Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Minggu, 08 Januari 2012

Mendidik Buah Hati Menjadi Anak Yang Super

Anak, adalah amanah dari Allah yang harus dijaga dan dididik dengan baik. Mendidik anak menjadi anak luar biasa dan super bukanlah tanpa usaha, ia tidak bisa diperoleh dengan cara yang instan, apalagi anak adalah “aset” paling berharga yang tak akan pernah tergantikan. Tentunya kita juga tidak ingin kehilangan “aset” berharga itu begitu saja. Proses pendidikan anak itu bahkan bisa dimulai sejak sebelum pasangan bertemu.
Mencoba sedikit share tentang bagaimana mendidik anak agar menjadi anak yang super. Ilmu ini saya peroleh dari  seorang motivator, Jamil Azzaini.

Mendidik anak bisa dimulai dari memilih pasangan. Kriterianya mentalitas dan spiritualitas yang baik. Ada orang yang mentalitasnya baik tapi spiritualitasnya kurang. Sebaliknya ada orang spiritualitasnya baik tapi mentalitasnya kaku dan sulit beradaptasi. Jadi pilihlah pasangan yang mentalitas dan spiritualitasnya baik dan siap untuk terus ditingkatkan. Jika Anda sudah memantapkan pilihan untuk pasangan hidup, terimalah ia apa adanya, jangan menuntut kesempurnaan.

Ketika pun Anda telah menikah dan kemudian sang istri hamil, pastikanlah makanan & minumannya halal dan sehat, aktivitasnya positif. Saat istri melahirkan sebaiknya suami berada di sisinya untuk mendampingi, pujilah nama-Nya di telinga anak dan istri. Berilah nama anak dengan nama terbaik. Ingat nama adalah doa dan pastikan dia tidak malu bila kelak dipanggil.

Sentuhan kulit secara langsung dari orang tua kepada anak ketika masih bayi dan baru lahir sangatlah penting. Gendonglah, ciumlah, peluklah saat mereka bayi.  Kualitas dan kuantitas bertemu langsung itu penting.
Ketika sang anak sudah beranjak besar, jangan biarkan anak-anak menghabiskan waktu di depan TV dan lebih banyak bermain dengan pengasuhnya. Pastikan Anda bisa hadir saat momen penting seperti pembagian  rapor atau pertunjukan di sekolah atau saat kompetisi.

Temukanlah bakat anak kita dan kembangkanlah, temani mereka, berikan hadiah saat mereka berprestasi. Jika mereka melakukan kesalahan, ajaklah bicara empat mata. Jangan marahi anak di depan teman-temannya atau orang lain. Dengarkan saat mereka bercerita, jangan sambil main BB atau HP. Tatap matanya dan berikan respon yang tepat. Kenalilah teman anak-anak kita, sekali-kali ajaklah mereka berenang bersama atau main bersama, dan kita menemaninya. Jangan biarkan anak sibuk di depan benda elektronik, perbanyak berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Menjelang tidur berceritalah pada mereka dengan cerita-cerita yang mengandung nilai kehidupan. Jangan ajari anak hanya menghafal doa tapi tidak tahu maknanya. Biasakan mereka memahami apa yang mereka ucapkan.
Saat anak sudah remaja, adakan forum Curhat Keluarga dan biarkan mereka mengeluarkan uneg-unegnya. Ajari mereka berargumentasi yg sehat, saat beda pendapat carilah pendapat yang terkuat untuk jadi pegangan. Saat remaja perlakukan mereka seperti sahabat kita. Ajak diskusi, ajak ketemu teman-teman kita.
Semoga bermanfaat.

Oleh: Iswandi Banna

Sudahkah Kita Memuliakan Orang Tua?

Banyak orang yang telah mengikuti pelatihan manajemen keuangan dan belajar dari pelatih-pelatih sukses untuk belajar bagaimana caranya menjadi orang sukses, hidup bahagia dengan keberlimpahan. Bahkan tidak sedikit yang  menginvestasikan banyak uang untuk membayar semua pelatihan. Namun banyak pula yang terus-menerus gagal dan semakin terpuruk dalam perjalanan hidupnya.
Sahabat, ada satu hal yang mungkin sering terlupakan dalam episode kehidupan kita, yaitu keberkahan, kesuksesan, kebahagiaan itu datang dari ridha Ayah dan Ibu kita.
“Keridhaan Allah adalah keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah adalah kemurkaan orangtua.” (Hadis riwayat Tirmizi)
Saat ini mungkin Anda sedang duduk dihadapan layar monitor notebook atau PC Anda,  kedua bola mata Anda sedang menelusuri susunan baris demi baris tulisan ini. Sambil Anda terus merasakan kenyamanan tempat duduk Anda, saya ingin mengajak Anda untuk mengenang  jasa kedua orang tua kita sejak kita masih dalam kandungan hingga saat ini, kita bisa mengerti dan menikmati ragam teknologi untuk terus meningkatkan kualitas hidup kita.
Dimana orang tua kita saat ini?
Apa kira kira yang sedang mereka lakukan?
Apa ya yang sedang mereka pikirkan sekarang?
Kapan terakhir kali kita mendo’akan mereka dengan ikhlas dan ketulusan hati terdalam?
Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang penting untuk kita jawab dalam hati kita,agar kebaikan dan cinta mereka selalu hidup dalam jiwa kita.
Ayah dan Ibu kita adalah orang-orang yang mulia, bahkan Allah SWT menempatkan mereka pada urutan keutamaan yang tinggi setelah penghambaan kepada-Nya.
“Dan Tuhanmu telah menetapkan keputusan, supaya kamu jangan menyembah kecuali kepada-Nya saja dan juga berbakti terhadap ibu bapa. Jika salah seorang di antaranya atau keduanya sudah lanjut usia, jangan menolak permintaan mereka secara kasar, namun ucapkanlah terhadap mereka perkataan yang sopan santun.” (QS Al-Isra’, ayat 23)
Demikianlah Allah memerintahkan kepada kita agar selalu berbakti kepada kedua orang tua kita. Lebih dari 40 minggu ibu kita membawa kita dalam kandungan beliau, berjalan terasa berat, tidur tak nyaman, sekujur tubuh sering terasa sakit karena menahan nyeri. Namun semua dilalui dengan penuh keikhlasan.
“Dan Kami telah mengamanatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah semakin bertambah lemah juga Maksudnya, derita payah waktu mengandung bukan semakin berkurang, malah sebaliknya semakin bertambah, sebab beban kandungan semakin lama semakin membesar dan memberat., sampai masa penyapihan bayinya dalam umur dua tahun. Karena itu, bersyukurlah kepada-Ku dan taat kepada kedua orang tuamu, karena kepadakulah tempat kembalimu.” (QS. Luqman : 14)
Pada hari kelahiran kita, ibu yang berdarah-darah sangat siap mengikhlaskan nafas terakhirnya jika memang harus ada yang meninggal dunia, demi hadirnya seorang buah hati. Tiada harapan lain dalam hati beliau kecuali kelak bayi yang lahir ini menjadi anak yang shalih dan shalihah.

Kita lahir tanpa daya. Saat tubuh kita kedinginan, ibu yang memeluk dan memberi kehangatan cintanya. Saat tengah malam tiba tiba kita terbangun, tak tahu apa yang kita rasakan, apakah lapar, mengantuk, ingin buang air, dan lain sebagainya, kita hanya bisa menangis, namun ibu sangat mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Dalam kantuknya ibu tetap rela bangun dan terjaga melayani semua kebutuhan kita. Tidak jarang beliau nyaris tak bisa memejamkan mata dengan nyaman di malam hari.

Tak cukup sampai disitu, semakin hari kita semakin tumbuh bersamaan dengan bertambahnya usia, justru bukan mengurangi beban beliau. Namun ternyata masa kecil kita sangat menyusahkan beliau.
Saat masa-masa awal belajar berjalan, berulang kali kita mencoba berdiri dan jatuh kembali, bangun dan jatuh lagi. Siapa motivator terbaik kita saat itu hingga kita bisa berjalan sempurna hari ini, bahkan kita bisa berlari cepat? Ternyata ibu dan ayah lah yang dengan sabar melatih kita, mulai dari cara berjalan, mengenakan dan melepas pakaian, menyuap makanan kedalam mulut, juga melatih kita dengan sabar mengenali satu persatu makna kata kata.

Saat kita sekolah tidak jarang diantara kedua orang tua kita yang menekan kebutuhan mereka, dan adapula yang sampai mengurangi jatah makan mereka, hanya karena ingin kita bisa sekolah, agar kita bisa membeli buku, agar kita bisa berganti sepatu dan baju, agar kita bisa juga membeli jajan seperti teman teman kita.
Jika hari ini kita merasa hidup kita bermanfaat, kita bisa tersenyum dan tertawa maka sungguh semua ini tak mungkin tanpa peran ibu dan ayah kita.

Hari ini cerita berubah, kini kita telah dewasa, ada diantara kita yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dan mereka tak lagi muda, ayah ibu kita kini semakin renta, kulit mereka semakin berkerut, mata mereka perlahan menjadi kurang awas, kemampuan mereka semakin lemah.

Kenangan apa yang hadir dalam ingatan kita sekarang? Dari sekian banyak kebaikan mereka, mana yang paling kuat dalam ingatan kita? Atau mungkin kekurangan mereka yang  justru kita ingat ingat, cara mendidik mereka yang sering kita kritik, dengan mengatakan bahwa cara mereka kuno, kolot  dan seterusnya? Atau mungkin ada dendam kemarahan yang belum terselesaikan dengan Ayah Ibu kita?

Apapun itu selama emosi negatif yang masih kita bawa sesungguhnya tidak akan mengundang keberkahan dari Allah untuk kehidupan kita.

Mari menyusun kembali langkah langkah sukses kita dengan memaafkan mereka jika ada kesalahan mereka yang masih membekas di hati kita. Ketidak setujuan kita pada perkataan dan sikap Ayah Ibu janganlah menjadikan kita lupa berbuat baik pada mereka. Seburuk apapun orang tua kita, sejelek apapun perilaku mereka kepada kita, tetap saja mereka orangtua kita yang wajib kita hormati. Sudah selayaknya kita melatih diri untuk menghancurkan gunung ego dalam diri kita dengan senantiasa berkata dan berprilaku baik pada mereka. Janganlah dendam dan emosi negatif yang merusak kehormatan kita pada mereka yang sungguh sangat mulia.

Semoga dengan niatan berbakti kepada kedua orang tua kita, Allah akan lapangkan semua urusan kita, Allah terangi hari hari kita dengan cahaya-Nya. Dah kesuksesan penuh berkah semakin mudah untuk digapai dengan dukungan doa tulus ikhlas dari kedua orang tua kita.
Insyallah.

By.fimadani

Arti “Wkwkwk” Dari Sudut Pandang Sains




Sudah pasti kita mengetahui makna dari kata amburadul tersebut. “Wkwkwkwkwk”. Anda pun pasti sudah tidak ingat berapa kali Anda menggunakan kata tersebut dalam interaksi Anda di dunia maya. Kata tersebut sudah biasa diucapkan oleh orang Indonesia untuk menyatakan tertawa dalam interaksi sosial di dunia maya. Dalam dunia sains hal tersebut dikenal dengan onomatopoeia (Onomatope berasal dari kata bahasa Yunani yang berarti “membuat nama”). Onomatope berarti “nama” yang diberikan kepada suara. Jadi singkatnya onomatopoeia adalah sebuah kata untuk meniru sebuah suara.
Lalu bagaimana dengan negara lain untuk interaksi sosial mereka di dunia maya, apakah memiliki istilah yang sama dengan Indonesia? Tentu saja ada, beberapa negara yang menggunakan onomatopoeia dalam interaksi mereka yang maknanya kira-kira sama dengan “wkwkwkwkwk”:
  1. Puerto rico = “jajajajaja“
  2. Brazil = “kkkkkkkkk“
  3. Thailand = “55555555“
  4. Canada = “wukaywukaywukay“
  5. Jepang = “wwwwwwwww“
  6. Malaysia = “Kahkahkahkah“

_____^^_______

Fakta Unik


Menjadi Ibu Tiga Warna



Anugerah, begitu kita menyebutnya, adalah sesuatu yang hanya bisa diberikan olehNya. Tak ada seorangpun atau sebuah instansi pun yang bisa menggantikan posisiNya sebagai pemberi. Dan tak berbilang sudah anugerah yang kuterima, salah satu yang terindah adalah menjadi ibu. Tak tanggung-tanggung 3 buah hati dipercayakanNya kepadaku.

Sebagaimana ibu-ibu masa kini, yang selalu dengan perasaan mendua (mensyukuri keberadaan anak-anaknya tapi juga tak berhenti mengeluh atas kenakalan dan kesibukan yang disebabkan oleh keberadaan mereka) kujalani peranku sebagai ibu. Empat belas tahun hingga saat ini, aku mengalami metamorfosis dari hari ke hari. Setiap detik, menit dan jam sejak melahirkan si sulung empat belas tahun yang lalu, membuat tiap sel dalam tubuh dan otakku mengalami perubahan. Entah itu dalam hal fisik maupun perspektif berpikirku yang berhubungan dengan mereka.

Selama perjalanan empat belas tahun itu - masa belajarku menjadi ibu yang belum akan selesai-  ada banyak kesalahan yang tercecer di belakang. Rasanya tak ingin kuingat lagi, tak ingin jejak itu ada di sana tapi tentu saja tak mungkin, kesalahan yang akan tetap ada di sana dan kini menjadi pelajaran berharga. Mungkin keluhan dan omelanku ketika mendapati tak cukup waktu lagi untuk diri sendiri semenjak kehadirannya. Mungkin kekurangsabaranku ketika mengajarinya menuliskan huruf “A” untuk pertama kali. Mungkin amarahku ketika mendapatinya berbohong, atau mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Mungkin kata-kata kasar yang sempat terlontar ketika aku tak bisa menguasai diriku. Mengingat hal-hal itu sering membuatku sedih, apa boleh buat, akupun menjalani proses belajar yang tak pernah berhenti. Maafkan mama ya Nak..

Sekarang ini aku ada di dalam sebuah periode ’nano-nano’. Si sulung empat belas tahun, remaja ABG yang menuntut kami ortunya mengubah total pola pengasuhan dan pola komunikasi yang selama ini diterapkan. Seperti remaja-remaja lainnya yang minta diakui eksistensi dan pendapatnya, tak bisa lagi kini memaksakan kehendak terhadapnya. Semua harus beralasan dan logis. Kalau tidak, dia akan terus menuntut penjelasan disertai serentetan pertanyaan ‘why’ yang tak akan berhenti sampai penjelasan kita memuaskannya. Dan jangan dibilang punya anak ABG itu mudah, menjaga anak bayi yang masih suka ngompol dimana-mana jauh lebih mudah daripada mengatasi remaja ABG begini. Mereka menuntut kita sempurna sebagai orang tua, memberikan contoh perilaku terbaik, penjelasan yang memuaskan, perintah dan larangan yang masuk akal. Benar-benar jungkir balik memposisikan diri sebagai orang tua yang harus dipatuhi dan sebagai kawan akrab atau sahabat hangat yang selalu siap mendengar.

Si nomor dua lain lagi, usia tanggung 10 menjelang 11 tahun. Dikatakan remaja belum bisa - tapi sering merasa sok sudah gedhe –  dikatakan anak-anakpun tak mau. Usia coba-coba, dan memang si nomor dualah yang paling sering ’mengerjai’ kita orang tuanya. Seperti yang pernah kubaca anak nomor dua memang berbeda dan selalu unik. Sepertinya memang dia sengaja mencoba kalau aku berperilaku begini, bagaimana kira-kira papa dan mama ya, kalau aku begitu, apa yang terjadi ya.

Akhirnya terjadilah hal-hal yang bahkan kubayangkan saja tak pernah bakal terjadi dalam hidupku. Dan disitulah ternyata banyak jejak kesalahan kutinggalkan ketika mengatasi polah si nomor dua ini. Hal lain, khusus bagiku, si nomor dua adalah cermin yang tanpa tedeng aling-aling mengatakan apa saja kekuranganku, dimana kesalahanku, dia pengkritik nomor satu. Meskipun sering sakit hati dan ‘tobat-tobat’ menghadapi kelakuannya tapi harus kuakui dialah cermin yang paling jujur untukku.

Ahh.. yang nomor tiga, si ‘Miss Busy’ yang masih sibuk bermain peran, dan tentu saja tak mau bermain sendirian. Maka diperintahkannya aku atau ayahnya sebagai muridnya, dan dia adalah gurunya. Aku jadi pembeli dan dia si empunya toko. Aku adalah anak, dan dia menjadi mama. Dilarang keras menolak, kalau tidak dia akan merajuk, khas anak perempuan, duduk berlinang airmata di pojokan atau menelungkup di tempat tidur sembari terisak-isak. Si tukang paksa ini menyadari betul posisinya yang sangat strategis sebagai anak perempuan satu-satunya dan bungsu pula. Berkomunikasi kepadanya harus disertai pelukan, dan belaian. Kalau terpaksa harus marah, dan sudah ada tanda-tanda mata berkaca-kaca, maka pelukan dan bisikan lembut sangat ampuh untuk menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan itu tidak benar. ‘Ketegasan’ yang kita terapkan kepadanya harus berbeda penyampaiannya dengan ketegasan untuk kedua kakaknya. Maka hari-hari ini aku adalah ibu tiga warna, dengan tiga tombol berbeda yang harus selalu siap ditekan bila menghadapi mereka.

Dari sisi diriku, ingin sekali kukatakan bahwa cemasku, kekhawatiranku kadangkala juga marahku, adalah kasih sayang yang mengejawantah dalam bentuk yang berbeda. Seandainya saja mereka mengerti bahwa ada bertumpuk kecemasan dan rasa takut kehilangan. Seandainya mudah untuk dijelaskan bahwa inginnya mereka tak tumbuh besar saja agar mudah untuk mendekapnya kalau-kalau ada pengaruh buruk datang.

Yang sering tak kita sadari adalah berapapun usia kita, kita tetaplah anak-anak di mata orang tua. Kalau tak percaya sekali-kali bertanyalah kepada bapak ibu kita, mereka masih sering mencemaskan kita bila harus sendirian menyetir malam-malam, masih sering cemas apabila rumah kita dekat rel kereta api, sehingga beliau sering memikirkan keselamatan kita bila menyeberang. Bahkan hingga umur kita setua inipun, dan kita sudah menjadi ibu pula dari anak-anak kita.

Alhamdulillah, sungguh berwarna hidupku. Bagaimana denganmu teman? Selamat menikmati peran sebagai ibu, karena setiap detik tak akan berulang!

Oleh: Anies Sa’dijaturrohmah, Adelaide South Australia

Aku Tidak Nakal dan Tidak Bodoh, Bunda



Di salah satu sudut ruangan seorang gadis kecil duduk sambil menangis sendu. Aku mendekati dirinya, namun si kecil ini tetap menangis. Ku ulurkan tanganku meraih tangan mungilnya. Dia menatapku, bola matanya yang penuh keluguan seolah mengisyaratkan berjuta cerita, cinta dan penuh misteri. Aku membalas tatapan wajah itu dengan sebuah senyuman, aku meraihnya dan memeluknya.

“Gadis kecil kenapa kau menangis?”

Dia tetap membisu yang terdengar hanya tangis kecilnya.
Tanganku meraih wajahnya, dengan hati-hati ku tatap matanya dan aku memegang muka yang penuh keluguan itu seraya membetulkan posisi jilbabnya yang sedikit miring.

“Bu Fida, apa Ais adalah anak yang bodoh, apa Ais anak nakal? Kenapa bundaku sering mengatakan kalau Ais anak yang nakal dan bodoh?”

Aku tersenyum.. ” Ais bukan anak nakal juga bukan anak bodoh, Ais anak sholihah dan anak cerdas.. dan Bu Fida yakin, Ais akan menjadi orang yang hebat.

“Benarkan itu Bu Guru?” tanya Ais dengan penuh semangat
“InsyaAllah” jawabku
“Asalkan Ais mau belajar giat mulai sekarang, dan mau berjanji dua hal pada bu guru”
“Apa Itu Bu”
“Ais harus berjanji agar senantiasa menjadi hamba Allah yang mencintai Allah dan Rasulullah, baik dalam keadaan senang maupun sedih.. terus berjanji agar Ais belajar menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.. Apa Ais bisa?
Dengan air muka bahagia Ais menjawab ” InsyaAllah Bu Guru”

Akupun mengantarkan Ais pulang kerumahnya.
Di sana seorang ibu muda cemas menunggu kedatangan buah hatinya, air mukanya menunjukkan penyesalan terhadap apa yang telah katakan kepada buah hatinya.

Di peluknya putri kecilnya tsb dan kemudian mengantarkanya ke kamarnya, sedang aku di persilahkan masuk ke rumahnya. Ibu muda tersebut, menceritakan banyak hal tentang putrinya dan kenapa dia sampai mengatakan putrinya bodoh dan nakal sehingga sikap Ais sering dianggapnya mengganggunya terlebih disela-sela kesibukkannya sebagai wanita karir.

“Ibu.. Di dunia ini tak ada namanya anak yang bodoh ataupun nakal” jawabku, “yang ada adalah anak yang belum di ketahui kemampuan untuk di asah lebih dalam. Bahkan kenakalan yang ibu katakan itu hanya sebuah kamuflase agar dia mendapatkan perhatian lebih dari Anda..”
“Memiliki kemampuan yang berbeda dari apa yang kita harapkan bukan berarti dia tidak berbakat, kita hanya membutuhkan kesabaran agar lebih pro aktif mencari dan menggali bakat terpendamnya, bukanlah sesuatu yang bijak bila kita memaksa kehendak kita karena belum tentu kebutuhan kalian sama.. Jadi tolong hargailah itu.”

Ibu muda tersebut terdiam..

“Sebaiknya apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya”
“Banyaklah membaca karena bagaimanapun dunia kita dulu berbeda dengan kebutuhan si kecil karena kita hidup dengan rentang waktu yang beda. Jalinlah komunikasi yang efektif dengan si kecil supaya kalian bisa saling memahami kebutuhan dan harapan di antara kalian. Terakhir berdo’alah dan jemputlah pertolongan Allah.. insyaAllah semuanya menjadi lebih baik. Maaf bu, saya pamit dulu karena sudah sore..”

Oleh : Amatulllah Mufidah, Surabaya

Sehat, Merasa Sehat, atau Sok Sehat?


Seorang akhwat atau ummahat tampak begitu bersemangat dan selalu survive. Pagi-pagi sudah memimpin rapat. Setelah itu, dilanjutkan kuliah atau berkarir sampai sampai menjelang sore. Sore hari mengisi taklim dan diskusi sana sini. Malam hari masih sempat mengonsep planning sebuah agenda besar keummatan. Ia mengaku tidak lelah sama sekali !.

Teman-teman mengomentari, betapa sehatnya ukhti ini. Qowiyyul Jism… Aktivis sejati..! Tetapi, tiba-tiba kita dapat instruksi tentang munashoroh. Dikabarkan bahwa ada seorang sahabat pejuang yang kini sedang diuji oleh Allah di ICU sebuah rumah sakit. Ia menderita ini-itu, dan sekarang membutuhkan pertolongan. Kitapun bertanya-tanya, siapa sahabat yang sedang diuji itu. Setelah mendapat jawaban, kita terperangah, ternyata, ukhti itu adalah seseorang yang selama ini kita kenal energik dan tak kenal lelah. Kita saling berbisik heran, bagaimana mungkin sosok yang sesehat itu tiba-tiba terserang penyakit parah?

Inilah kita, manusia. Sering kali kita baru menyadari pentingnya arti sehat, setelah sakit menimpa. Sekarang, mungkin  kita selalu merasa sehat. Tetapi tahukah kita, apa itu sehat?  Bagaimana kita tahu bahwa kita dalam keadaan sehat? Apakah cukup dengan alasan bahwa kita sedang tidak merasa sakit?.
Salah satu parameter yang  dapat kita gunakan untuk berani mengatakan kita ini sehat atau bukan, adalah dengan melihat status gizi kita. Ya, sekali lagi, STATUS GIZI. Ingat ini. Sedangkan cara untuk mengetahui status gizi adalah dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) atau bahasa internasionalnya Body Mass Index (BMI).

IMT adalah pengukuran yang membandingkan berat badan dan tinggi badan seseorang untuk memperkirakan berat badan ideal dengan tinggi badan tertentu. Rumus  IMT dirancang dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan tinggi badan (dalam meter) yang dikuadratkan. Jadi;
IMT = [Berat Badan (Kg)] / [Tinggi badan(m)xTinggi badan(m)]
Jika nilai  IMT sudah didapatkan, nilai ini dibandingkan dengan tabel IMT sesuai dengan umur dan jenis kelaminnya (tabel terlampir).
Setelah hasil IMT didapatkan, cocokkan nilai tersebut dengan klasifikasi dibawah ini :
IMT Status Gizi
< 18,5 Kurang (kurus) alias kurang gizi
18.5 – 25,0 Normal/ideal
25.0 -  < 27 Lebih/ overweight
> 27 Obesitas

Nah, baru kita tahu bahwa status gizi kita ternyata belum tentu normal.
Ternyata, berat badan berlebih itu bermakna status gizi kita tidak normal. dan tentu saja ketidak normalan adalah lampu kuning bagi kita untuk mewaspadai berbagai gangguan dan ancaman kesehatan. Berat badan yang berlebih bahkan sampai obesitas akan berpotensi terserang penyakit degeneratif, seperti kolesterol, jantung, darah tinggi, dan diabetes mellitus.

Bagaimana halnya dengan tubuh yang langsing? Ukhti yang bersusah payah  mengikuti program diet harus rehat sejenak, menghitung dulu IMT-nya. Jangan-jangan diet yang ’terlalu berhasil’ menempatkannya pada status gizi kurang alias kurang gizi. IMT yang kurang dari 18,5 berakibat kita akan mudah terserang penyakit infeksi, yaitu penyakit yang disebabkan oleh kuman, virus dan bakteri seperti penyakit diare, hepatitis, typus dan lain-lain.

Demikianlah. Saat kita merasa sehat (dan mungkin merasa cantik) lalu tiba-tiba jatuh sakit dan langsung parah, jangan-jangan kita memang tidak sedang dalam keadaan sehat, meskipun tetap aktif dan tidak merasa sakit. Status gizi yang terlalu jauh di atas atau dibawah normal dapat menjadi biang pemicunya. Bukan hanya tak sehat, tentu saja, kita sulit untuk mengatakan cantik kepada ukhti yang kekurusan atau kegemukan. Kecuali suaminya (itupun mungkin terpaksa).

Memang, tampil cantik (secara fisik) itu bukan hobi, apalagi tujuan kita. Bukan. Namun demikian, memelihara kecantikan diri, menampilkan diri secara elegan sebagai wanita, tetaplah penting sebagai wujud syukur atas karunia Allah. Dan rasa syukur harus disertai dengan tanggungjawab menjaganya. Sebab, Allah tak pernah menciptakan sesuatu (termasuk kecantikan kita) dengan sia-sia. Bukankah salah satu kriteria yang dianjurkan oleh Rasulullah kepada pria ketika hendak meminang adalah memperhatikan kecantikannya?

Sekarang mari kita mulai menghitung IMT kita secara berkala. Semoga tidak ada lagi munashoroh hanya gara-gara penyakit yang berawal status gizi tidak normal ini.

copas by fimadani

Eksistensi Seorang Ibu

Seorang ibu ibarat sekolah…..
Apabila kamu siapkan dengan baik…..
Berarti kamu menyiapkan satu bangsa (generasi) yang unggul…..

Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat dominan dalam pembentukan anak-anak dan penentuan jalan hidup mereka. Bahkan keluarga adalah peletak dasar bagi pewarisan agama dan akhlak (moral).
Seorang penyair Arab bertutur :
Generasi muda kita akan terbentuk
Sesuai apa yang dibiasakan ayahnya.

Peran ayah dalam rumah tangga Islam sangat berpengaruh terhadap pendidikan keluarga dan anak-anaknya. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana kehebatan dan kekuatan tekad sang anak, Nabi Ismail as merespon mimpi yang disampaikan sang ayah. Nabiyullah Ibrahim as terbukti telah berhasil menanamkan pendidikan tauhid yang begitu agung dalam jiwa si anak, Ismail karena bagaimanapun sang anak tak bisa terdidik dan memiliki sikap yang begitu kuat begitu saja tanpa sentuhan pendidikan dan pembinaan orang tua. Dan Ismail telah membuktikan hasil pendidikan ayahnya nabi Ibrahim as dalam sikapnya yang rela berkorban apapun demi terlaksananya perintah Allah.

Pendidikan dalam Islam tentang hubungan sang ayah terhadap keluarga telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Karena bila kita mengetahui bahwa Rasulullah menikah dan mempunyai keluarga itu sebenarnya merupakan jawaban dan contoh konkrit peran-peran ayah dalam keluarganya. Rasulullah adalah juru dakwah paling agung, mujahid paling mulia, dan beliau menikah, itu tandanya Rasulullah SAW juga membina rumah tangganya.

Rasulullah mempunyai perhatian yang tinggi terhadap anak-anak. Rasulullah tertawa bersama anak-anak dan sholat bersama mereka. Dari Abu Qotadah disebutkan “Rasulullah SAW sholat bersama kami sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika beliau sujud diletakkannya Umamah dan bila beliau berdiri digendongnya.” Betapa besar perjuangan yang harus dijalani Rasulullah untuk memancangkan tonggak dakwah di masa-masa awal untuk mempersiapkan estafet kepemimpinan masa depan.

Seorang lelaki datang menghadap Amirul Mukminin Umar bin Khattab melaporkan tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah lantas memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkan bahaya durhaka pada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu mengatakan “Wahai Amirul Mukminin, tidaklah seorang anak, mempunyai hak yang harus ditunaikan orang tua?” “ya,” jawab Khalifah. “Apakah itu?” Tanya anak itu. Khalifah menjawab, “Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik dan mengajarinya Al-Qur’an.” Lantas sang anak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari 3 perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi, namaku Ja’lan dan aku tidak pernah diajarkan Al-Qur’an.

Umar bin Khattab lalu menoleh kepada ayah anak itu dan mengatakan, “Anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda telah berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda.”

Lantas.. apakah hanya ayah saja sebagai pihak yang menanamkan pendidikan dalam diri anak-anak?
Tidak ada satu orangpun yang menafikan peran-peran besar yang ada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anak. Pada saat Maryam melahirkan putranya yang menjadi nabi yang mulia tanpa ayah, dikatakan padanya : “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Ini menunjukkan pengaruh kedua orang tuanya akan mewarnai keturunannya bahkan oleh cucu-cucunya.

Para ilmuwan dan agamawan menegaskan bahwa orang tua mewariskan kepada anak-cucunya sifat-sifat jasmaniyah dan ruhaniyah melalui gen yang mereka miliki. Dalam bahasa hadits, Nabi menamai gen dengan ‘iriq’. Beliau berpesan agar calon ayah berhati-hati dalam memilih tempat untuk menaburkan benih yang mengandung gen karena al-‘irqu dassas (gen sedemikian kecil dan tersembunyi namun memberi pengaruh pada keturunan). Inilah yang merupakan salah satu sebab mengapa Al Qur’an melarang seorang muslim menikah dengan seorang musyrik atau seorang pezina (lihat QS 24 : 3)

Ibu, bagaimanapun mempunyai pengaruh penting pada kepribadian anak sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteduhan, dan kepercayaan diri yang kuat menjalani hidupnya.

Ibu… dalam bahasa Al-Qur’an dinamai dengan umm. Dari akar kata yang sama dibentuk kata imam (pemimpin) dan ummat. Semua bermuara pada makna “yang dituju atau yang diteladani”. Umm atau ibu melalui perhatiannya kepada anak serta keteladanannya dapat menciptakan pemimpin-pemimpin bahkan membina ummat, pada gilirannya berpengaruh pada masa depan bangsa. Sebaliknya jika yang melahirkan seorang anak tidak berfungsi sebagai umm maka ummat akan hancur dan pemimpin yang layak untuk diteladani tidak akan lahir.

Ketika Al-Qur’an menempatkan kewajiban berbuat baik kepada orang tua khususnya ibu – pada urutan kedua setelah kewajiban taat kepada Allah dan Rasul-Nya, agaknya bukan hanya disebabkan ibu memikul beban berat dalam mengandung, melahirkan, dan menyusui anak. Tetapi karena ibu dibebani tugas menciptakan pemimpin-pemimpin umat.

Fungsi dan peranan inilah yang menjadikannya sebagai umm atau ibu. Dan demi suksesnya fungsi tersebut, Allah menganugerahkan kepada kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak. Peranan ini tidak dapat diremehkan atau dikesampingkan. Beban dan tanggung jawab peran ini menyamai pekerjaan suami di luar rumah. Sehingga syariat telah mengarahkan kedua jenis ini kepada apa yang layak bagi masing-masing dan melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Kemampuan-kemampuan khusus yang dimiliki oleh beberapa wanita tidak menghapus cirri dari peran ini.

Ulama besar kenamaan, Ibnu Hazm (384-456) mengatakan : baik dan terpuji apabila seorang ibu atau istri, mencuci, membersihkan, mengatur rumah tempat tinggalnya, tetapi itu bukan merupakan kewajibannya. Agaknya, ketika ulama besar ini mengemukakan pendapat ini seribu tahun yang lalu dan diidamkan oleh pelopor emansipasi, beliau ingin menekankan pentingnya kewajiban ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Begitu besar peran ibu, maka para ahli mengatakan, “Tidak disangsikan lagi bahwa peran perempuan yang terpenting dalam kehidupan adalah sebagai ibu dan pendidik generasi, dimana dalam peran ini, seorang perempuan memberikan sumbangsih bagi masyarakat dengan segala unsur pembangunan dan kemajuan. Sebesar apa ketulusannya dalam kepentingan ini, sebesar itu pula hasil yang diterima seluruh umat.”

Oleh karena itulah generasi yang kuat dan unggul merupakan buah dari anak-anak yang tidak disia-siakan dan ditelantarkan. Mereka dibina oleh para ibu yang waspada dan oleh para ayah yang sadar.

Wallahu’alam bishshowab.