahun 1993 bersama murid-muridnya mencoba membangun pengembangan dunia pendidikan dan sosial dengan mendirikan Islamic Center Iqro’ yang terletak di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.

Di sini pula ia menetap dan memboyong keluarganya dari kontrakannya di Gang Potlot, Duren Tiga, Kalibata menuju tanah yang masih penuh rawa untuk berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian kitab-kitab klasik dan kontemporer. Di tempat terakhir ini merintis segala impian dan lahir anak-anaknya, Umaimatul Wafa (11), Majdi Hafizhurrahman (9), Hasnan Fakhrul Ahmadi(7).Di sini kesibukannya, semakin padat. Tetapi, kebiasaan pribadinya, untuk membaca, mengkaji Al Qur’an dan Tafsirnya, Hadits dan syarahnya tetap berjalan. Begitupun, kegiatannya mengisi pengajian di kantor, kampus, serta melayani berbagai macam konsultasi sejak lepas subuh hingga jam 08.00 pagi. Ditambah lagi kesibukan di Iqro’.

Bahkan, kegiatan rutin ini tetap ia jalani meskipun semenjak tahun 1999 ia diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan. Demikian juga saat beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera yang ia dirikan bersama teman-teman seperjuangan setelah lebih dari 10 tahun ia rintis.

Pada tahun 2004 sang aktivis demonstrasi, budayawan, filosof, guru dan pendidik yang disegani anak muda ini harus masuk ke gedung parlemen. Ustadz Rahmat terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan baru pada saat Ustadz Rahmat Abdullah mencalonkan diri inilah Bandung untuk pertama kalinya dimenangkan partai Islam.

Meskipun telah menjadi wakil rakyat, Ustadz Rahmat dikenal dikalangan Komisi III sebagai wakil rakyat yang tetap bersuara lantang, namun penuh santun dan filosofis sekaligus puitis dalam mengkritisi setiap kabijakan. Tak peduli menteri, presiden dan pejabat manapun ia sampaikan kritikan tajam membangunnya yang seringkali menjadi wacana baru bagi para pemimpin negeri ini.

Bahkan jabatan terakhir sebagai Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera ia emban dengan penuh amanah dan luapan semangat hingga akhir hayatnya saat ia harus dijemput kematian sesaat setelah berwudhu hendak menunaikan penghambaan pada sang Khalik, Selasa (14/6).

Sebuah harapan yang mungkin telah engkau ungkapkan sepekan sebelum dirimu meninggal. Dimana tidak biasanya dirimu ditegur isterimu ketika membuka album-album kenanganmu. “Lihat nih, orang Betawi kini telah keliling dunia, ke Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Amerika juga Makkah. Tinggal ke akheratnya saja yang belum,” ujarmu berseloroh yang kini telah kau buktikan.

Demikian biografi singkat KH Rahmat Abdullah, semoga Allah melapangkan kuburnya, yang kami kutip dari warisansangmurabbi.com.

Nutrisi Pendongkrak Stamina Pasangan Samara

www.fimadani.com
Siapa bilang ngomongin urusan ranjang itu tidak penting? Dalam setiap kali mengisi majelis taklim, begitu banyak saya terima curhat mengenai ketidakharmonisan ikatan rumah tangga. Awalnya mereka malu-malu mengungkap akar penyebabnya dengan mengatakan bahwa faktor pemicunya adalah masalah ekonomi atau ‘ketidakcocokan’. Tetapi setiap kali curhat ditindaklanjuti secara pribadi, mayoritas jamaah akhirnya berterus terang bahwa urusan ranjanglah yang menjadi pemicu.


Dari ketidakharmonisan, suami jadi malas bekerja, ingin poligami, sering uring-uringan, lebih asyik chatting di FB, SMS-an atau BBM-an, lebih suka nonton Liga Inggris dibanding menemani lelap istri, dan seabreg keluhan lain. Sebaliknya, suami yang kurang menaruh perhatian pada urusan ranjang telah menjadikan isterinya tidak bersemangat melayani, berlama-lama nonton sinetron agar suami tidur duluan, menyibukkan diri beraktivitas sebagai pelarian, bahkan tertekan batinnya hingga sakit-sakitan.

Apakah peristiwa itu tidak akan melanda pasangan du’at? Seorang istri ustadz bahkan pernah nyeplos “Kalau bukan karena memenuhi kewajiban, sebenarnya malas juga siih”. Nah loh..

Keperkasaan seorang laki-laki sebetulnya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu  kesehatan fisik dan sikap mental positif. Hal ini pun berlaku untuk para ummahat. Hasrat seksual pasangan samara akan selalu terjaga bila keduanya memperhatikan kesehatan fisik dan mental. Kesehatan fisik diperoleh dari gaya hidup sehat diantaranya yaitu olahraga teratur, istirahat cukup dan asupan nutrisi yang  seimbang. Sedangkan kesehatan mental akan terwujud jika keduanya selalu dekat dengan Allah SWT, selalu berfikir positif, bersyukur dan senantiasa menjaga keikhlasan.

Sebenarnya Anda tidak memerlukan obat kuat untuk mendokrak stamina seksual Anda. Itu cukup Anda dapatkan dengan memperhatikan keseimbangan dan kebutuhan nutrisi yang di perlukan. Namun Anda juga jangan terburu-buru mempercayai khasiat makanan tertentu yang dipercaya dapat mendongkrak hasrat seksual Anda harus bijak memilih-milih makanan tersebut. Makanan peningkat libido bukanlah makanan atau herbal yang aneh-aneh dan sulit Anda dapatkan (misalnya kaum pria yang terperangkap mitos tentang keampuhan tangkur buaya, sumsum tulang kambing, sate kambing muda dll).
Jika dilihat dari kandungan zat gizinya, untuk mendongkrak stamina seksual Anda hanya membutuhkan :
  • Vitamin A
Vitamin ini sangat berperan sebagai penghasil sperma yang sehat dan kuat,  mengelola testis agar tetap sehat, serta menghasilkan hormon seks baik pada laki–laki maupun perempuan. Hormon inilah yang mengatur hasrat/keinginan  seks. Sumber vitamin A terbesar terdapat pada minyak ikan, ikan herring, mackerel, dan kerang–kerangan/tiram, hati, telur, kuning telur, keju, mentega, labu kuning, wortel dan tomat masak.
  • Vitamin B
Vitamin B berhubungan dengan produksi energi, metabolisme dan sintesis hormon. Vitamin B sangat penting untuk kesehatan dan fungsi sistem syaraf. Kekurangan sistem sensor akan menyebabkan kurangnya pemenuhan hasrat sex. Rendahnya asupan vitamin B pada tubuh maka rendah pula hormon sex dan libido. Sumber vitamin B adalah kacang tanah, asparagus, buncis, nanas, gandum, nasi merah dan biji-bijian lainnya.
  • Vitamin C
Vitamin C selalu membuat berbagai kelenjar sex bergerak secara teratur. Banyak penelitian yang menyatakan hubungan antara vitamin C yang dapat meningkatkan produksi nitric oxide yang memperlancar dan memperlebar  aliran darah untuk organ sex.
Peningkatan asupan vitamin C akan membantu meningkatkan volume semen. Hasil penelitian menunjukan asupan vitamin C 500–1000 mg per hari akan meningkatkan jumlah dan kualitas produksi sperma dan mengurangi keabnormalan. Itu akan membuat sperma tetap kuat dengan melindungi sel–sel dari radikal bebas.
Sumber vitamin C pada umunya hanya terdapat dalam sayur dan buah, terutama yang terasa asam, seperti jeruk, nenas, rambutan, pepaya, dan tomat. Pada Sayuran terdapat pada daun–daunan hijau, cabe, paprika, serta jenis kol.
  • Vitamin E (Tokoferol)
Vitamin E membantu produksi hormon sex dan membantu dalam atraksi sex, hasrat serta mood yang secara tidak langsung memberikan dorongan aktifitas seksual yang tahan lama. Pria yang kekurangan vitamin E, akan berakibat testisnya menyusut. Penurunan libido pada wanita kadang menjadi tanda penurunan jumlah hormon. Asupan vitamin E dapat membantu memudahkan keseimbangan hormonal ini.
Sumber vitamin E terbanyak pada minyak kecambah, gandum, biji-bijan, minyak kelapa dan zaitun. Dalam jumlah terbatas vitamin E juga terdapat pada unggas, daging, ikan serta kacang–kacangan.
  • Zinc
Zinc dapat mencegah bahkan mengobati infertilitas. Rendahnya kadar Zinc berhubungan dengan keterlambatan kematangan organ sex. Zinc dapat meningkatkan hormon sex dan meningkatkan sperma. Bagi wanita, kekurangan zinc akan menyebabkan rendahnya libido, serta kekurangan lubricating vagina.
Sumber Zinc yang utama adalah tiram/kerang, ayam, daging sapi, domba,telur, beras merah, sereal, kemiri, kacang mete, mentega kacang tanah, keju, susu, dan sayuran hijau.
  • Mangan
Mangan dibutuhkan untuk mengurai protein menjadi hormon sex. Hal ini berefek positif untuk libido dengan meningkatkan energi dan meningkatkan fungsi otak untuk mengirimkan pesan. Mangan juga membantu organ reproduksi (jaringan dan syaraf) agar tetap berfungsi. Jika tubuh kekurangan mangan maka kesuburan pada wanita akan menurun  dan ketidakseimbangan hormon pada laki–laki dimana sangat mempenaruhi libido. Sumber mangan adalah bayam, mete,  sereal, gandum, kismis, nanas, buncis, kacang polong.
Vitamin C, B1, K, dan Zinc akan membantu penyerapan mangan. Namun kadar kalsium dan phospor di dalam tubuh yang berlebihan akan mengganggu penyerapan Mangan.
  • Selenium
Selenium merupakan mineral yang sangat penting untuk seluruh fungsi organ dalam tubuh dan dapat ditemukan di seluruh sel, terutama dalam ginjal, liver, limpa, pankreas, dan testis. Pada laki–laki, simpanan terbanyak terdapat pada testis dan kelenjar prostat.
Hal yang paling penting dari Selenium adalah dapat meningkatkan kesuburan pada wanita dan laki–laki. Sumber  Selenium terpenting adalah terigu, beras merah, gandum, sereal, roti, biji wijen, bawang putih, brokoli, jamur, anggur merah,  tiram/kerang, lobsters, ikan tuna, ikan herring, telur, ayam, daging sapi, dan hati
  • Magnesium
Fungsi magnesium selain untuk mengoptimalkan produksi hormon sex (androgen, estrogen, dan neurotransmitter) juga mengatur dopamin dan epinephrin, serta transportasi oksigen dalam sel. Magnesium membatu relaksasi yang hal ini sangat penting untuk kehangatan di atas ranjang.
Sumber magnesium adalah brokoli, buncis, ikan kacang-kacangan tiram, kulit pisang raja, remis, kac kedele, bayam, tofu, sayuran, rumput laut, sea food, sayuran daun hijau, dan oat.
Selain vitamin dan mineral di atas, protein dan lemak jangan sampai Anda lewatkan dalam menu sehari–hari karena protein mengandung asam amino L-Arginin yang membantu memproduksi nictric oxide yang memiliki peranan penting dalam fungsi seksual.

Jadi, mulai sekarang, Anda tidak perlu ragu untuk memasukan bawang putih, terong ungu, pisang, pare, seledri, jahe, alpukat, brokoli, wortel, kacang almond, kacang mete, madu, kurma, coklat dan sea food dalam menu harian Anda. Bagi para ikhwan, itu jauh lebih sehat dibanding aneka herbal dan ramuan dengan aneka bualan dan rayuan pedagangnya.
Komunikasi Anda dan pasangan akan semakin harmonis manakala hasrat seksual Anda terpenuhi dengan tuntas. Anda dan pasangan akan semakin bersinergi dalam mengemban amanah dalam rumah tangga maupun dalam berdakwah.    

Perubahan Itu Keharusan, Bukan Pilihan !

dakwatuna.com  

Lusuh… kumal… dekil…  Itulah kesan pertama yang nampak dari pria tua itu. Rambutnya yang putih dan kulitnya yang mengerut nan legam, semakin menyemburatkan kerentaannya. Ditemani asap rokok yang mengepul dari mulutnya, pria tua besar itu beraksi laksana seorang aktor. Wajahnya dibuat memelas agar menggoda kantong para penumpang Transjakarta untuk memberi ala kadarnya. Itulah senjata utamanya, selain topi ’kotak amal’ yang setia menemaninya.

Tidak jauh dari situ, seorang nenek nan tua, kurus, berkerudung jingga melangkah tegar. Seolah-olah dia sedang menunjukkan kekuatan dirinya yang tidak takluk dengan keganasan zaman. Sambil menggenggam erat karung putih yang dipanggul, tapaknya pasti menggetarkan bumi. Matanya nanar memandang tajam, mencari kepingan-kepingan gelas plastik dan rongsokan lainnya untuk ditukar dengan rupiah. Dengan sabarnya, ia kumpulkan sedikit demi sedikit ’sampah’ air minum mineral tersebut, hingga memenuhi karung yang tak pernah lepas dari punggungnya itu. Dalam hatinya dia berujar, ”meskipun dunia terus menghinanya dengan berbagai kemelaratan, Aku tidak akan merendahkan diri dan kalah dalam pertarungan hidup ini.” Senandungnya dalam jiwa.

Jika dicermati, kedua insan ini nyaris memiliki kesamaan. Dalam hal umur, lebih dari setengah abad kehidupan sama-sama mereka lalui. Telah banyak cerita kehidupan yang mereka gambar menjadi drama tak bertuan yang tersimpan di nurani. Pun begitu dilihat dari segi nasib. Mereka masuk dalam ’kotak’ kaum marginal yang tak disahabati alam, tak dicintai kehidupan.

Perbedaan kedua orang renta ini hanya pada perjuangan. Kakek tua yang meskipun nampak renta, namun dari ketegapan tubuhnya tersirat tenaga yang luar biasa. Meski sungguh disayangkan, kemampuan itu tertutupi dengan keputusasaannya atau justru dengan kemalasannya. Sehingga kemudian, sang kakek memilih menjadi pengumpul ’rupiah’ keikhlasan.

Berbeda dengan sang nenek pejuang. Meskipun sekujur tubuhnya dibanjiri otot sebagai bentuk ’protes’ tubuh yang terus dieksploitasi tanpa henti, Semangat berjuangnya terus hidup dan mengalahkan kerentaannya tersebut.  Nenek itu telah menjadi menara kokoh yang ujungnya tak mampu diguncangkan gempa sekalipun. Dia yakin bahwa perubahan akan datang pada setiap jasad yang berusaha keras untuk mencapainya.

Kita tilik benak sang nenek tua. Mungkin nuraninya rutin berujar bahwa kelelahannya menaklukkan keganasan dunia, akan terbayar tuntas dengan kehidupan akhirat yang menjanjikan kenikmatan tak terbatas. ”Bukankah tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah? Bukankah mengemis di mata sang Khaliq adalah pekerjaan hina? Bukankah setiap orang yang merasa kelelahan setelah bekerja seharian untuk mencari penghasilan yang halal, sangat dimuliakan di hadapan Tuhannya,” gumamnya.

Mungkin kisah di atas sangat sering kita temui, bahkan nyaris setiap hari tercecer di pinggir-pinggir trotoar jalan maupun jembatan penyeberangan. Namun, mampukah kita mengambil nilai dari kisah-kisah tersebut yang kemudian menjadi media kontemplasi pribadi? Atau hanya menjadi pernak-pernik kehidupan yang tidak penting bagi kita?


Jalan Panjang itu!
Sebagai perjalanan yang sangat panjang dan berliku, reformasi birokrasi juga akan mengalami kerentaan seperti kisah di atas. Dan kita akan memilih jalan seperti sang kakek yang berputus asa dan berhenti berjuang dengan mengemis kepada langit. Atau terus semangat berjuang sampai alam melumat tubuh-tubuh ini. Hanya dua itu saja!

Kahlil Gibran bersenandung ”Dibalik salju yang gugur dan tebalnya awan gemawan serta prahara yang menderu-deru, ada suatu Roh Suci yang memahami keadaan buruk dari umat manusia dengan rasa kasih-sayang.” Itulah darah semangat yang harus terus mengalir dalam nadi kita. Pertempuran melumat birokrasi usang yang menjangkit ’negeri garuda’ ini sejak merdeka, bukanlah pertarungan sehari, sebulan, setahun atau sampai kapan pun. Gerakan ini butuh waktu yang tidak sedikit, butuh logistic yang melimpah, butuh ketahanan yang tak kunjung habis. Pastinya, harus juga disadari bahwa gerakan yang kita lakukan ini juga sepenuhnya dibimbing Pemilik Kehidupan. Lewat ilhamNya kita dituntun menelurkan ide-ide segar yang tiba-tiba menyelinap di logika. Lalu mengapa kita harus kalah dengan berbagai isu miring, tekanan politik, maupun ancaman yang nyaris setiap detik menghiasi media massa. Bukankah tujuan kita sudah sangat jelas, Perubahan!

Mengutip pesan mantan Menkeu, Sri Mulyani Indrawati, bahwa reformasi birokrasi sebagai proses perbaikan institusi adalah proses belajar seumur hidup. Masa-masa honeymoon bagi pegawai negeri telah habis. Kini masyarakat mulai menagih komitmen perubahan itu. Lalu, haruskah harapan itu kita hempaskan kembali! Dan ketika kita lelah dengan tantangan dan hambatan yang menghadang laju pedati reformasi ini, maka kokohkan kembali dengan bersandar kepada pemilik kehidupan.

Tidak ada kata putus asa di nurani pecinta perubahan. Karena jika kita tidak pernah menyerah berarti kita tidak pernah kalah. Itulah prinsip yang harus terus dipegang teguh. Tidak lekang dimakan zaman, tidak ciut digerus waktu, tidak hancur ditempa kerasnya kehidupan. Pesan Menteri Keuangan Agus Martowardoyo untuk tetap bekerja dengan prinsip good governance, integritas, dan profesionalitas dalam bekerja, selayaknya menjadi nafas setiap pegawai Kementerian Keuangan. Dan perubahan itu merupakan keniscayaan. Karena setiap entitas yang tidak berubah, pasti akan punah.

Sinergisitas!
Kejahatan yang terorganisir, akan mengalahkan kebenaran yang terorganisir. Untuk itu, diperlukan sinergi yang kokoh antara elemen perubahan untuk terus menggerakkan roda reformasi birokrasi. Karena harus disadari bahwa kesuksesan perjuangan itu diinspirasi oleh yang bervisi, dimiliki yang berkeyakinan dalam, dilaksanakan dengan ikhlas, dimulai oleh yang cerdas, dimenangkan oleh yang berani, diraih oleh yang sehat dan kuat, digerakkan oleh yang bermotivasi, diraih dengan perencanaan matang, dihasilkan oleh kerja keras tim dan dilalui dengan kerja tuntas (B.S. Wibowo). Dan jalan perubahan ini, bukan tempat bagi para penggerutu yang berceloteh kosong dan menjadi kerikil-kerikil tajam penghalang laju perubahan.

Tidak ada pilihan lain bagi generasi saat ini selain bergabung dalam ombak perubahan. Karena siapa yang menghalangi jalan, dia akan terlindas. Masih terlalu banyak kursi-kursi kosong di gerbong kereta reformasi yang harus diisi. Oleh mereka yang mencintai negeri dan ingin menyelamatkan generasi.
Sadarilah, negeri ini masih memiliki harapan untuk bangkit. Bangsa ini memiliki kemampuan untuk menunjukkan taringnya di dunia internasional. Tantangan yang dihadapi pada masa transisi ini, hanyalah proses sesaat yang akan segera berlalu. Karenanya, janganlah berputus asa. Sebab dibalik kerancuan dunia, ungkap Gibran dalam syairnya, dibalik zat dan mega dan udara, dibalik semua benda, terdapat suatu kekuatan yaitu keadilan. Ya… keadilan akan tumbuh menjadi bagian kehidupan bangsa ini. Jika kita yakin dan terus menguras keringat untuk mewujudkan hal itu.

Gerakan ini butuh sinergi. Hanya sinergisitas yang mampu mengokohkan mental-mental kita. Yang sering luluh oleh keadaan, hanyut terbawa arus kenikmatan, maupun larut bersama godaan yang tampil sekejap.

Perubahan itu butuh sinergi sebagai komponen utamanya. Sinergi yang menghasilkan kesamaan langkah, kesinambungan komitmen, dan kesatuan hati mencapai tujuan perubahan. Haruskah kita berhenti setelah jalan panjang yang telah ditapaki selama ini menampakkan secercah asa.

Mari kuatkan kembali komitmen kita untuk berubah dan mensukseskan perubahan. Meskipun hasil kerja itu tidak dinikmati oleh diri kita. Jadilah nenek tua renta yang terus bertarung menapaki kehidupannya. Terus bertarung bersama kelemahan yang tersirat di tubuh keriputnya. Dan jika jalan seperti itu tidak kita pilih, jalan mana yang akan kita pilih?

Ini Masalahku dan Itu Masalahmu

dakwatuna.com
Di atas langit masih ada langit
di atas duka yang terperih
masih ada tangis yang tersembunyi
Jika ini adalah masalahku
maka itu adalah masalahmu
Kita ini orang-orang hidup
Masih bernafas dan bergerak
Medan yang curam, tak selalu meninggi
Medan yang landai, tak selalu menurun
Jika airmata lebih indah dari senyuman
maka menangislah
Jika senyuman itu melalaikan
maka menangislah kembali
Kita terlahir dengan airmata
Kita tak akan pergi dengan airmata
Sebuah aral adalah tanda cinta
Mendaki nikmat dalam perjalanan hati
Jangan memikirkan perih
Usah meratapi pedih
Mayapada hanya sekejap mata
istana surga adalah selamanya
Jika di sini kita merintih
Semoga kelak di sana tersenyum abadi


Sabtu, 28 Januari 2012

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!! & Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

B I S M I L L A H . . .

Wahai Ikhwan, Jangan Permainkan Ta’aruf!!

Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya. Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam. Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya. Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja, tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam. ….Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan?…. Wahai ikhwan, relakah jika adikmu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain? Tentu engkau keberatan bukan? Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu. Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya. Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh, akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main. Jagalah hati mereka, jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka. Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam, biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman dari gangguan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay. Wahai Ikhwan, Ini hanya sekedar nasihat, jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya, karena foto dan kata-kata yang tidak kamu ketahui kejelasan karakter wanita, tidak dapat dijadikan tolak ukur kesalehahan mereka, hendaklah mengutus orang yang amanah yang membantumu mencari data dan informasinya. ….luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis…. Wahai ikhwan, luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis.

Duhai Akhwat, Jaga Hijabmu!

Duhai akhwat, jaga hijabmu agar tidak runtuh kewibaanmu. Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf. Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu. Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan, dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri. Duhai akhwat, terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka, apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita? Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya? Duhai akhwat, sadarilah, orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya, waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi. Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya. ….berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram…. Duhai akhwat, berhiaslah dengan akhlak islami, jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram, biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak. Duhai akhwat, ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam, bukan dengan cara mengumbar rasa sebelum ada akad nikah.

Mari jaga izzah kita sahabatku ^^
by fb ~Yang Muda Yang Bertakwa~

Senin, 23 Januari 2012

Galau, Dari Sudut Pandang Psikologi

Galau, sudah tidak asing lagi didengar oleh kalangan remaja hingga dewasa awal. Bila diperhatikan, tidak jarang kita menemui status facebook atau twitter yang berisi kegalauan dari pemilik akun. Biasanya mereka menunjukkan kegalauan dengan status mengeluh, menunjukkan diri sedang resah, bingung, dan pikiran kacau. Bagaimana sebenarnya galau dilihat dari sisi psikologi? Apakah ini termasuk gangguan atau tidak?
Galau dalam KBBI memiliki persamaan kata dengan kacau pikiran, bimbang, bingung, cemas dan gelisah. Kata galau akan lebih tepat bila disebut bimbang, namun pengertiannya lebih pada arah bentuk kecemasan seseorang.

Kecemasan adalah perasaan tak nyaman berupa rasa gelisah, takut, atau khawatir yang merupakan manifestasi dari faktor psikologis dan fisiologis. Kecemasan dalam kadar normal merupakan reaksi atas stress yang muncul guna membantu seseorang dalam merespon situasi yang sulit.
Kecemasan dapat dimasukkan dalam teori psikoanalisis. Freud mengatakan kecemasan berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada.
  • Kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada besarnya ancaman.
  • Kecemasan neurotik adalah rasa takut bila instink atau keinginan pribadi akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.
  • Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
Galau adalah bentuk kecemasan, sedangkan status FB dan Tweet yang mereka ketik adalah bentuk perilakunya. Cara mengatasi kegalauan bukan hanya terkait dengan usaha menstabilkan diri, namun juga mengatasi masalah yang ada. Problem solving bisa dilakukan dengan cara:
  1. Mengubah dorongan kecemasan pada bentuk perilaku lain yang lebih positif.
  2. Carilah sesuatu bidang yang dapat membuat kamu bisa lebih berprestasi, diperhatikan, dan disukai.
  3. Tekanlah perasaan itu dengan alasan yang rasional dan utarakan di waktu yang tepat.
  4. Carilah sebab yang “masuk akal” untuk menjelaskan kenapa hal ini terjadi pada kamu, ini untuk menghindari kecemasan yang tanpa alasan realistis.
  5. Cobalah untuk menceritakan pada orang lain perasaan dan masalah kamu agar lebih jelas sebab yang menimbulkan kecemasan itu.
Menggalau tidak masalah bila dilakukan dalam jumlah yang minim, namun tidak dapat ditoleransi bila dilakukan berkali-kali dan sangat sering dilakukan. Sisi positif dari perilaku galau adalah belajar mengakui kelemahan kita dan berpasrah diri atas apa yang sudah kita usahakan. Masih ada tuhan yang memiliki rencana dan kuasa atas segalanya.
psikologizone.com

Tertawa, Menghilangkan Stres dan Cegah Penyakit

Benarkah terdapat hubungan, tertawa dapat menghilangkan stres dan mencegah penyakit? Bermacam bentuk senyum dapat kita kembangkan. Bisa karena kenangan indah atau lelucon yang dilontarkan teman anda. Tetapi hal ini sering dilupakan ketika orang mengalami persoalan hidup yang berujung pada stres.
Stres pada saat ini dapat ditimbulkan oleh beberapa sebab dan setiap orang memiliki sebab yang berbeda-beda. Setiap orang pun juga memiliki metode yang berbeda beda dalam mengatasi stres yang dialami.

Stres yang berkepanjangan (kronik) akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh (imun) menurun. Akibatnya berbagai penyakit dan kelemahan menurun. Bahkan bisa mengakibatkan penyakit kanker hingga stroke. Mengerikan bukan?

Tetapi kita bisa tenang, karena hal itu bisa dicegah dengan menggunakan teknik “Escape From Stress”. Teknik ini akan meningkatkan kualitas hidup, pencegahan terhadap penyakit yang mematikan, seperti stroke, serangan jantung, kanker hingga gejala neurosis.

Escape from Stress (EFS) adalah sebuah metode yang sering digunakan belakangan ini. Sebuah metode management stres untuk terbebas dari stres bahkan justru mendapatkan manfaatnya. Banyak program yang telah dikembangakan oleh EFS, antara lain: teknik relaksasi, latihan pernafasan dada dan perut, meditasi medis dan terapi tertawa.

Beban hidup dan tuntutan hidup yang harus dipenuhi adalah salah satu faktor stress dan sangat mudah membuat tertawa menjadi barang langka. Padahal tertawa sangat berefek positif pada mental seseorang. Hal yang bisa dilakukan adalah banyak sajian lawak ditayangkan ditelevisi yang bisa membuat anda tertawa.

Dalam dunia psikoterapi, tertawa dapat dilakukan dengan terapi tertawa. Tertawa biasa dan tertawa yang dibuat-buat berbeda dengan terapi tertawa. Terapi tertawa merupakan tertawa yang dimulai dengan tahap demi tahap. Sehingga efek yang dirasakan bagi yang tertawa benar-benar bermanfaat.

Terapi tertawa untuk mengurangi stres sudah banyak dilakukan orang. Tertawa 5-10 menit bisa merangsang pengeluaran endorphine dan serotonin, yaitu sejenis morfin alami tubuh dan juga metanonin. Ketiga zat ini merupakan zat baik untuk otak sehingga kita bisa merasa lebih tenang.

Terapi tertawa merupakan teknik yang mudah dilakukan, tetapi efeknya sangat luar biasa, bahkan dapat menyembuhkan pasien dengan gangguan mental akibat stres berat. Tertawa dalam dunia medis, merupakan obat mujarab ganguan stres atau ganguan penyakit lainnya.
Dari penjabaran diatas dapat di simpulkan bahwa psikologi tertawa memiliki dampak terhadap tubuh kita, antara lain:
  1. Mengurangi stres. Tertawa akan mengurangi tingkat stress tertentu dan menumbuhkan hormon penyeimbang yang dihasilkan saat stress.
  2. Meningkatkan kekebalan. Tertawa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh karena pada dasarnya tertawa membawa keseimbangan pada semua komponen sistem kekebalan tubuh.
  3. Menurunkan tekanan darah tinggi. Tertawa dapat dipercaya mampu mencegah penyakit, seperti penyakit jantung, karena marah dan takut yang merupakan emosi penyebab serangn jantung bisa diatasi dengan tertawa.
Dari artikel stres diatas, mari kita mulai menghindari tertalu banyak stres dalam diri kita. Karena jika tidak segera diatasi, stres dapat membuat kita murung dan tidak sehat. Tentu dengan tidak lupa pada kata tertawa. Pepatah tiongkok mengatakan: “ie dien siauw, sie bhe liao (satu hari tertawa tiga kali, tak akan mati muda)”.
psikologizone.com

Mengurangi Stress dengan Tahajjud

“Dan pada sebagian malam hari, salat Tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS Al Isra: 79)
Sholat tahajjud merupakan sholat yang paling utama setelah sholat fardhu. Ada banyak sekali keutamaan dan keistimewaan sholat tahajud ini. Suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah, lalu ia (malaikat Jibril) berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu karena kamu akan mati, cintailah seseorang sekehendakmu karena kamu akan berpisah dengannya, dan beramallah sekehendakmu karena kamu akan diberi balasan, dan ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu ada pada shalat malamnya dan tidak merasa butuh terhadap manusia.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh al Hakim, dishahihkannya dan disepakati Adz Dzahabi).

Rasulullah sendiri senantiasa sholat malam sampai kakinya bengkak-bengkak sebagai wujud rasa syukur beliau terhadap karunia Allah. Sholat tahajjud akan mendekatkan diri kita kepada Allah, menjauhkan dosa, juga sebagai sebab diangkatnya derajat seseorang. Maka tak heran jika Muhammad Al Fatih dan tentaranya mampu menaklukkan Konstantinopel “hanya” karena semua pasukannya tak pernah meninggalkan sholat wajib sejak baligh dan separuh diantaranya tak pernah meninggalkan sholat tahajjud sejak baligh.

Satu hal yang tak kalah penting, dunia medis sudah membuktikan manfaat sholat tahajud bagi kesehatan. Seperti diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam sebuah hadist, “Sholat Tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan dan menghindarkan dari penyakit.” Dr. Muhammad Sholeh dosen IAIN Surabaya pernah membuat penelitian desertasi berjudul “Pengaruh shalat Tahajjud terhadap peningkatan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik: Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi” dimana disimpulkan bahwa apabila kita melakukan shalat tahajud secara rutin, benar gerakannya, ikhlas dan khusyu’ niscaya akan terbebas dari penyakit infeksi dan kanker. How come?

Dalam tubuh kita terdapat korteks adrenal yang menghasilkan beberapa hormon, salah satu di antaranya adalah kortisol (biasa disebut hormon stress), suatu hormon yang berpengaruh pada sistem kardiovaskuler, keseimbangan metabolik, dan sistem imun. Kadar kortisol di dalam tubuh sangat fluktuatif menyesuaikan dengan irama sirkadian. Pola umum irama sirkadian adalah sekresi kortisol yang naik pada saat tengah malam dan menjelang pagi. Jumlah hormon kortisol pada pagi hari normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedangkan pada malam hari atau setelah pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter.

Kadar hormon ini juga akan meningkat manakala seseorang dalam keadaan stress. Ketika kita sedang mengalami depresi atau stress karena tekanan pekerjaan, aktivitas, atau diet yang ekstrem, kadar hormon kortisol dalam darah akan meningkat. Sebagai akibatnya, kortisol yang berlebih akan menyebabkan berkurangnya jumlah limfosit, suatu perangkat sistem imun dalam tubuh. Apabila sistem imun dalam tubuh berkurang, maka akan mudah sekali tubuh ini terserang berbagai macam penyakit.

Sholat tahajjud terbukti mampu menurunkan kadar kortisol pada saat puncak sekresinya yaitu di atas jam 00.00 atau tengah malam. Pada tengah malam, irama sirkadian memungkinkan hormon kortisol ini berada pada kondisi yang tinggi. Apabila seseorang bangun malam untuk sholat tahajjud dengan niat yang ikhlas, maka akan terbentuk energi positif yang dahsyat bersumber dari komunikasi kita kepada Allah. Hal ini akan berimplikasi pada ketenangan batin terbebas dari permasalahan duniawi sehingga mengurangi derajat stress seseorang. Pada kondisi demikian, secara otomatis hormon kortisol yang diproduksi pun akan menurun sehingga tidak berdampak buruk pada sistem imun.

Logikanya jika usai mengerjakan sholat malam malah sakit, perlu dicurigai kita tidak ikhlas menjalankannya. Ketika seseorang tidak ikhlas dalam beribadah, sudah dapat dipastikan kita tidak mendapatkan faedah dari ibadah itu sendiri. Sehingga tidak muncullah perasaan tenang itu, yang berarti kita gagal mempengaruhi irama sirkadian untuk menurunkan sekresi hormon kortisol. Maka ibadah haruslah ikhlas, juga benar melaksanakannya agar kita mendapatkan manfaat dari ibadah yang kita lakukan.
Wallahu a’lam
sumber fimadani

Istri Idaman, Yang Seperti Apa?

Dulu di tengah canda antara penghuni kos-kosan di gang Jengkol, Ceger, Pondok Aren, sambil mencuci atau ketika sedang setrika baju di pagi hari, kami, saya dan teman-teman satu kos sering bersaut tentang sosok perempuan, akhwat sang calon istri idaman kelak, bayangan sosok yang ideal tentunya, disela lirik nasyid:
Istri cerdik yang sholihat
Penyejuk mata
Penawar hati
Penajam fikiran
Di rumah dia istri dijalanan kawan
Dikala kita buntu dia penunjuk jalan
Saat itu, menurut kami seorang calon istri adalah, seorang perempuan, seorang akhwat yang ngerti agama, qonaah, tawadhu, tentunya seorang yang sempurna sebagai calon ibu, cantik (tentunya), sabar, romantis, bisa manjain suami (maunya), idealisme yang sempurna.

Saya teringat dalam suatu seminar keluarga, yang diisi seorang ustadz muda, suatu hari dia dimintakan tolong untuk mencarikan istri oleh seorang pemuda, pemuda ini berlatar belakang keluarga besar cukup berada, waktu itu ia masih semester VIII kedokteran Universitas Negeri di Jakarta. Kriteria yang diinginkan oleh si pemuda adalah sosok akhwat yang sholihat, bagus kafaah syar’i nya, pintar, berpendidikan minimal setara dengannya, masih muda, cantik, dll.

Setelah sang ustadz mendengar kriteria tersebut, dengan berseloroh dia berkata, “Akan saya upayakan akhi, tapi seandainya saya bertemu Akhwat yang kriterianya seperti itu, sepertinya tidak akan saya forward ke antum. Saya nikahin sendiri.”

Membangun asa adalah sah-sah saja, tidak dilarang. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok istri yang bisa menyelesaikan urusan rumah tangga dengan tuntas, menyadari kekurangan-kekurangan suami secara paripurna, dan menyelesaikan konflik dua hati tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati pada salah satu fihak adalah harapan yang sedikit harus dikoreksi. Apalagi mengharap istri yang selalu siap, selalu berada disisi apabila dibutuhkan, dan selalu siap disamping suami dengan solusi-solusi atas masalah yang dimiliki suami.

Ketika kecewa, timbul pikiran iseng membandingkan istrinya dengan sosok lain, sifatnya, bahkan fisiknya. Maka bersiaplah untuk kecewa, karena apa? Karena kita memandang dari satu sisi bahwa dia ada untuk kita.
Bagaimana kalau dibalik? Kita ada untuk dia, bahwa kita tidak sesuai dengan harapan dia, bahwa kita tidak setampan yang dia inginkan, bahwa dia menekan asa ketika menerima kita, mencoba berdamai dengan kriteria calon suami yang diidamkan, kemudian menerima kita, semata mengharap ridho Allah.

Perlu diingat juga, istri kita memiliki latar belakang yang berbeda, budaya, status sosial, yang harus direkonsiliasi dengan kita, dengan latar belakang yang tidak sama, maka tidak akan pernah sinkron jika keduanya tak memiliki rasa ikhlas, bertahan pada ego sendiri. Tidak perlu heran jika akhirnya hanya konflik yang muncul dalam keluarga.

Secara sunatullah, masing-masing diantara kita juga tetap memiliki kebutuhan sendiri, sisi dunia sendiri, kegiatan sendiri, kesibukan sendiri, yang tidak melulu sibuk untuk berdua, kadang kita sebagai suami ”dipaksa” untuk bertenggang rasa dan bertenggang waktu. Disini nampaknya kita dituntut untuk meng ”kita untuk dia” kan.

Lalu harus kecewakah kita ketika sudah mendapat amanah istri tetapi jauh dari harapan ketika masih hidup di kos-kosan?

Hal terpenting adalah jangan lagi mengkhayalkan idealitas diatas realitas, berandai-andai yang tak sampai, dan mengeluh atas kenyataan yang ada, bisa sakit hati dilanjut sakit fisik. Yang mesti dilakukan adalah berpikirlah progresif, jangan regresif, bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Jadi teorinya semakin kita berandai-andai, semakin mengeluh dalam melihat perbedaan, semakin terluka hati ini. Selanjutnya, syukurilah, terima apa yang Allah berikan, kemudian carilah solusi atas masalah, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Singkirkan sederetan tuntutan yang ‘segambreng’ kepada istri kita. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi.

Percayalah pada janji Allah, bahwa Istri yang baik adalah untuk suami yang baik pula, bukankah kita termasuk mukmin yang baik? Insya Allah.

Sekarang, seiring berjalannya waktu, akhirnya saya menyadari, ternyata dulu saya, kami, telah melupakan satu hal, yaitu bahwa seorang calon istri, seorang perempuan, seorang akhwat, adalah juga manusia, bukan malaikat, yang tentu saja memiliki sifat manusia seperti pada umumnya.
Wallahu’alam
sumber : fimadani