Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Sabtu, 14 Januari 2012

Barirah dan Rumah Tangga Tanpa Cinta


Ini adalah kisah percintaan klasik yang terjadi di kala tanah-tanah berpasir Madinah beraroma nubuwat.
Mughits. Itulah nama lelaki berkulit hitam ini. Ia merupakan salah seorang budak keturunan Afrika yang terdampar di kota Makkah. Tuannya bernama Abu Ahmad bin Jahsi Al Asadi, salah seorang shahabat Rasulullah yang telah memeluk Islam sejak di Makkah. Sebagai seorang hamba sahaya, Mughits merupakan budak yang amanah, jujur, dan bersemangat dalam mengabdikan dirinya pada sang tuan. Oleh karena itu, Abu Ahmad pun memperoleh banyak manfaat atas pengabdian budaknya itu. Sehingga tidaklah aneh jika kemudian Abu Ahmad juga sangat menyayangi dan mengagumi Mughits.

Ketika Abu Ahmad menawarkan Islam pada Mughits, ia pun serta merta menerima dan meresapkannya dalam jiwanya. Hal ini semakin membuat Abu Ahmad menyayanginya dan selalu mengabulkan permintaan-permintaan sang budak. Termasuk keinginan Mughits untuk menikah. Bagaimanapun juga, ia adalah lelaki yang memiliki kecenderungan untuk menentramkan hatinya dan melabuhkan jiwanya pada seorang perempuan. Maka, Abu Ahmad pun menyanggupi permintaan dari Mughits, tapi dengan syarat bahwa pernikahannya dilakukan setelah mereka Hijrah ke Yatsrib, Madinatun Nabi.
Hijrah ke Madinah pun terjadi.

Perjalanan hijrah Abu Ahmad ini tidak hanya menyertakan Mughits, tapi juga keluarga Abu Ahmad juga. Di perjalanan menuju Madinah, Abu Ahmad menyenandungkan syair-syair yang ditujukan pada isteri yang dicintainya. Melihat romantisme sepasang suami isteri itu, makin menggebulah tekad dan keinginan Mughits untuk membina rumah tangga. Disampaikannya keinginan hatinya lagi kepada Abu Ahmad. Berulang-ulang Mughits menyampaikan keinginannya itu pada sang tuan, seakan-akan keshabaran Mughits untuk menanti hingga ke Madinah sudah habis.

Sampailah rombongan Abu Ahmad di Madinah. Mereka pun mencari tempat tinggal hingga diperoleh yang sesuai. Saat itu, Mughits lagi-lagi datang kepada tuannya dan menagih janjinya. Maka dengan lembut Abu Ahmad pun menyuruhnya untuk mencari perempuan yang yang akan dijadikannya calon isteri yang sepadan dengannya, yakni yang juga berstatus sebagai budak.

Maka, mulailah Mughits mencari tambatan hatinya diantara perempuan-perempuan budak di perkampungan Madinah. Hingga akhirnya hatinya terpaut dengan seorang budak perempuan berkulit hitam yang cantik jelita di salah satu rumah penduduk Anshar dari Bani Hilal. Barirah nama perempuan cantik itu.

Mughits segera menemui Abu Ahmad dan memberikan kabar itu. Disampaikan keinginan hatinya untuk mempersunting Barirah menjadi separuh jiwanya. Maka, Abu Ahmad pun segera mendatangi keluarga Bani Hilal. Disampaikannya maksud kedatangannya untuk meminang Barirah bagi sahayanya. Mereka pun menerima baik keinginan Abu Ahmad. Disampaikanlah kabar itu kepada Barirah, tapi ternyata ia memberikan jawaban bahwa ia tidak menyukai lelaki yang akan dinikahkan dengannya itu. Ia pun merasakan kesedihan dan masuk ke kamarnya sembari menangis.

Keluarga Bani Hilal pun menyampaikan kepada Abu Ahmad bahwa mereka telah meridhai pinangan Mughits bagi sahayanya, tapi Barirah sendiri menyatakan tidak menyukai Mughits dan tidak menghendaki pernikahan itu. Mereka pun meminta waktu selama beberapa hari untuk membujuk dan melunakkan hati Barirah agar mau menerima pinangan itu.

Tatkala Mughits mendengar kabar bahwa Barirah tidak menerima pinangan itu, ia merasa sangat terpukul dan sedih. Ia meminta sang tuan untuk terus membujuk majikan Barirah agar hati Barirah luluh dan mau menerimanya. Ia katakan pada Abu Ahmad bahwa ia telah mencintai Barirah dan tidak mau menikah dengan perempuan selainnya. Abu Ahmad pun beberapa kali datang ke kediaman Bani Hilal untuk membujuk keluarga Barirah menerima Mughits.

Karena terus-menerus dibujuk oleh majikannya, Barirah pun menerima pinangan Mughits, meski hatinya masih merasakan keengganan. Betapa bahagia Mughits mendengar kabar itu. Pernikahan antara Mughits dan Barirah pun dilangsungkan. Di satu sisi, Mughits sangat bahagia karena telah mempersunting perempuan yang dicintainya. Sementara di sisi yang lain, Barirah merasa sangat tertekan karena terpaksa menerima pernikahan itu. Ia merasa telah menipu dirinya sendiri dengan menikahi lelaki yang tidak diinginkannya.
“Demi Allah,” kata Barirah, “Aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Setelah menikah, Barirah menjalani kehidupan rumah tangga dengan Mughits. Ia menjalani kehidupannya layaknya seorang isteri pada umumnya, melaksanakan pemenuhan kewajiban-kewajiban seorang isteri, terkecuali rasa cinta. Ia pun juga bersosialisasi dan bergaul dengan masyarakat umum yang kala itu sedang membangun peradabannya di Madinatun Nabi. Salah satu tempat yang sering dikunjungi Barirah adalah di deretan bilik ummahatul mukminin, terutama bilik Ummul Mukminin Aisyah. Ia sering kali datang ke bilik itu dan membantu pekerjaan-pekerjaan Aisyah. Karena itu, antara Barirah dan Aisyah pun terbina saling keterpercayaan. Barirah pun mengungkapkan rasa di dalam hatinya pada Aisyah.

“Demi Allah,” katanya penuh kegundahan, “Aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecintaan kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.”
Dengan kelembutan seorang shahabat pada karibnya, Ummul Mukminin Aisyah menasihati Barirah, “Wahai Barirah, bertakwalah kepada Allah dan bershabarlah dengan suamimu. Sungguh, ia adalah lelaki shalih, semoga Allah menghilangkan kegundahanmu dan menganugerahkan kecintaan kepada suamimu.”
Barirah pun mencoba menuruti nasihat Ummul Mukminin Aisyah. Dicobanya mencintai suaminya, Mughits. Namun, semakin ia mencoba mencintainya, yang dirasakannya adalah timbulnya kebencian pada Mughits yang demikian kuat dan menjadi-jadi.

“Demi Allah, wahai Ummul Mu’minin,” ujarnya makin gundah, “Sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya..”

“Bersabarlah, wahai Barirah,” kata Ummul Mukminin Aisyah kembali menasihatinya, “Semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”

Mughits yang mendapati sang isteri bersikap membencinya sedemikian rupa. Ia pun merasakan kesedihan yang mendalam. Rasa cintanya ternyata berbalas kebencian dari sang isteri. Namun, ia tidak menyerah pada keadaan. Ia terus berjuang untuk meluluhkan hati isterinya agar mencintainya. Dimintanya Abu Ahmad menasihati isterinya agar bersikap lunak dan lembut kepadanya. Hasilnya tidak membawa perubahan. Dimintanya keluarga Barirah untuk membantunya, tapi mereka tidak terlalu merespon keinginan Mughits itu.
Melihat Mughits yang makin diliputi kesedihan, Abu Ahmad pun menghiburnya, “Kenapa kamu ini, wahai Mughits? Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, perempuan selain dia kan banyak.”

“Tidak, demi Allah, wahai Tuanku,” jawabnya penuh kesedihan, “Aku tidak bisa membencinya dan tidak bisa mencintai perempuan selainnya.”

“Kalau begitu bersabarlah, sampai ia melahirkan anakmu, semoga setelah itu hatinya mulai berubah dan bisa mencintaimu.”

Harapan dalam hati Mughits pun berbinar berpendar. Ia sangat berharap bahwa jika nanti anaknya dengan Barirah lahir, ia akan menjadi wasilah bagi Barirah untuk kemudian mencintainya. Barirah hamil. Hingga ketika anak yang dikandungnya telah lahir, ternyata Barirah tidak menunjukkan tanda-tanda ia mulai mencintai Mughits, malah kebenciannya pun semakin dalam. Tidak pernah muncul keinginan dalam hatinya untuk melahirkan seorang anak dari Mughits.

Saat dalam keadaan nifas pasca melahirkan, Ummul Mukminin Aisyah mendatanginya untuk bersilaturahim, mengucapkan selamat, dan mendoakannya. Namun, Barirah malah menangis meratapi kemalangan dirinya melahirkan seorang anak dari seorang lelaki yang dibencinya.

“Wahai Barirah,” kata Ummul Mukminin Aisyah, “Mungkinkah engkau untuk membeli dirimu, jika engkau lakukan hal ini maka masalahmu akan bisa teratasi dan engkau berhak atas dirimu sendiri, dan jika engkau mau, engkau bisa berpisah dari suamimu.”

Ummul Mukminin Aisyah memberikan saran berdasarkan hukum Islam, bahwa seorang perempuan merdeka yang bersuamikan seorang budak memiliki hak khiyar (memilih) untuk melanjutkan pernikahannya atau bercerai.

“Aku telah mencoba berkali-kali memohon mereka untuk memerdekakanku, tapi mereka tidak menerimanya, seolah-olah tidak ada budak selainku yang bisa membantu mereka. Tetapi aku akan tetap bersabar sehingga Allah menghilangkan rasa sedih dan gundahku,” kata Barirah menjelaskan.

Setelah berlalu beberapa tahun. Keluarga Bani Hilal pun menyetujui pembebasan diri Barirah dengan pembayaran sejumlah uang. Bukan main gembira hati Barirah atas kesepakatan itu.
Barirah pun mendatangi Aisyah dan meminta bantuannya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya saya telah mengadakan janji dengan tuanku untuk memerdekakan diriku, dengan sembilan uqiyah, pada setiap tahun satuuqiyah, maka bantulah saya.”

Saat itu Barirah sama sekali belum membayar angsuran penebusan dirinya. Satu uqiyah adalah dua belas dirham. Imam An Nasa’i mencatat riwayat ini dalam Sunan.

“Kembalilah kepada keluargamu,” kata Ummul Mukminin sebagaimana dicatat dalam Shahih Muslim, “Jika mereka mau saya akan membayar tebusanmu, dan hak perwalianmu padaku, maka saya akan melunasinya.”
Hak perwalian adalah hak  seorang majikan bila seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia sementara ia meninggalkan harta, maka hartanya itu diwarisi oleh orang yang memerdekakannya.
Barirah pun kembali kepada keluarganya dan menyampaikan apa-apa yang disampaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah. Namun, keluarga Bani Hilal mengatakan, “Apabila ia mau mengharapkan pahala maka hendaknya silakan ia melakukan dan perwalian itu untuk kami.”

Barirah pun datang pada Ummul Mukminin Aisyah kembali. Ia menceritakan perihal keinginan majikannya untuk tetap mempertahankan hak perwalian itu. Ummul Mukminin Aisyah pun memberitahukan hal itu kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah,” kata Ummul Mukminin Aisyah dalam Sunan An Nasa’i, “Barirah datang kepadaku meminta bantuan menyelesaikan perjanjian pembebasannya, kemudian saya katakan, ‘Tidak, kecuali mereka menghendaki saya menghitung bagi mereka satu hitungan dan perwaliannya adalah untukku.’ Kemudian ia menyebutkan hal tersebut kepada tuannya, lalu mereka menolak kecuali perwalian untuk mereka.”
Beliau lantas bersabda seperti dicatat Imam Muslim dalam Shahih, “Tebuslah dan merdekakanlah dia, karena hak perwalian itu bagi orang yang memerdekakan.”

Kemudian Rasulullah berdiri di hadapan manusia seraya memuji Allah dan mengagungkanNya, “Apa urusan orang-orang yang memberikan persyaratan yang tidak pernah ada pada Kitabullah. Barangsiapa yang mensyaratkan suatu syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah, maka ia tidak berhak mendapatkannya, walaupun dia mensyaratkan seratus kali, kerana syarat Allah lebih berhak untuk dilaksanakan dan lebih kuat.”
Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah menambahkan, “Sesungguhnya perwalian (seorang budak) adalah milik orang yang memerdekakannya.”

Ummul Mukminin Aisyah menyerahkan uang sebesar sembilan uqiyah kepada Barirah untuk menebus dirinya. Barirah membawa uang itu kepada majikannya dan menebus dirinya. Ia mendatangi Ummul Mukminin Aisyah dengan status baru.

Alhamdulillah, wahai Ummul Mu’minin, Allah telah menghilangkan duka citaku dan menyingkapkan kegundahanku, dan aku telah mendapatkan sesuatu yang besar dengan keshabaran.”
Barirah pun menyampaikan pada Ummul Mukminin Aisyah bahwa ia akan segera meminta kepada Rasulullah untuk memisahkan dirinya dengan suaminya, Mughits. Ia pun menemui Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku memohon, kiranya tuan sudi menceraikanku dari suamiku Mughits, aku sekarang telah merdeka sedangkan dia masih sebagai budak, aku sudah tidak kuat lagi hidup bersamanya. Tanyalah pada Ummu Abdillah, 
Aisyah. Pasti beliau akan memberitahukan bagaimana nasib kehidupanku bersamanya.”

Dalam Musnad Ahmad, Rasulullah memberikan pilihan pada Barirah tanpa Barirah meminta dipisahkan, “Pilihlah jika kamu mau, apakah engkau akan tetap tinggal di bawah budak ini (tetap menjadi istrinya) atau engkau berpisah darinya.”
Sementara dalam Sunan Ad Darimi, Rasulullah menganjurkannya agar ia berbuat baik terhadap suaminya. Namun, Barirah berkata kepada Rasulullah , “Bukankah aku boleh berpisah dengannya?”
Beliau menjawab, “Benar.”
Barirah pun berkata, “Sungguh aku telah berpisah darinya.”
“Seandainya suamiku memberi kepadaku ini dan itu,” kata Barirah dalam Shahih Bukhari, “Itu semuanya tidak menjadikanku tinggal bersamanya.”

Dalam riwayat lain ia mengatakan, “Kalaulah suamiku memberiku demikian dan demikian, aku tidak mau bermalam dengannya.”
“Aku tidak suka tinggal bersamanya, dan aku memiliki demikian dan demikian,” katanya dalam Sunan Abu Dawud.  Lalu Barirah memilih untuk sendiri.

Maka, Rasulullah  pun mengutus seseorang mengabarkan bahwa Barirah telah memutuskan untuk bercerai dari Mughits dan diterima oleh Rasulullah . Saat kabar itu didengar oleh Mughits, ia pun jatuh pingsan. Kekhawatirannya menjadi kenyataan. Kesedihan begitu mendalam mencabik-cabik hatinya. Harapan seakan tidak menyisa lagi dalam perjalanan masa depannya. Bumi terasa menyempit dan masa depan seakan suram jika ia terpisah dari isteri yang sangat dicintainya itu.

Rasulullah memerintahkan Barirah untuk ber’iddah selama tiga kali quru’ layaknya perempuan yang baru bercerai lainnya. Abdullah bin Abbas menceritakan bahwa ia melihat Mughits berjalan di sepanjang lorong-lorong Madinah mengikuti Barirah. Ia menangis tanpa henti. Airmatanya menetes membasahi jenggotnya. Mughits mengiba dan terus-menerus merayu Barirah agar ia mau kembali kepadanya dan menjadi isterinya lagi. Namun, Barirah tetap keukeuh pada pendiriannya untuk berpisah dari Mughits.
Mughit pun meminta bantuan pada Rasulullah , dalam Sunan Abu Dawud, “Wahai Rasulullah, bantulah aku berbicara kepadanya.”

Rasulullah yang kala itu bersama Abbas bin Abdul Muthalib pun bersabda dalam Shahih Bukhari, “Wahai Abbas, tidakkah kamu takjub akan kecintaan Mughits terhadap Barirah dan kebencian Barirah terhadap Mughits?”

“Betul,” jawab Abbas, “Demi Zat Yang Mengutusmu, sungguh urusan mereka sangat aneh.”
Kemudian Rasulullah  memanggil Barirah. “Wahai Barirah,” kata beliau, “Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, ia adalah suamimu dan ayah anakmu.” Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah  berkata, “Seandainya kamu mau meruju’nya kembali.”
“Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” tanyanya.

Barirah tahu bahwa jika Rasulullah telah memerintahkan sesuatu, maka tiada pilihan lain bagi seorang muslim selain untuk memenuhi perintah tersebut. Karena itu, ia menanyakan perihal permintaan Rasulullah  untuk rujuk dengan Mughits. Namun, jika Rasulullah hanya memberikan saran, maka ia sudah mempersiapkan jawaban.

“Aku hanya menyarankan,” kata Rasulullah dalam satu riwayat Shahih Bukhari. Dalam Musnad Ahmad dan riwayat Shahih Bukhari yang lain, Rasulullah berkata, “Innama ana asyfa’u. Sesungguhnya saya hanyalah seorang penolong.”

Maka, dengan tegas, Barirah pun menjawab, “Sesungguhnya aku tak berhajat sedikit pun padanya.”
Berakhirlah sejarah mencatat kisah cinta Mughits dan benci Barirah. Keduanya memberikan satu pelajaran yang berharga tentang cinta, kebencian, dan keshabaran. Seluruhnya terlingkupi dalam pilihan, keputusan, dan konsekuensinya. Bahkan dalam ilmu fikih, kisah Mughits – Barirah memberikan hukum yang terang dan sangat penting tentang hukum-hukum munakahat dan kemasyarakatan.
Mughits mencintai perempuan shahabiyah itu dengan cinta yang demikian dalam hingga berkali-kali membawanya pada ketertutupan akal sehatnya. Ia hanya mau menikah dengan perempuan yang dicintainya, meski telah ditolak. Bahkan ia menyatakan tidak akan bisa mencintai perempuan yang lain. Sebuah pernyataan yang hakikatnya berlebihan.

Kondisinya semakin diperparah dengan karakter melankolis yang mengakar kuat dalam dirinya. Yang demikian menjerembabkannya pada kondisi-kondisi yang tidak diinginkannya hingga ia seakan-akan terus membiarkan dirinya dalam penderitaan dan kesedihan yang timbul atas sebuah kondisi. Ia tidak mau bangkit atas keterpurukannya.

Namun, perjuangannya untuk meraih cinta sang isteri sungguh luar biasa. Bertahun-tahun diupayakan yang terbaik dan berjuang agar sang isteri mencintainya. Namun, hasilnya tidak seperti yang diharapkannya. Sang isteri makin membencinya.

Sementara Barirah, ia mengambil keputusan menerima pinangan Mughits dengan rasa keterpaksaan. Mungkin ia lupa bahwa menerima pinangan seseorang itu adalah sebuah keputusan besar yang akan memberikan konsekuensi yang demikian berat yang imbasnya ada di dunia dan akhirat. Ia akan memiliki kewajiban-kewajiban yang demikian banyak bagi suaminya. Dan jika ia tidak memenuhinya, maka ia telah durhaka.

Keshabarannya terus membersamai Mughits dalam sekian tahun yang panjang adalah sebuah kekuatan yang dahsyat. Ia membenci seseorang yang lain yang tinggal bersama, sekamar, bahkan seranjang. Ia juga harus melayani suaminya yang dibencinya itu bertahun-tahun lamanya. Sungguh perjuangan yang sangat hebat. Ia berusaha mencintai orang yang mencintainya, tapi malah kebencian yang makin terasa. Meski begitu, sejak lama ia berusaha lepas dari sang suami dan memperoleh kebebasannya sebagai manusia merdeka dan perempuan merdeka sekaligus. Keshabarannya menepi. Padahal sejatinya keshabaran itu laksana samudera yang mampu menampung seluruh air di dunia.

Seteleh Barirah dibebaskan dari keluarga bani Hilal, ia pun mengabdikan dirinya untuk melayani Ummul Mu’minin Aisyah yang telah menebusnya. Maka tidaklah mengherankan jika antara Ummul Mu’minin Aisyah dan Barirah terjalin ikatan yang semakin kuat. Bukan hanya sekadar majikan dan khadimat, tetapi hingga seakan-akan bersaudara.

Pasca kemerdekaan dirinya, orang-orang mengirimkan zakat sedekah berupa daging kambing kepadanya. Sebagian daging kambing itu dihadiahkannya kepada Ummul Mu’minin Aisyah. Ia pun memasaknya dalam sebuah periuk atau kuwali. Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah dan melihat daging dalam periuk itu. Namun, yang disuguhkan kepada beliau saat itu adalah roti dan lauk dari rumah. Maka, beliau pun bertanya, “Bukankah tadi aku melihat periuk yang berisikan daging?”

“Ya, benar,” kata mereka, “Akan tetapi daging itu adalah daging yang disedekahkan kepada Barirah, sementara Anda tidak makan harta sedekah.” Keluarga Rasulullah SAW adalah orang-orang yang dilarang memakan harta zakat dan sedekah.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Bagi Barirah adalah sedekah, sementara untukku adalah hadiah.”
Imam An Nasa’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ad Darimi, Imam Al Bukhari, dan Imam Malik mencatatnya dalam kitab hadits masing-masing, dan ini adalah lafadz dari Shahih Bukhari. Dari hadits tentang daging sedekah ini, dapat diambil hukum bahwa perpindahan kepemilikan harta dapat merubah status harta itu.

Saat terjadi peristiwa haditsul ifk, Rasulullah datang dan menanyai Barirah perihal Ummul Mu’minin Aisyah yang kala itu difitnah oleh kaum munafikin telah berselingkuh dengan Shafwan bin Al Muathal dalam perjalanan pasca perang melawan Bani Musthaliq.

“Wahai Barirah, pernahkah engkau melihat sesuatu pada ‘Aisyah yang membuatmu bimbang?” tanya beliau.
“Demi Zat Yang mengutusmu dengan Al Haq,” jawab Barirah, “aku tidak pernah melihat sesuatu pun yang pantas kucela, kecuali dia itu seorang wanita yang masih sangat muda yang masih suka tertidur di sisi adonan makanan yang dibuat untuk keluarganya hingga datang hewan memakan adonan itu.”

Berdasarkan penuturan Barirah inilah Rasulullah SAW cenderung mempercayai Ummul Mu’minin Aisyah daripada desasdesus dari kaum munafikin dan sebagian kaum muslimin.

Pernah juga suatu kali tatkala Ummul Aisyah merasakan kecemburuan terhadap Rasulullah SAW, ia mengandalkan Barirah untuk mengetahui kebenaran firasat keperempuanannya itu. Ummul Mu’minin Aisyah menceritakan dalam Musnad Imam Ahmad dan Al Muwatha’ Imam Malik bahwa pada suatu malam Rasulullah dating ke biliknya, kemudian segera memakai baju kemejanya dan keluar. Ia mengira bahwa Rasulullah akan ke salah satu isterinya yang lain, ia cemburu dengan firasatnya itu. Diutusnya Barirah untuk membuntuti Rasulullah SAW dan mengetahui kemana Rasulullah pergi. Barirah membuntutinya hingga ke Baqi’ Gharqad, lalu diujung Baqi’ beliau mengangkat kedua tangannya dan berbalik pulang. Lalu Barirah pun kembali dan melaporkan apa yang dilihatnya.

Pagi harinya, Ummul Mu’minin Aisyah bertanya pada Rasulullah, “Rasulullah, semalam engkau keluar pergi kemana?”

“Saya diutus untuk pergi ke penghuni kuburan Baqi` untuk mendoakan mereka,” kata Rasulullah. Dalam Sunan An Nasa’i, Rasulullah menjawab, “Aku diutus kepada penduduk Baqi’ agar aku shalat untuk mereka.” Maka jelaslah kini firasat kecemburuan Ummul Mu’minin Aisyah tidak terbukti.

Barirah juga memiliki bashirah yang tajam. Suatu kali, Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya. Ia melihat dalam diri Abdul Malik bin Marwan ada tanda-tanda kepemimpinan. Maka ia pun memberikan nasihat kepadanya perihal kepemimpinan. “Wahai Abdul Malik, aku melihatmu memiliki perangaiperangai yang mulia, dan engkau layak untuk memegang tampuk pemerintahan. Maka bila nanti engkau diserahi kepemimpinan, berhati-hatilah dengan masalah darah kaum muslimin, karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang ditolak dari pintu surga setelah melihat keindahan surga disebabkan darah seorang muslim sepenuh mihjamah yang dia tumpahkan tanpa hak.’” Mihjamah adalah alat untuk berbekam.

Maka benarlah nasihat Barirah untuk Abdul Malik bin Marwan. Di kemudian hari ia menjadi salah seorang khilafah Bani Umayah dan memang nasihat Barirah itu cocok untuk dirinya.
Barirah hidup hingga masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedangkan sejarah mengenai mantan suaminya tidak tercatat. Semoga Allah meridhai keduanya.

sumber:-fimadani-

Ummu Salamah, Inspirasi Dan Kejernihan Berpikir Nabi

Ummu Salamah RA Berkata, “Ketika situasi kota Mekkah semakin menegangkan dan sulit bagi kaum muslimin, para sahabat mengalami penindasan, penganiayaan, dan penyiksaan yang dari hari ke hari intensitasnya semakin meningkat. Mereka mengalami berbaga macam rayuan, paksaan, dan intimidasi untuk keluar dari Islam dan menyaksikan berbagai bentuk musibah dan bencana yang ditimbulkan oleh kaum kafir.”
Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberikan instruksi kepada mereka dan berkata,
“Sesungguhnya negeri Habasyah terdapat seorang raja yang tidak ada seorang pun yang berada di sana terzalimi dan teraniaya. Oleh karena itu, pergilah kalian ke negeri Raja Habasyah itu hingga Allah swt. memberikan jalan keluar bagi kalian.”

Lalu kami pun berangkat hijrah ke tanah Habasyah secara bergelombang hingga akhirnya kami berkumpul dan berada di negeri yang baik itu, hidup bersama orang yang baik yaitu Raja Najasyi, penguasa tanah Habasyah. Kami hidup dalam kondisi aman, keimanan dan agama kami terjaga dan terlindungi, dan kami tidak takut atas gangguan seorang pun.

Memang benar, hijrah ke tanah Habasyah waktu itu merupakan hijrah yang penuh berkah, hijrah untuk menyampaikan dan menyebarkan dakwah Islam atas dasar dialog yang jujur dan baik antara Ja’far bin Abi Thalib dan Raja Najasyi.

Dalam dialog tersebut, Ja’far berkata kepada Raja, “Wahai raja, dahulu kami adalah kaum musyrik, kami menyembah berhala dan arca-arca, memakan bangkai, bersikap tidak baik terhadap tetangga, dan gemar saling menumpahkan darah. Kami hidup dalam kondisi seperti itu hingga akhirnya Allah swt. mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri.

“Kami mengetahui nasab beliau, mengetahui sifat amanah, kejujuran, dan iffah beliau (menjaga diri dari hal-hal yang rendah dan hina).Lalu beliau menyampaikan dakwah kepada kami hanya untuk menyembah Allah semata, tiada sekutu bagiNya, memerintahkan kami untuk menyambung silaturahim, menjaga dan melindungi tetangga, menunaikan shalat dan puasa ikhlas karenaNya, dan kami tidak menyembah kecuali kepadaNya.

Kemudian Ja’far memperdengarkan beberapa ayat Al Qur’an kepada Raja Najasyi, para rahib, dan pendetanya. Ayat yang dibaca Ja’far waktu itu adalah ayat-ayat bagian awal dari surat Maryam.
Mendengar ayat-ayat tersebut, Raja dan para pendetanya pun menangis meneteskan air mata. Kemudian, setelah selesai mendengarkan bacaan beberapa ayat tersebut, Raja berkata, “Sungguh, apa yang dibacanya itu berasal dari lentera yang dibawa oleh Isa. Hidup dan tinggal lah kalian di sini dengan aman.”
Kemudian, Raja berkata kepada Amr bin Ash yang diutus oleh kaum kafir Quraisy untuk menemui Raja, “Sungguh, demi Allah, orang-orang yang berhijrah ke kota ini sekali-kali tidak akan pernah aku deportasi dan aku kembalikan kepada kalian.”

Hijrah ke Madinah
Tatkala Abu Salamah sudah memutuskan untuk keluar menuju kota Madinah, kami berangkat mengendarai unta. Ummu Salamah dan anaknya, Salamah, didudukkan di atas punggung unta, kemudian unta itu dituntunnya. Tiba-tiba serombongan laki-laki dari Bani Makhzum (keluarga Ummu Salamah) melihat kami. Mereka segera datang dan berkata kepada Abu Salamah, “Engkau boleh pergi meninggalkan kota ini. Akan tetapi, bagaimana dengan putri kami ini (maksudnya Ummu Salamah), untuk kepentingan apa kami membiarkan engkau membawanya keluar dari Mekkah?”

Mereka merampas tali unta dari tangan Abu Salamah, lalu mereka membawa Ummu Salamah. Tiba-tiba ada pula serombongan Bani Asad (keluarga Abu Salamah) marah, dan merampas Salamah, dan berkata kepada Bani Makhzum, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami bersama-sama dengan dia (Ummu Salamah RA) jika kamu (Bani Makhzum) menarik Ummu Salama RA dari teman kami (Abu Salamah).” Akhirnya Bani Makhzum (keluarga Ummu Salamah) tarik-menarik dengan Bani Asad (keluarga Abu Salamah), memperebutkan Salamah, hingga akhirnya tangan Salamah terkilir dan menanglah keluarga ayahnya.

Bani Asad lalu membawa Salamah, sedangkan Ummu Salamah dibawa oleh Bani Makhzum (keluarga Ummu Salamah). Ummu Salamah ditahan oleh Bani Makhzum di rumah mereka. Abu Salamah meneruskan perjalanannya ke Madinah. Ummu Salamah dipisahkan dengan anak dan suami. Setiap pagi, Ummu Salamah keluar rumah, pergi ke lapangan dan terus menangis hampir setiap hari, selama hampir satu tahun.

Suatu hari, salah seorang dari keluarga paman Ummu Salamah, lewat ditempat ia menangis. Karena melihat keadaan Ummu Salamah, dia merasa kasihan lalu berkata kepada Bani Makhzum, “Belum tiba kah waktunya kamu mengeluarkan wanita ini? Kasihan, kamu memisahkan dia dengan anaknya.”
Dia terus bicara, sampai akhirnya Bani Makhzum berkata kepada Ummu Salamah, “Pergilah, susul suamimu jika engkau mau.”

Bani Asad juga membebaskan Salamah. Ummu Salamah pun berangkat naik unta bersama anaknya, Salamah. Keluar menuju Madinah dan tidak ada seorang pun yang menemaninya hingga tiba di Tan’im, kira-kira sembilan kilometer dari Mekkah. Ummu Salamah bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia berkata, “Hendak kemana engkau, wahai putri Abu Umayyah?”
Ummu Salamah menjawab, “Saya mau menyusul suami ke Madinah.”
Dia bertanya lagi, “Siapa yang menemanimu?”
Ummu Salamah menjawab, “Demi Allah, tidak ada seorang pun selain Allah dan anakku ini.”
Akhirnya dia pun berkata, “Demi Allah, engkau tidak pantas dibiarkan sendiri.”
Dipegangnya kekang unta. Ustman bin Thalhah berangkat bersama Ummu Salamah, menuntun unta.
“Demi Allah, saya belum pernah ditemani oleh seorang Arab yang lebih baik daripadanya, jika sampai di tempat peristirahatan, didudukannya unta itu sehingga saya mudah turun. Selanjutnya, dia pergi ke bawah pepohonan dan berbaring di sana. Kalau sudah tiba waktunya berangkat, dia datang lalu menyiapkan unta, membawanya ke dekat saya, unta didudukkannya seraya berkata, “Naiklah”. Kalau saya sudah naik dan tenang di atas unta itu, dia mulai menuntun unta itu, terus berjalan, sehingga sampai lagi di tempat peristirahatan. Demikianlah yang diperbuatnya, sampai akhirnya kami tiba di Quba’, di perkampungan Bani Umar bin Auf. Di sanalah rumah Abu Salamah, di tempat hijrahnya itu.”

Sebelum kembali ke Mekkah, Utsman bin Thalhah berkata, “Sungguh suamimu berada di perkampungan ini. Silahkan masuk dengan ditemani keberkahan Allah.”
Dengan demikian, diantara sekian banyak perempuan-perempuan yang hijrah, Ummu Salamah RA adalah perempuan pertama yang masuk kota Madinah sebagaimana dulu menjadi perempuan pertama yang hijrah ke Habasyah (Ethiopia).

Demikian juga suaminya, Abu Salamah, Abdullah bin Abdul Asad. Dia adalah sahabat Rasulullah yang pertama hijrah ke Yatsrib.

Sesampainya di Madinah, Ummu Salamah RA tekun mendidik anak-anaknya yang masih kecil, sedangkan suaminya selalu mencurahkan waktunya untuk turut berjuang dalam pertempuran-pertempuran Islam.
Pada perang Badar di Al Kubra, Abu Salamah termasuk pasukan yang berani dan mengerahkan segala kemampuan dan kekuatannya untuk menyerang dan menerjang barisan musuh. Abu Salamah juga ikut dalam perang Uhud dan ia terluka karena panah Abu Usamah Al Jamasyi yang mengenai lengannya. Selama satu bulan penuh ia menjalani perawatan dan penyembuhan luka yang dialaminya tersebut.

Tatkala kematian Abu Salamah sudah dekat, terjadi perbincangan antara Abu Salamah dengan istrinya.
Diriwayatkan dari Ziyad bin Abi Maryam, “Ummu Salamah RA berkata kepada suaminya. ‘Telah sampai kepadaku bahwa tidak ada seorang istri yang ditinggal mati suaminya sedangkan suaminya tersebut termasuk penduduk surga, lalu si istri tidak menikah lagi kecuali Allah akan mengumpulkan dan mempertemukan keduanya kembali di surga. Oleh karena itu, marilah kita sama-sama berjanji bahwa kita tidak akan menikah lagi jika salah satu dari kita meninggal dunia.’

“Abu Salamah berkata, ‘Apakah kamu patuh kepadaku?’
“Ummu salamah menjawab, ‘Benar.’
“Lalu, Abu salamah berkata, ‘Jika begitu, kalau aku meninggal dunia, hendaklah kamu menikah lagi. Ya Allah, karuniailah Ummu Salamah setelah aku meninggal dunia seorang suami yang lebih baik daripada diriku, tidak membuatnya bersedih dan tidak menyakitinya.”

Abu Salamah Wafat
Diriwayatkan dari Ummu Salamah, “Ketika Abu Salamah meninggal dunia, Rasulullah datang melayat. Waktu itu, kedua mata Abu Salamah terbuka, lalu Rasulullah memejamkannya, kemudian bersabda, ‘Jika nyawa dicabut, maka keluarnya nyawa tersebut juga diikuti dan diperhatikan oleh kedua mata.’ Keluarga Abu Salamah pun ribut, lalu Rasulullah bersabda, ‘Janganlah kalian berdoa terhadap diri kalian sendiri kecuali doa yang baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian katakan.’ Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya bersama orang-orang yang diberi petunjuk, rawat dan jagalah keluarga yang ditinggalkan, ampunilah kami dan Abu Salamah, wahai Tuhan semesta alam, berilah kelapangan dan cahaya dalam kuburnya.” (HR Muslim)

Pernikahan Dengan Rasulullah
Diriwayatkan dari Ummu Salamah RA, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tidak ada seorang Muslim yang tertimpa musibah, lalu ia mengucapkan kalimat yang diperintahkan oleh Allah yaitu kalimat Istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan do’a, “Ya Allah, hamba mengharapkan pahala dari musibah yang menimpa hamba ini dan berilah hamba ganti yang lebih baik daripada musibah ini, kecuali Allah akan memberinya ganti yang lebih baik daripada musibah tersebut.”
Kemudian, aku mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah tersebut, lalu Allah pun memberiku ganti, yaitu Rasulullah.

“Ummu Salamah berkata, ‘Rasulullah mengutus Hathib bin Abi Balta’ah untuk menyampaikan pinangan beliau kepadaku.’
“Aku berkata, ‘Aku adalah janda yang memiliki anak perempuan dan aku adalah wanita pencemburu.’
“Rasulullah berkata, ‘Adapun anak perempuannya, aku akan mendoakan semoga Allah memberinya kecukupan dan aku mendoakan semoga Allah menghilangkan sifat cemburu yang dimilikinya.”

Demikianlah kisah pernikahan yang begitu agung, skenario Illahi yang sangat luar biasa. Padahal, sebelum kedatangan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar juga melamar namun lamaran keduanya tidak ada yang diterima hingga akhirnya Rasulullah datang melamar.
Suatu pelajaran yang patut dijadikan ibrah adalah ternyata dibalik pernikahan Rasulullah itu tersimpan tujuan mulia. Ummu Salamah bukan termasuk perempuan kaya, bukan perempuan cantik, bahkan Ummu Salamah ternyata sudah tidak muda. Namun, mengapa Rasulullah menikahinya?
Sangat jauh jika kita bandingkan dengan keadaan kaum Muslim sekarang. Pernikahan mayoritas bertendensi pada materi, kecantikan, harta, dan martabat. Tidakkah menengok bagaimana pernikahan yang dilakukan Rasulullah?

Rasulullah tidak memilih perempuan muda yang cantik untuk dijadikan istri. Padahal, tidak sedikit perempuan cantik yang berminat dan menginginkan Rasulullah sebagai suami. Rasulullah malah memilih Ummu Salamah. Apa sebenarnya hikmah yang bisa diambil dari kisah cinta tersebut?
Pertama, jelas-jelas Ummu Salamah dan suaminya yang telah meninggal, Abu Salamah adalah termasuk kaum Muslimin yang pertama memeluk Islam ketika awal kemunculan Islam di Mekkah. Bahkan, keduanya termasuk kaum Muslimin yang gigih mempertahankan aqidah dan keimanan mereka. Keduanya bahkan hijrah ke Habasyah untuk menghindari intimidasi kaum kafir Quraisy dan untuk menyelamatkan aqidah dan keimanan mereka.

Bukan hanya itu, proses pernikahan yang sesungguhnya adalah bersandingnya suami-istri dalam ikatan rumah tangga itu sebenarnya sesuai dengan kesepadanan. Kesepadanan yang sangat diperhatikan oleh Rasulullah adalah agama. Coba kita perhatikan, Ummu Salamah adalah dulu istri pejuang. Abu Salamah adalah sosok Muslim yang tangguh dalam berdakwah dan berjihad. Dalam perang Badar hingga perang Uhud, ia turut berjihad. Walaupun dalam kondisi fisik yang sudah terluka parah, ia tidak pantang mundur, tidak terbuai oleh nikmatnya hidup. Ia malah memilih berkucuran peluh dan darah, bermandikan debu dan berselimut langit, lelah, dan letih di jalan Allah. Istri pejuang adalah pejuang. Ia setia dan mau diajak hidup sederhana, qanaah, dan sabar. Sangat tangguh dalam menerima hamparan kerikil tajam dan bentangan intimidasi kaum musyrikin Quraisy.

Ini juga memberikan tuntunan kepada kita, sesungguhnya setiap pengorbanan yang dilakukan akan mendapat imbalan, baik di dunia maupun di akhirat. Allah akan selalu menolong dan memuliakan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjihad dan berjuang di jalanNya.

Oleh karena itu jangan menyerah dikarenakan kondisi yang sulit. Sesulit apapun yang terjadi, jika dihadapi dengan tenang dan istiqamah, Allah akan memberikan jalan keluar dan pertolonganNya.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (Al Ankabut 69)

Nilai yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa Ummu Salamah meskipun sosok pribadi pencemburu, namun ia jujur dan terus terang kepada Rasulullah. Karena itu, Rasulullah sangat pengertian kepadanya. Nabi pun mendoakan agar sifat cemburu itu dihilangkan dari Ummu Salamah.

Hal yang menarik adalah, Ummu Salamah mampu mengubah sifat cemburunya dalam waktu singkat. Tentu ini adalah hal yang sangat sulit. Apalagi jika kita bandingkan dengan para perempuan jaman sekarang. Justru dengan rasa cemburu ini tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjadikannya sebagai alasan tidak rasional untuk mengajukan gugatan cerai. Awal kecemburuan menjadi bibit perseteruan dalam rumah tangga yang tidak kunjung padam.

Pengkhususan Ummu Salamah
Umar Al Malla’ meriwayatkan hadits dari Aisyah RA yang berkata, “Jika telah mengerjakan shalat Ashar, Rasulullah masuk ke rumah istri-istri beliau satu demi satu. Beliau pertama kali mendatangi Ummu Salamah karena ia istri yang paling tua, dan terakhir kali datang kepadaku.”

Jika kita perhatikan, hadits tersebut sungguh sangat menarik. Rasulullah mengutamakan Ummu Salamah dari pada istri lainnya. Hal yang menarik lainnya adalah Rasulullah mengutamakan Ummu Salamah bukan atas tendensi duniawi, bukan karena Umu Salamah istri yang paling cantik, bukan karena istri yang paling kaya. Ini betul-betul murni karena sebuah penghargaan Rasulullah terhadap Ummu Salamah karena ia adalah istri paling tua. Memang seharusnya demikian yang harus kita lakukan dalam segala hal. Menghormati dan memuliakan yang tua dan mengkasihi yang muda. Bukan hanya dalam hal mengutamakan kasih sayang karena ia adalah seorang istri, melainkan juga dalam semua hal yang berhubungan dengan hablun-minannas

Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kita orang yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kita, dan bukan termasuk golongan kita orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kita.”

Kecerdasan Ummu Salamah
Ketika Rasulullah dan para sahabat batal melaksanakan umrah pasca perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah berkata, “Wahai para sahabat, sembelih lah unta kalian (sebagai hadyu) dan cukurlah rambut kalian (sebagai tahalul).” Namun para sahabat menolaknya. Mereka mengatakan, “Bagaimana kami menyembelih unta dan bercukur sedangkan kami belum thawaf dan belum sa’i antara Shafa dan Marwa.” Rasulullah gundah dan berduka serta mengadukan hal itu kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, sembelihlah untamu dan cukurlah rambutmu (niscaya mereka akan mengikutimu).” Lalu Rasulullah menyembelih unta dan mencukur rambut. Lalu orang-orang (para sahabat) menyembelih unta dan mencukur rambut mereka. (Tafsir Mizan)

Wafatnya Ummu Salamah
Salamah Ibnu Abu Khaitsamah berkata, “Ummu Salamah wafat pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah pada tahun 62 Hijriyah. Menurut pendapat yang benar, Yazid berkuasa selama dua tahun. Ummu Salamah wafat setelah mendapat kabar kematian Husein bin Ali. Beliau wafat pada usia 84 tahun.”
Ath Thabrani meriwayatkan dengan para perawi terpercya dari Al Haitsam bin ‘Ady, “Istri-istri nabi yang pertama kali wafat adalah Zainab binti Jahsy yang wafat pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab dan yang terakhir kali wafat adalah Ummu Salamah yang wafat pada masa pemerintahan Yazin bin Muawiyah pada tahun 62 Hijriah.”

sumber:-fimadani-

Kiprah Ustadzah Yoyoh Yusroh

Mengenang Sosok Mujahidah Dakwah, Ibu Yoyoh Yusroh

Ibu Yoyoh Yusroh, dilahirkan dalam keluarga yang sangat concern dengan pengamalan syariat Islam. Ayahnya bernama Abdul Somad, seorang guru mengaji, penceramah pada hari-hari besar Islam, dari surau ke surau, masjid ke masjid dan taklim ke taklim di sekitar kampung halamannya, Batuceper Tangerang. Ayahnya selalu mengajak Ibu Yoyoh untuk aktif, kemudian melatihnya pidato dengan teks terjemahan dari Arab Melayu, itu terjadi sejak beliau duduk di bangku SD. Ayahnya juga sering melatih beliau bagaimana caranya menyampaikan ceramah dengan baik, memikat, berkomunikasi dengan massa.

Waktu itu beliau belum berjilbab, masih pakai rok biasa dan kerudung. Beliau berdiri di hadapan ibu-ibu dan bapak-bapak di majelis taklim besar, banyak sekali orangnya. Kebanyakan teman beliau adalah murid-murid dan rekan-rekan Ayahnya mengaji, bahkan guru-gurunya. Ya, beliau jadi akrab dengan mereka kalangan pengajian, dan mereka mengenal beliau sebagai mubaligh cilik.

Sang Ibu, Aminah, adalah seorang guru mengaji. Ibunya selalu menekankan untuk sering-sering mengaji Al Quran. Ketika bulan Ramadhan, saat beliau ingin membantu ibunya di dapur membuat penganan. Ibunya selalu mengatakan; “Sudahlah, Nak, sana pergi saja mengaji. Bikin kue sih nanti juga bisa, gampang dipelajari.” Logikanya, kalau beliau membaca Al Quran, sang ibu juga yang akan mendapat pahalanya. Kalau bulan suci Ramadhan kita targetkan khatam lima sampai enam kali. Gemar dan cinta membaca Al Quran sejak kecil. Meskipun belum paham artinya, seperti Al Kahfi, Al Mulk, Al Waqi’ah beliau sudah hafal sejak kecil. Sang ibu menekankannya, karena itu adalah sunah Rasulullah Saw.

Peran Ibu dan Ayah sangat besar dan berpengaruh untuk perkembangan pribadi, pendidikan dan kondisi beliau hingga sekarang. Beliau berharap dapat menyempurnakan dan meningkatkan kualitas keimanan serta ketakwaan hingga akhir hayat. “Iman, amal dan ketakwaan itu tidak berlaku surut, melainkan harus terus berkembang, dan meningkat ke taraf lebih tinggi. Demikian bila kita ingin akhir hayat kita dalam khusnul khatimah.” tuturnya.

“Saya tidak hafal seluruh Al Qur’an, tapi insyaAllah, banyaklah,” ujar beliau merendah, meskipun di kalangan tarbiyah beliau dikenal sebagai hafidzoh.

Ibu Yoyoh Yusroh kecil sangat senang membaca. Ayahnya juga suka membacakan tentang kisah Nabi dan para sahabat. Waktu SD beliau ingin menjadi sejarawan sehingga beliau masuk Fakultas Adab  IAIN dengan jurusan Sejarah Islam. Beliau bersekolah di sekolah-sekolah umum bukan di pesantren. SD dan SMP Negeri, lalu ke PGA pertama di Tangerang, dan ke PGA lanjutannya di Pondok Pinang, kemudian ke IAIN Ciputat.
Sejak sebelum mengenal tarbiyah, beliau sudah aktif di organisasi-organisasi Islam seperti Pelajar Islam. 
Beliau mempunyai banyak teman, dan tidak sedikit diantara mereka yang memintanya untuk mengajari mengaji. Beliau tidak pernah menolak permintaan teman-temannya itu,  kecuali kalau memang betul-betul tidak ada waktu, atau jadwalnya bentrok. Kalau sudah begitu, biasanya beliau akan mengalihkan kepada teman-teman lain.

Ibu Yoyoh Yusroh menikah l985 dengan Bapak Budi Dharmawan. Sang suami sangat mendukung beliau dalam semua kegiatan dakwah. Waktu itu mereka sama-sama masih sarjana muda. Suami dari Fakultas Psikologi Unversitas Indonesia.

Beliau dikaruniai Allah 13 orang anak. Anak pertama laki-laki, kuliah di UGM, Fakultas Ekonomi semester 9 (23 tahun). Anak ke-2 laki-laki, awalnya kuliah di FE UGM juga, kemudian mendapat tawaran beasiswa dari televisi Turki untuk belajar pada Internasional Of University di Sarajevo, Bosnia. Sekarang belum ada jurusan, tapi dia cenderung mengambil Hubungan Internasional. Dia bisa menghemat program studi bahasa Inggris yang seharusnya 8 bulan menjadi hanya 2 bulan. Anak ke-3 perempuan, semester 5 di Fakultas Pertanian, UGM. Anak ke-4 laki-laki, diterima di program studi tingkat SMA atau Mahad, program Al Azhar di Mesir. Anak ke-5 laki-laki, di SMKN Yogyakarta. Anak ke-6 laki-laki, di pondok pesantren Gontor. Anak ke-7 perempuan, di As-Syifa Al Hairiyah, SMIT sekolah punya Qatar. Anak ke-8 laki-laki, di Al Hikmah Citayam yang belum lama ini hafidz Al Quran 30 juz. Anak ke-9 laki-laki,  SDIT Al Hikmah  Citayam, baru 5 juz hafal Al Quran. Anak ke-10 laki-laki, di Al Hikmah juga, ya, tiga orang sekolah di boardingschool Citayam itu. Anak ke-11 laki-laki, kelas 2 di SDIT Insan Mandiri. Anak ke-12 perempuan, kelas 1 di Jakarta Islamicshool. Si bungsu perempuan 4,5 tahun di TK Kecil. Anak laki-laki 9 anak perempuan 4 orang. Di semua tingkatan SD itu ada mulai kelas enam sampai kelas satu.

Kalau politik praktis, Ibu Yoyoh Yusroh sudah sering diajak kampanye oleh ayahnya di panggung-panggung, dulu ayahnya PPP. Ayahnya sering dipanggil pihak berwajib, bahkan keluar-masuk tahanan karena kevokalannya. Misalnya saja ketika berbicara lantang tentang Keluarga Berencana. “Walaupun Pemerintah menyuruh kita ber-KB, tapi Al Quran tidak!” Dan itu disuarakannya di taklim-taklim, dengan menerapkan langsung dalam kenyataan. Padahal masa-masa itu Pemerintah Orba sangat represif.

Ibu Yoyoh Yusroh sangat terpengaruh dengan perjuangan ayahnya. Dari kecil sudah terbayang bagaimana dunia politik itu, tapi tak pernah terbayang, kalau pada akhirnya beliau menjadi anggota DPR.

Di Partai Keadilan Sejahtera, beliau termasuk salah satu dari 50 orang Dewan Pendiri. Menurut beliau, politik adalah suatu keniscayaan sebagai seorang Muslim. Ketika kita menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang yang tidak kuat untuk mensejahterakan rakyat, memperjuangkan keadilan, maka demikianlah kondisi negeri ini. Kita berharap kekayaan Indonesia yang begitu besar dapat dikelola dengan baik, didistribusikan secara merata. Negeri ini sudah kaya raya, tapi salah urus, sehingga kesenjangan antara si kaya dengan si miskin sangat  tinggi. Sebelum menjadi anggota Dewan beliau tidak tahu dengan dalam kondisi-kondisi keumatan di Indonesia, tapi setelah tahu suka prihatin sekali melihat kondisi umat, kondisi bangsa yang tidak mendapatkan hak-haknya. Karena terhalang oleh kedzaliman orang-orang tertentu yang memperkaya diri dan kelompoknya.

Dalam parlemen yang tidak homogen, semua punya kepentingan. Kita juga tidak menafikan masih ada orang-orang yang baik di partai lain. Mereka yang bisa diajak kerjasama, tapi lebih banyak lagi (dalam banyak hal)  yang tidak sependapat dengan keinginan kita. Kadang-kadang dalam posisi tertentu, umpamanya dalam pengesahan undang-undang, kita tidak sependapat tapi memberikan catatan-catatan. Misalnya tentang undang-undang sumber daya air, undang-undang APBN 2006-2007. Kita ikut kaukus antikorupsi, anggaran pendidikan 26 %, perempuan parlemen.

Kita menganggap parlemen itu bukan saja sebagai mimbar politik, melainkan juga mimbar dakwah. Kita bisa menyampaikan apa yang kita inginkan. Kita bisa belajar banyak di sana, semacam universitas. Ternyata keberadaan kita di DPR itu banyak mendengar, banyak melihat, kemudian bersama teman-teman menganalisa misalnya. Itu bisa mengasah kecerdasan intelektual dan emosional. Jabatan saya sebagai ketua komisi 8 di DPR. Di PKS sebagai anggota Majelis Syuro.

Beliau suka ”menghibur” dirinya di luar gedung DPR apabila menjumpai suatu hal yang tidak disukai, tapi harus terjadi juga. Melihat wajah-wajah yang baik di taklim-taklim, bersosialisasi dan berkumpul dengan orang-orang baik. Mereka yang satu pemahaman dan satu pemikiran dengan kita. Kalau tidak ada tugas dari partai atau sebagai anggota DPR, beliau masih aktif dakwah-dakwah di perkantoran, mengisi taklim-taklim, ceramah di lembaga-lembaga strategis, termasuk sebagai pengurus Yayasan Ibu Harapan di Depok.

Tentang manajemen waktu, beliau mengamalkan apa yang dibacanya dari buku-buku Yusuf Qordhowi, terutama tentang waktu dalam kehidupan Muslim. Yang paling efektif manakala  bisa tepat waktu, dan waktu menjadi produktif. Mengikuti cara Rasulullah, bangun sebelum subuh, berinfak, solat tepat waktu, dan merencanakan rencana siang hari sejak malamnya. ”Kalau waktu itu kita rencanakan dengan baik semuanya, insya Allah akan menjadi berkah.” Paparnya.

Terkait pendidikan anak-anaknya, di rumah ada orang-orang dekat, saudara, adik-adik yang ikut mengawasi anak-anak. Untuk hal-hal yang bersifat penting, tidak diserahkan kepada khadimat. Beliau berpikir bagaimana menjadikan mereka sebagai anak-anak yang sehat, intelektual yang memadai. Kemudian, benar bahwa anak-anak itu adalah hamba Allah yang taat. Suami sangat mendukung dalam melaksanakan konsep mendidik anak. Intinya, beliau mendidik anak-anak mengikuti cara Rasulullah.

Sejak mulai hamil, mengandung, melahirkan, menyusui sampai saat anak bisa bicara, dan mengikuti apa-apa yang kita lakukan, beliau mempraktekkan nilai-nilai Islam dalam mendidik anak. Misalnya, melatih anak berpuasa, solat, beraktivitas sosial, bersedekah sejak dini. Anak usia 2,5 tahun mulai diajak untuk berpuasa, begitu usia 3,5 tahun dia sudah terbiasa melakukan shaum di bulan Ramadhan. Salah satu hal yang mengharukan bagi beliau adalah ketika salah satu anaknya yang lulus SMA, kemudian diterima di PTN favorit. Waktu itu beliau mengajak untuk makan bersama, sang anak bilang; “Gak Mi, saya lagi shaum Daud.” Ternyata bagi sang anak shaum Daud itu sudah merupakan kebutuhan dan kenikmatan. ”Semuanya bila kita ajarkan sejak kecil, sungguh sangat bermanfaat. Umpamanya dalam berjilbab, walaupun anak itu masih kecil, tapi karena telah dibiasakan berkerudung, nah kalau dia mau keluar rumah selalu berkerudung.” Lanjutnya
Ibu Yoyoh Yusroh melihat anak-anak yang mampu menghafal Al Quran, ternyata sangat cerdas secara intelektual dan emosional. Terbukti, anak-anak yang di didik menghafal Al Quran, mereka dapat lulus SPMB, sekolah di PTN favorit. Mendidik anak secara Rasulullah itu bagi beliau sangat tepat. Boleh saja kita mengambil teori-teori dari luar, tapi itu hanya sebagai pengayaan.

Tanggung jawab orang tua dalam pendidikan keimanan, mengarahkan mereka mempunyai keimanan yang kuat. Saat anak mengeluh, kita bandingkan keadaannya dengan yang lebih tak beruntung. Sehingga dia tetap bisa kembali mensyukuri nikmat-Nya. Bagaimana mencintai Allah, mencintai Nabi, bukan mengidolakan ibu-ayah yang bisa saja berbuat kekhilafan. Mencintai Al Quran dan para pejuang Islam. Kita juga mendidik anak-anak tentang makanan yang halal.

Pendidikan akhlak; akhlak kepada orang tua, kepada sesama, kepada tetangga. Beliau mendidik anak-anaknya secara secara realis. Jika ada anak yang mengatakan hal-hal jelek, misalnya, beliau tidak akan memarahinya, tapi mengusut dulu dari mana sumbernya. Intinya tidak boleh panik dalam mendidik anak. “Di rumah kami kata-kata penghakiman, hujatan, sesalan atau cemoohan diharamkan.” kata beliau.

Dalam hal keseimbangan dunia dengan ukhrowi, beliau selalu berusaha menikmati semua karunia Allah. Kapan saatnya harus menikmatinya, dan kapan pula harus menahan. Beliau memberikan pengertian kepada anak-anak, meskipun mereka anak anggota DPR, tapi tidak harus selalu pergi sekolah diantar-jemput mobil pribadi. Makan tidak harus selalu di restoran, umpamanya. Beliau sering perlihatkan isi tas; “Nah, ini amplop untuk Palestina, ini untuk infak, ini untuk yatim-piatu. Uang Umi tinggal segini. Kalau menuntut seperti keinginan kalian, mau gak kita pakai uang riba?” Akhirnya anak-anaknya pun bisa menerima kenyataan.

Misalkan, ada anak yang kepingin ponsel, ini biasanya setelah SMP. Itu juga pakai proposal; apa manfaatnya, apa mudharatnya. Ketika kecil anak-anak tidak dibiasakan menonton televisi. Nah, setelah besar, tiga anak mewakili dan bikin proposal bagaimana pentingnya televisi. Tapi itupun untuk acara-acara tententu saja, tidak yang membuang-buang waktu. “Intinya saya masih terus belajar, baik sebagai ibu, sebagai politikus, sebagai wanita solehah,” pungkasnya merendah.
***

Kini, perempuan pilihan itu telah mendahului kita semua, semoga semua kebaikan dan keikhlasannya dalam berbagi, menjadi pahala dan memudahkannya dalam perjalanan menemui Sang Khalik.

Allahummaghfirlaha warkhamha wa’afiha wakafu’anha… Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi dirihai-Nya…

Berikut kenangan ust Salim A Fillah terhadap alm. Ustadazah Yoyoh Yusroh :
“Hanya berkesempatan beberapa kali jumpa Ibu Yoyoh, saya selalu berada dalam perasaan takjub dan malu. Satu saat, sebelum sesuatu acara di mana Ibu Yoyoh dan pak Budi Dharmawan menjadi pembicara serta saya sebagai moderatornya, di belakang pangggung tersaksikan suami istri itu bergandengan tangan, saling bertatap sambil tersenyum, dan saling menyimak ulang hafalan Al Qur’an! MasyaAllah, saya bertanya, berapa juz masing-masing mereka membaca Al Qur’an setiap harinya? Kata Ibu Yoyoh, “Sangat kurang dibanding apa yang harus kami penuhi selayaknya. Hanya 3 juz.” Saya : “Bukannya pak Budi dan Ibu Yoyoh sibuk sekali, bagaimana bisa menyempatkan sebanyak itu?”; “Justru karena sibuk dan banyak menghadapi aneka persoalan serta begitu beragam manusia, maka harus memperbanyak Al Qur’an” kata Ibu Yoyoh.
Disarikan dari buku “30 Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia”, 2010, Penerbit Zikrul Hakim, Jakarta dan dari beberapa sumber lainnya

Fatimah Az-Zahra, Inspirasi Setiap Wanita

Memaparkan perjalanan hidup Fatimah terasa sangat sulit bagi saya. Banyaknya keistimewaan dan sifat baik yang disandang Fatimah membuat saya dihinggapi rasa malu saat menuangkan tulisan ini. Kehidupan beliau banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini, laksana permata indah yang memancarkan cahaya. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda untuk melihat sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk dijadikan inspirasi, khususnya bagi kaum wanita.

Tak diragukan lagi, sebagian besar problem dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah saat dia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.

Fatimah Az-Zahra, adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”

Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Az-Zahra. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi, “Siapakah di antara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.”

Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, berilah aku keikhlasan. Aku ingin tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”

Kecintaan Fatimah kepada Allah disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke qalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.” Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Fatimah mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Maha Benar.

Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah melalui firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.” Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.

Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah diakui oleh semua orang yang hidup satu zaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat akan datang ke rumah Fatimah ketika semua telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.

Poin penting lain yang dapat menjadi inspirasi dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Fatimah Az-Zahra mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Fatimah berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini..”

Detik-detik akhir kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”

Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Az-Zahra menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah ruh orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”

Tanggal 3 Jumadil Akhir tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Az-Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Kepada Fatimah, Rasul pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.“  

Kecintaan Rasulullah kepada Fatimah Az-Zahra merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Disaat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi tahu akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak.

Karena itu, sejak dini beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita sejagat itu. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah inspirasi bagi kaum wanita. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada keteladanan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki. 

Di penghujung tulisan ini, saya ingin tegaskan bahwa saya kehabisan kata-kata untuk menuliskan kehidupan putri Rasulullah ini. Dan tidak akan ada seorang pun yang sanggup menulisnya. Mudah-mudahan apa yang disediakan Allah baginya cukup untuk mewakili semua itu. Dialah wanita terbaik di zamannya dan putri dari wanita terbaik (Khadijah ra.) dan laki-laki terbaik (Muhammad Rasulullah). Dia juga pemimpin para wanita surga. Allah ridha terhadap Fatimah dan menempatkannya di surga Firdaus.


Oleh: Sri Efriyanti Az-Zahra, Medan

Tetaplah Menjadi Bintang Yang Bersinar Terang

Berbicara mengenai jodoh,  selalu menjadi topik yang tidak pernah habisnya. Kadang suka membuat senyum-senyum sendiri, tak jarang juga membuat air mata berlinang tiada henti. Di media manapun, terkhusus media online, hal-hal yang berbau jodoh dan sepaket dengan cintanya selalu menjadi bahasan yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari para pembacanya. Pun salah satu artikel yang bertajuk Ya Akhi, Haruskah Aku yang Meminangmu?, yang di published  di FIMADANI tanggal 24 Oktober 2011.

Seperti kebanyakan pembaca lainnya, tangan ini reflek mengklik link terkait, karena tergoda dengan judulnya. Ya… judulnya sangat menantang sekali. Tanpa berasumsi, saya menikmati baris demi baris yang tersaji, hingga saya sampai pada kalimat,
Yaa Ukhti.. Antum harus sadar, bahwasanya di luar sana juga banyak yang menantimu. Hanya ketidakberanianlah (karena takut ditolak) yang menghalanginya. Semakin banyak kelebihan yang Antum miliki, semakin pula menjauhkan mereka dalam mendapatkanmu. (M. Kamari, 24 Oktober 2011)
Hm… berkali-kali saya membaca potongan paragraf tersebut, mencernanya, mengolahnya dengan hati dan juga pikiran. Hanya satu yang ada di benak saya, “Haruskan seorang wanita berhenti bersinar agar dimudahkan jodohnya?”. Saya tahu.. bukan itu maksudnya, apalagi setelah membaca paragraf selanjutnya. Tapi..
***
Satu hal yang selalu saya dan mungkin juga akhwat belum menikah lainnya yakini, bahwa kami tidak pernah tahu apa yang sudah ditakdirkan bagi kami. Yang bisa kami lakukan hanyalah berusaha semaksimal mungkin untuk menyeimbangkan apa yang kami harapkan dan inginkan dengan kenyataan yang Allah telah tetapkan bagi kami. Allah bekerja dengan cara-Nya yang misterius, kebijaksanaan-Nya jauh dari apa yang bisa kami genggam dan pahami. Maka yang bisa kami lakukan hanyalah berupaya menjadi hamba lebih baik lagi.

Sama seperti insan lainnya di dunia ini, kami juga ingin mengikuti sunnah nabi, pun kami ingin menggenapkan dien kami. Kami haus dan rindu akan cinta, rindu akan cinta-Nya. Rindu yang membuat kami semakin merindui-Nya, cinta yang membuat kami semakin mencintai-Nya. Dan ketika ketetapan itu belum menjadi takdir kami, mengapa kami harus memudarkan sinar yang telah dititipkan-Nya kepada kami? Bukankah kelebihan yang di anugrahkan kepada kami juga rahmat-Nya? Mengapa kami harus membiarkannya redup demi hanya sebuah cinta manusia yang tidak pasti? Bukankah kontribusi dalam membangun umat ini dibutuhkan dari siapa saja? Tidak peduli pria atau pun wanita, remaja, kanak-kanak, dewasa atau pun orang tua; sudah menikah atau pun masih single. Semua punya kewajiban yang sama!

Ketika kami dari hari ke hari terus mengukir prestasi bukan untuk membuat kami menjadi “gagah” dan disegani orang-orang di sekitar kami. Tidak! Sama sekali tidak! Semua yang kami lakukan semata-mata wujud pengabdian kami kepada-Nya, kekasih utama kami, Al Hakim yang kepada-Nya lah kami menggantungkan nasib.

Kami sudah dibekali waktu dan kesempatan dalam penantian kami, lalu mengapa kami harus menyia-nyiakannya? Bukankah muslim yang baik itu seseorang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin? Bagaimana jika nyawa kami di ambil pemilik-Nya di saat kami belum merubah status single kami? Sejatinya kami juga manusia biasa yang memiliki waktu terbatas di dunia ini, maka sudah sewajarnya kami ingin memaksimalkannya agar ketika kami menghadap Kekasih sejati kami nanti kami punya bekal yang cukup ketika di tanya untuk apa saja waktu yang diberikan kami manfaatkan.

Tidak seharusnya ada alasan dari lawan jenis kami, yang merasa berat dan terintimidasi dengan prestasi yang kami miliki. Seorang laki-laki beriman seharusnya malu jika merasa terbebani dengan intelejensi, pendidikan ataupun karir (calon) pasangan hidupnya. Mereka tanpa mencoba memahami kami seolah-olah sudah lebih dahulu ber-shu’udzan bahwa kami tidak akan menjadi istri yang berbakti, sombong, dan tidak bisa menghargai suami kami karena sedikit kelebihan yang kami miliki. Padahal apalah arti semua itu dibanding nikmatnya iman? Wallahualam.

Oleh: Jaufa, Bukittinggi
Dalam sebuah penantian

Ketika Perbedaan Itu Datang

Mengenang masa-masa awal menikah, tentu kita dapat menemukan begitu banyak pengalaman menarik dalam membina hubungan dengan pasangan kita. Tidak hanya  yang memilih menikah dengan proses ta’aruf (perkenalan) begitu pula dengan proses yang lainnya. Saat seorang pemuda dan pemudi akhirnya sepakat untuk mengikat janji menuju sebuah pernikahan, setelah mengetahui dan menyukai beberapa kesamaan dan perbedaan yang ada.

Awalnya semua perbedaan tak menjadi masalah, karena kedua belah pihak secara sadar dan sabar berusaha menerima, menikmati,  memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Pasangan baru biasanya sangat ingin selalu dekat, merasanya nyaman terus bersama. Semua berlangsung sangat ideal dalam berhubungan dan berkomunikasi.

Momentum ini sebenarnya sangat baik untuk membuat program dan perencanaan arah biduk rumah tangga  ke depan. Inilah masa-masa yang kita kenal dengan istilah berbulan madu, saat usia pernikahan masih sangat muda. Biasanya kondisi ini bertahan sampai bulan ke-6 sejak hari pernikahan.

Mulai bulan ke-6 beriringan dengan bergantinya waktu, bertambahnya amanah, berubahnya tanggung jawab, ditambah lagi dengan persoalan finansial. Hari demi hari yang dilalui, semakin tampaklah perbedaa-perbedaan, sedikit demi sedikit. Kata orang “keluar aslinya”, konflik mulai bermunculan sebagai letupan perasaan kecewa pada pasangan.
Disini ujian tahap awal pernikahan dimulai, masih tetap ikhlas atau malah terganggu niat awal menikah setelah mengetahui sifat dan karakter asli dari pasangan kita.
Kemudian bila kamu tidak menyukai (pasangan hidup kalian, maka bersabarlah),  karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu (dari mereka), padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An Nisa : 19)
Berbagi pengalam pribadi. Saya adalah seorang laki laki yang dilahirkan, dibesarkan dalam kerasnya budaya dan adat istiadat suku Batak. Lima tahun yang lalu, saya  menikahi  seorang muslimah dari suku jawa yang bisa dikatakan memiliki sifat yang sangat lembut jika dibandingkan dari pola yang ada di keluarga besar saya di Sumatera Utara. Istri saya waktu itu baru saja menyelesaikan kuliahnya, sedang saya masih berstatus mahasiswa.

Har-hari pertama usai akad nikah menjadi pengalaman yang unik, karena masih sama-sama malu, berjalan bersama masih kikuk, menyampaikan maksud hati penuh dengan kebingungan, sebentar-sebentar memandang wajahnya dan bertanya dalam hati : ”kamu ya istriku?”, “kog bisa?”, subhanallah. Intinya semua terasa indah dalam menikmati pengalaman baru mengakrabkan diri, dengan seseorang yang baru dalam hitungan hari kita kenal, ternyata dialah pendamping hidup sepanjang hayat. IsnyaAllah…

Yang saya ingat setelah memasuki pekan ke dua pernikahan kami, adalah pertama kali saya merasa kebingungan yang belum pernah sebelumnya saya rasakan. Saat saya mendapati istri saya menangis tanpa diketahui sebabnya. Saya memberanikan diri untuk bertanya. “Saya menagis karena bahagia.” jawabnya sambil tersenyum dan menghapus air matanya. Satu kata yang ada dipikiran saya : “wanita memang aneh.”
Ya menurut saya waktu itu memang aneh, ternyata perempuan itu bisa menangis sampai sesenggukan, kemudian dalam hitungan detik bisa langsung tersenyum dan bercanda kembali. Apa kalimat yang pas dengan fenomena ini? Maka saya mulai memberi label ini salah satu dari “Mahakarya ciptaan Allah”.

Semakin hari,  saya banyak belajar dari kebersamaan, memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Saya dan istri saya tidak lah cocok, kami memiliki selera yang berbeda dalam memilih menu makanan, kami memiliki pandangan yang berbeda tentang mengelola keuangan, kami memiliki perbedaan konsep dalam mendidik dan mengasuh anak, kami memiliki perbedaan dalam menyikapi orang tua kami, kami memiliki perbedaan dalam kebiasaan tidur , kami memiliki perbedaan dalam memilih aktifitas di waktu luang kami. Dan masih banyak lagi perbedaan kami. Dari perbedaan kebiasaan dan banyak hal kami sering berbeda pendapat, namun Alhamudulillah tidak pernah sampai bertengkar. Ini salah satu keindahan lain menikah karena dakwah, sedemikian banyak perbedaan kami tidak menjadi kendala bagi kami mengayuh biduk rumah tangga, karena semua perbedaan itu diikat dengan semua ikatan yang kuat apalagi kalau bukan ikatan visi dakwah dan mengharap keridhaan Allah.

Tiba tiba saya teringat sebuah nasehat  Ust. Anis Matta dalam sebuah rekaman ceramah pranikah. Beliau mengatakan :
“kita tidak sedang mencari pasangan yang cocok, tapi pasangan yang tepat.”
Saya dan istri awalnya merasa memang bukan pasangan yang cocok, ibarat bahasa anak muda sekarang, saya mungkin bukan “tipe” yang di idamkan istri saya, begitu pula sebaliknya. Dalam perjalan rumah tangga kami sampai hari ini, ternyata kami merasa bahwa kami adalah pasangan yang tepat. Keragaman ide dan perbedaan justru membuat keluarga kami banyak memiliki pilihan pilihan sebelum mengambil keputusan.
Kemudian bila kamu tidak menyukai (pasangan hidup kalian, maka bersabarlah),  karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu (dari mereka), padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS Ani Nisa : 19)
Sahabat,
Dalam pernikahan yang terpenting adalah senantiasa memperbaharui niat kita tentang tujuan menikah. Senantiasa menyegarkan kembali tekat menikah untuk memasuki jenjang berikutnya setelah meng-ishlah diri, yaitu dengan membina keluarga muslim, meyiapkan peradaban, menegakkan kalimat Allah di muka bumi, semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah. Maka insyaAllah rumah tangga kita akan terhindar dari perseteruan suami istri saat terjadi perbedaan pendapat maupun karakter dengan pasangan kita.
Bila terjadi perbedaan pendapat dengan pasangan kita, sebagai suami hendaklah :
  • Bersabar dalam menahan diri dari segala bentuk kekasaran dalam kata dan perbuatan. Tetaplah baik dan lemah lembut.
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya” (H.R. Ibnu   Majah)
  • Jadilah pendengar yang baik saat pasangan kita menyampaikan pendapatnya, berikan kesempatan pasangan kita menyelesaikan argumentasinya, tak perlu disela dan di debat. Setelah pasanganan kita selesai barulah kita menyampaikan pula pendapat kita secara lemah lembut dan tentu ide-ide yang objektif dan masuk akal.
  • Perhatikan “pich control” dalam menyampaikan pendapat. Seorang suami yang berbicara dengan nada yang rendah misal menggunakan nada “Bass” akan lebih memberi kesan berwibawa jika dibandingkan bila Anda berbicara dengan nada “tenor”. Intinya pastikan Anda selalu memperhatikan kelemah lembutan dalam berbicara, karena yang anda hadapi adalah mahluk Allah yang “halus”.
Dalam sebuah riwayat dikatakan seorang sahabat bertanya pada ‘Aisyah ra : “Bagaimana keadaan Rosulullah saw ketika bersepi sepi bersama isteri di rumahnya?” jawab ‘Aisyah ra:  “Sangat lembut tertawa dan senyumnya (amat romantis)”  Thobaqot Qubro 1 : 365
  • Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengenali perasaan yang ada didalam hati kita, kemudian berlatih bagaimana mengungkapkan perasaan kita kepada orang lain. Mengelola perasaan sangat penting karena ternyata perasaan itu mempengaruhi cara kita berpikir.
Semoga Allah memberkahi rumah tangga kita, perbedaan dalam berumah tangga adalah sesuatu yang lumrah dan memang perlu dinikmati. Perbedaanlah yang menjadikan biduk rumah tangga kita lebih semarak dalam harmoni.

Selamat menempuh hidup baru!

sumber:-fimadani-

Sudahkah Mendo'akan Murabbi?

Doa adalah kekuatan seorang muslim. Dan seorang muslim yang banyak berdoa, justru disitulah bukti kehambaan kepada Allah SWT semakin tinggi. Hanya saja doa mesti dibarengi dengan kerja/ikhtiar. Karena orang yang bekerja tanpa berdoa berarti dia sombong, sebaliknya orang yang berdoa tanpa bekerja menandakan kebodohan/kejahilan dirinya.

Masih ingatkah saudara, kisah bagaimana seorang sahabat yang selalu berdoa untuk kebaikan seraya memaafkan segala kesalahan orang yang dikenalnya sebelum tidur. Atas kebiasaan berdoa itulah, sahabat tadi diganjar dengan kebaikan pahala berupa syurga. Dan yang menyampaikan khabar masuk syurganya sahabat tadi langsung Rasullullah SAW dihadapan majelis sahabat beliau yang lainnya.

Lantas, tidaklah ada salahnya kita mengikuti kebiasaan berdoa untuk kebaikan seraya memaafkan segala kesalahan orang yang kita kenal sebelum tidur. Yang kita harapkan tentulah, semoga kebiasaan kita itu semoga bisa menjadi wasilah masuk syurga. Dan tentunya, itu kita lakukan sebagai salah bukti kecil membalas kebaikan kebaikan orang yang telah bersentuhan dengan kita. Karena mungkin pembalasan dengan materi, kita belum memilikinya. Dan karena mungkin telah terpisah jarak ribuan kilometer, justru dengan mendoakannya menjadi lebih dekat jarak kita dengan dia.

Salah satu orang yang telah bersentuhan dengan kita ialah Murabbi kita. Melalui tangan-tangan mereka lah kita semakin jauh mengenal Al Islam. Karena kegigihan dan perjuangan merekalah kita semakin mengerti makna indahnya berjamaah. Tak kenal menyerah, tak kenal henti Murabbi kita dengan sabar mengajari kita Ad Dien, hal yang sebelumnya tidak kita dapatkan di pendidikan formal.

Tak ada seorang Murabbi pun, yang mengharapkan pembayaran materi dari kita. Dan tak ada seorang Murrobi pun yang mewajibkan kita, setelahnya untuk membayar upeti sebagai balasan atas pengajaran mereka kepada kita. Tidak. Sekali lagi tidak.

Setiap Murabbi telah memposisikan dirinya layaknya orang tua kita sendiri, yang sabar, tak kenal pamrih mengajarkan hal-hal yang tidak kita ketahui sebelumnya. Di saat bersamaan, bisa jadi kita begitu malas menemui dirinya setiap pekan padahal itu telah kita janjikan sebelumnya.

Tak mengenal teriknya mentari, tiada patah arang walau hujan mengguyur, Murabbi mendekat dan mendatangi kita mengajarkan nilai nilai qur’ani. Di saat bersamaan, kita menjauh dari ‘kejaran’ Murabbi. Tapi, mereka, Murabbi itu tidak pernah mundur selangkah pun, ibarat layar terkembang pantang surut diturunkan, mereka terus mengajarkan kepada kita nilai nilai keislaman, hingga akhirnya sampai saat ini, dan selamanya (insyaAllah) kita mengenal Al Islam dan menjadi prajurit prajurit Ad Dien sampai ajal menjelang.

Bahkan, atas izin Allah SWT melalui wasilah dan tangan Murabbi-lah kita menemukan pasangan hidup yang semakin menenteramkan jiwa dan hati kita. Masih ingatkah, saat proses ta’aruf itu, Murabbi begitu sabar dan penuh takzim mencoba memenuhi prasyarat calon-calon pasangan hidup pilihan kita. Tak jarang Murabbi pun mengernyitkan dahinya atas terlalu sempurna nya prasyarat itu, tapi pernah kah kau lihat Murabbi langsung marah dan memaki kita?

Atas itu semua, sudah sepantasnyalah, kita selalu mendoakan untuk kebaikan kebaikan Murabbi kita. Di dunia dan akhirat. Sebelum tidur sempatkan berdoa untuk kebaikan Murabbi kita. Pergilah di gelapnya malam, di heningnya gulita malam, di saat orang tidur dengan nyenyaknya. Bayangkanlah senyum sabar Murabbi kita, bayangkanlah teduh wajah wajah mereka diiringi doa doa kebaikan buat mereka. Kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat.

Tentunya itu semua, juga kita lakukan pada porsi yang lebih besar lagi buat orang tua kita, guru guru yang mengajar kita kala waktu masih sekolah, dosen dosen yang membimbing kita sewaktu kuliah.
Ya Allah, panjangkanlah umur Murabbi kami dalam ketaatan kepadaMu…
Ya Allah, berilah ketajaman pikiran, kekuatan dan kesehatan bagi Murabbi kami…
Lindungilah mereka dari kejamnya terpaan fitnah Ya Rahman Ya Rahim…
Ya Azis Ya Qowiy, berikanlah kepada Murabbi kami, kekuatan iman untuk menegakkan kebenaran, anugerahkanlah kepada Murabbi kami keteguhan hati untuk menjunjung tinggi keadilan dalam bekerja sepenuh hati membimbing dan melayani masyarakat.
Ya Latief Ya Malik, tanamkanlah kepada Murabbi kami kejernihan dan kearifan dalam berpikir, kecepatan, ketepatan kecermatan dalam bertindak dan mengambil keputusan, kejujuran dan ketulusan dalam menjalankan tugas dan kewajiban da’awi
Ya Allah Dzat Yang Maha Penyelamat, jauhkanlah kepada kami silang dan sengketa, lindungilah kepada kami dari rasa saling curiga yang hanya membawa malapetaka, hindarilah kepada kami dari perpecahan dan permusuhan yg hanya membawa kehancuran, satukanlah hati kami dalam ikatan cinta di dalam cintaMu…..
Amin Ya Robbal ‘Alamien…..
Oleh:  Sairin Al Brebesiy