Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Sabtu, 07 Januari 2012

Empati Anak Yang Menamparku

Ada seorang ibu, wali murid, yang mendatangi saya sembari meminta maaf atas perbuatan puteranya terhadap Ariba putri sulung saya. Saya bingung, karena sehari sebelumnya tak ada cerita apa pun tentang peristiwa di sekolah. Kebetulan saya juga lupa menanyakan. Kebiasaan sehari-hari saat menjemput anak-anak, dari di sekolah hingga sampai di rumah saya selalu menanyakan adakah cerita menarik di sekolah. Apa yang mereka lakukan, bagaimana teman-temannya, dan banyak hal lainnya.

Rupanya si ibu khawatir Ariba dipalak (diminta dengan paksa)  oleh putranya. Cerita lengkapnya, ketika si anak sedang bertiga dengan temannya, ia haus, tapi tidak punya uang. Begitu pun dua teman lainnya, lalu memintalah si anak ini pada kakak kelasnya, tapi tidak diberi. Kebetulan Ariba dengar, lalu Ariba beri masing-masing seribu rupiah. Si anak cerita pada ibunya bahwa ia diberi Ariba  uang jajan untuk membeli minum, tapi si ibu tetap tidak percaya karena puteranya dan Ariba  tidak sekelas lagi (kelas putera dan puteri di pisah), sedangkan Ariba anak yang pemalu dan pendiam. Untuk memastikan cerita tersebut, si ibu bertanya pada teman puteranya yang juga diberi uang oleh  Ariba. Ketika uang akan diganti, Ariba  menolak. Saya katakan, “Biarkan Ariba belajar berempati bu. Uang nggak perlu diganti”.

Ketika saya klarifikasi kepada Ariba, Ariba sedikit merasa khawatir. Katanya, “Mimay nggak marahkan aku kasih uang temanku untuk beli minum? Kasihan May.” “Ooo…ya jelas nggaklah sayangku.. Masa’ berbuat baik di marahi?! Alhamdulillah kakak sudah berbuat baik”, jawab saya. Katanya lagi…”Aku pengen seperti Mimay yang suka berbuat baik. Suka menolong orang”. Subhanallah…  Semoga kebaikan itu terus terpupuk. Tak pernah berhenti hingga waktu usai. -amin

Terharu, ketika mendengar penuturan Ariba, hingga mata pun berkaca-kaca. Alhamdulillah… bidadari kecilku berhati mulia. Tapi bersamaan dengan keharuan dan rasa syukur itu, saya merasa Allah menampar saya berkali-kali. Begitu keras tamparan itu saya rasakan, hingga sempat membuat saya tertegun dan merenung. Masya Allah… begitu halus dan indahnya cara Allah menegur saya. Bahwa mengajarkan dengan contoh lebih mudah diterima dan diingat juga diikuti oleh anak-anak, daripada mengajarkan mereka melalui lisan. Apalagi, jika kata-kata yang disampaikan menggunakan kata-kata yang kurang baik. Yang tak patut didengar oleh anak-anak. Atau menyampaikannya dengan cara yang kurang santun. Orang dewasa saja ketika dinasehati dengan cara yang tidak santun tak akan mudah menerima nasehat tersebut, bahkan bisa jadi menolak dan memasang wajah tak suka sebelum nasehat selesai disampaikan, sekalipun nasehat tersebut disertai dengan dalil Al Qur’an atau pun sunnah Rasul.

Anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru perbuatan dan  perkataan kita. Bahkan ketika seorang anak marah, ucapan dan caranya marah dapat persis seperti orangtuanya ketika sedang marah. Daya ingat anak-anak sangat kuat. Seringkali tanpa kita sadari mereka meniru perilaku dan perkataan kita. Dan seringkali pula tanpa sadar kita telah memberi contoh yang kurang baik terhadap anak-anak kita. Entah ucapan, atau perbuatan. Astaghfirullaah…

Saya jadi ingat, ketika bertemu keponakan saya yang berada di lain kota, ia masih belum genap berusia dua tahun. Belum bisa bicara dengan jelas. Pada saat bertemu itu saya memberinya sebuah mainan. Ketika saya bertemu kembali, usianya sudah tiga tahun. Ketika melihat mainan yang saya berikan, ia berikan kepada saya sembari memanggil saya dan mengatakan dengan kalimat yang tidak sempurna, menunjukkan bahwa mainan itu adalah pemberian saya. Sementara orangtuanya hampir tak pernah mengingatkan mainan itu siapa yang memberi.

Anak berusia tiga tahun sudah mulai banyak belajar dari lingkungannya. Pada sebagian anak, ada yang lebih dini lagi sudah mulai bisa meniru perkataan dan perbuatan orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka menjumpai banyak hal dan belum dapat memilah mana yang baik dan mana yang buruk sehingga sering kita temui anak-anak melakukan perbuatan dan mengatakan hal-hal yang  seharusnya tidak dikatakan oleh anak-anak. Ironisnya, orangtua sering marah ketika mengetahui anak-anak mengatakan hal-hal yang tak pantas diucapkan. Kosa kata yang sudah pasti mereka peroleh dari orang-orang dewasa yang ada  di lingkungannya. Bukan kosa kata hasil ciptaan mereka, yang tentunya belum mampu mereka lakukan.

Kesempatan yang terbaik bagi orangtua untuk mengajarkan banyak hal kebaikan adalah sejak anak masih kecil bahkan sejak anak masih dalam kandungan, dengan mendengarkan kalimat-kalimat indah berupa lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an, mengajaknya bicara sambil mengusap perut. Bulan pertama, asalnya janin masih berupa segumpal darah. Bulan kedua, Allah jadikan segumpal darah itu menjadi segumpal daging. Pada bulan ketiga, segumpal daging tersebut diberikan tulang belulang hingga mulailah terbentuk wujud seorang bayi. Lalu pada bulan keempat Allah sempurnakan wujudnya dan ditiupkannya ruh… Subhanallah… Kita mulai bisa memperdengarkan kalimat-kalimat yang baik padanya. Menciptakan pengharapan yang mulia baginya kelak dengan sambil mengajaknya bercerita.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kita dapat menceritakan kisah-kisah para nabi dan sahabat nabi serta orang-orang salaafush  sholih lainnya.  Lalu menguraikan hikmah di balik kisah-kisah tersebut untuk dijadikan teladan, dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak, memancing imajinasi anak-anak, dan dengan tanpa memaksa, mendorongnya agar menerapkan kisah yang mereka dengar dan mereka ingat dalam kehidupan nyata, maka akan terbentuklah akhlaq yang mulia, yang akan menjadi bekal mereka dalam menjalani hidup di kehidupan yang penuh warna dan rasa ini.  Karenanya, peran orangtua dalam pembentukan kepribadian dan ruhani seorang anak sangatlah penting. Begitu pun para pendidik di sekolah, yang menggantikan peran orangtua selama anak-anak di sekolah.

Kita menginginkan anak-anak kita melakukan sesuatu dengan baik, atau melakukan hal-hal baik, sementara kita sendiri tidak melakukannya. “Kaburo maqtan ‘indallaahu an taquuluu maa laa taaaf’aluun”, yang artinya amatlah besar kemurkaan disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. (QS.  As Saff (61) : 3). Na’udzubillah…

Saya sering mengingatkan anak-anak saya agar tidak sungkan mengingatkan atau menegur kami, orang tuanya, jika melakukan kesalahan.. Di satu sisi memicu saya untuk menjaga perilaku dan perkataan. Di sisi yang lain, mengajarkan anak-anak untuk berani mengungkapkan pendapat dan menyampaikan kebenaran. Dengan catatan, tentunya ketika anak menegur atas kesalahan kita, kita menerima dan tak berdalih untuk membela diri. Karena secara tidak langsung kita telah mengajarkan  anak kita tidak jujur dan tidak berlapang hati mengakui kesalahan.

Selamat berjuang dengan gembira… menjadi orangtua yang dapat menjadi teladan yang baik untuk anak-anak yang menjadi amanah besar dari Allah swt.

-Jeng Dydi-

Memilih Jodoh Dunia Akhirat


Pagi itu akan ada acara dalam lingkaran cinta beraroma surga di rumah Bu Sari. Sengaja sebelumnya, Bu Sari menyempatkan diri membuka akun emailnya. Sebuah email singkat muncul di inbox-nya.
“Assalamualaikum… Afwan jiddan Bu, setelah istikharah, Akh Toto memohon maaf tidak dapat melanjutkan proses dengan Ukh Titi.
Jazakillah khair.”

Email yang dikirim oleh seorang murrabi ikhwan itu membuat mata Bu Sari mengembun. Sejenak kesedihan menyelinap ke dalam ruang hatinya. Ada alasan khusus atas kesedihannya yang tak mungkin ia ungkapkan ke sembarang orang. Pun ada rasa empati yang amat dalam di hatinya pada Titi, binaan yang amat ia sayangi.
Titi, aktivis dakwah itu di mata Bu Sari adalah sosok yang begitu baik dan menyenangkan. Wajahnya biasa saja, tetapi Titi seorang yang santun, disiplin, bertanggungjawab dan amat care. Banyak juga kelebihan lain yang melekat pada diri Titi. Sebagaimana umumnya manusia, sisi kekurangan tentu saja ada pula pada diri atau keluarga gadis itu.

Titi  tentu saja belum mengetahui akan hal ini, tentang proses taaruf ini. Tetapi membayangkan Titi yang berperasaan halus dan melankolis, membuat Bu Sari merasa iba. Beberapa waktu sebelumnya, dalam sebuah acara yang mengharukan bersama teman-temannya, Titi menangis cukup lama dan penuh penghayatan hingga matanya sembab.

Bu Sari tak membiarkan kesedihan itu singgah berlama-lama. Bergegas Bu Sari menata hati. Tak lama, kesadaran akan hakikat rezeki dan takdir kembali hadir dalam benaknya. Lalu ia menulis email balasan.
“Waalaikumsalam wr wb. Ya Pak, tidak apa-apa. Apapun yang terjadi pada hakikatnya adalah keputusan Allah dan itu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Jazakallah khair”
***
Jodoh memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Sebelum mengetahui takdir Allah atas jodoh kita, pastilah setiap pasangan harus melewati masa-masa menentukan pilihan. Sah-sah saja seorang ikhwan memilih al ukh yang membuatnya aman dan  nyaman, begitu istilah yang ia pakai. Nyaman dilihat, nyaman diajak bicara, nyaman dalam pandangan manusia, pendeknya nyaman dalam segala hal. Kriteria calon pasangan hidup pun dibuat  begitu detail. “Cantik  dalam pandangan umum,” begitu tulis salah seorang ikhwan dalam proposal nikahnya.

Sungguh  ada   perasaan  kagum yang luar biasa pada seseorang  yang memutuskan  memilih pasangan hidup yang “biasa saja”, walaupun jika ia mau, sebenarnya akan dengan mudah memiliki yang lebih dari itu. Bisa saja  al akh itu memilih wanita yang lebih cantik, lebih muda, lebih pintar, lebih terpandang dalam latar belakang dan status sosial, tetapi ia tidak melakukannya.

Ada juga al akh yang bersedia menerima seseorang yang jauh “berbeda” dengan dirinya. Sangat  tidak  sekufu, begitu istilahnya. Semuanya ia lakukan untuk kepentingan dakwah dan dalam rangka mempersembahkan pengabdian terbaik pada Rabbnya.

Ada al akh berpenampilan fisik yang sangat jamil menikah dengan al ukh yang berusia beberapa tahun  di atasnya. Wanita itu berpenampilan fisik biasa saja, berpendidikan di bawahnya dan dalam beberapa hal lain  juga di bawah sang suami.

Ada juga  al akh yang berpendidikan cukup tinggi dari sebuah perguruan tinggi ternama dengan  jaminan pekerjaan yang pasti, bersedia menikah dengan al ukh asisten rumah tangga. Pernikahan itu langgeng dan berakhir ketika  Allah memanggil salah satu dari mereka untuk menghadap-Nya.

Begitulah, banyak  orang saleh menjadikan pernikahannya tak semata untuk kenyamanan pribadi saja. Mereka menikah juga untuk mendukung program dakwah dan menyelesaikan problema dakwah. Rasulullah SAW dalam  pernikahan beliau juga  lebih banyak untuk kemaslahatan dakwah.

Khadijah  yang berusia lima belas tahun di atas  Rasulullah dinikahi berdasarkan petunjuk Allah. Beliau menjadi wanita pertama yang memeluk Islam dan mendukung dakwah Nabi SAW. Saudah binti Zum’ah -janda berkulit hitam dari Sudan- dinikahi oleh Rasulullah pada saat Saudah berusia 70 tahun, demi menjaga keimanan Saudah dari gangguan kaum musyrikin. Shafiyyah binti Hayyi Aktab, wanita muslimah dari kabilah Yahudi Bani Nadhir yang memiliki 10 anak dari pernikahan sebelumnya, dinikahi Rasulullah untuk menjaga keimanan Safiyyah dari boikot orang Yahudi. Pernikahan Rasulullah dengan isteri-isteri beliau  yang  lain pun mengemban misi suci  untuk meninggikan kalimatullah di muka bumi.

Contoh-contoh di atas terjadi belasan dan dua puluhan tahun yang lalu. Bahkan pernikahan suri teladan kita Rasulullah SAW telah terjadi berabad-abad silam. Untuk masa sekarang kondisinya sudah sangat berbeda. Para murrabi atau murrabiyah yang biasanya berperan dalam proses perjodohan umumnya cukup detail memperhatikan berbagai faktor. Tak hanya tingkat kesekufuan, malahan suku, asal daerah, daerah tempat bekerja, bahkan sifat, hobby, amanah, aktivitas, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya cukup mendapat perhatian. Meski begitu, kegagalan proses malah tidak jarang terjadi.

Hal- hal yang harus senantiasa kita ingat termasuk dalam menjemput jodoh adalah  bahwa  manusia tiada yang sempurna. Semua orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin kelebihan atau kekurangan itu tak selalu bisa terlihat oleh mata telanjang kita. Mungkin Si  X  tidak melanjutkan proses dengan Si A dan memilih menikah dengan Si B. Ia mungkin merasa lebih cocok dengan Si B. Menurutnya ada kelebihan Si B atas Si A, tetapi tentu saja Si A pun memiliki kelebihan yang tidak dimiliki Si B.

Dalam kehidupan dunia ini, kita adalah  pemain-pemain peran yang akan mendapatkan penilaian atas setiap peran yang kita mainkan dari  Sang Juri Yang Maha Adil. Kita harus senantiasa menanamkan dalam diri masing-masing untuk  selalu berusaha memainkan setiap peran dalam berbagai kesempatan dengan sebaik-baiknya. Harapan kita adalah selalu  mendapat  penilaian tertinggi dari Allah SWT. Salah satu  peran penting dalam kehidupan kita di alam fana ini adalah proses menjemput jodoh.

Mengutamakan Allah dalam proses menjemput jodoh, sama sekali bukan berarti tidak boleh tidak melanjutkan proses taaruf atas calon yang ditawarkan. Jika pun ada keberatan, alangkah baiknya kalau hal itu bukan karena hawa nafsu dan pertimbangan duniawi semata. Kita harus mengutamakan sesuatu yang Allah pilihkan melalui istikharah. Kita pun tak sepantasnya hanya mementingkan kenyamanan pribadi, tetapi akan sangat mulia kalau turut memikirkan kemaslahatan dakwah.
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta/tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang saleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama” (HR Ibnu Majah).
Jodoh adalah rahasia Allah dan  mutlak di tangan-Nya. Manusia memang hanya bisa berdoa dan berikhtiar untuk menjemputnya. Jika kita mengutamakan Allah dalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam  proses menjemput  jodoh, maka yakinlah bahwa Allah akan senantiasa bersama kita. Allah akan menganugerahi rasa cinta yang dalam pada pasangan, memberikan kemudahan dan keberkahan dalam pernikahan kita. Pun  kemudahan dan keberkahan dalam hidup kita yang dipenuhi cinta, kasih sayang,  dan keridhaan Sang Penguasa Jagat Raya, Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga…
Wallahualam bishawab

Oleh : Rodhiyatunnisa, Tangerang Selatan

Resep Mesra Ala Rasulullah


Rasulullah adalah sosok suami yang paling mesra terhadap istri-istrinya. Berikut beberapa tips untuk menjaga kemesraan yang dikompilasi dari hadis-hadis dan riwayat yang menceritakan Rasulullah SAW.
1. Suami membukakan pintu untuk istrinya, baik di kendaraan, rumah, maupun yang lain
Istilah yang cukup akrab di telinga kita, yang katanya orang-orang modern ini “Ladies First” ternyata sudah dilakukan Rasulullah sejak berabad-abad yang lalu, disaat kebudayaan lain di dunia menganggap wanita lebih rendah, bahkan diragukan statusnya sebagai “manusia”.
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)
2. Mencium istri ketika pergi dan datang
Sungguh hal yang romantis dan bisa menimbulkan rasa kasih sayang jika kita bisa membiasakan mencium istri/suami ketika hendak bepergian atau baru pulang.
Dari ‘Aisyah ra, bahwa NabiSAW biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi  wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)
3. Makan/minum sepiring/segelas berdua
Dari Aisyah RA, ia berkata : Saya dahulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam “ (HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod)
Dari Aisyah Ra, ia berkata : Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum (HR Abdurrozaq dan Said bin Manshur, dan riwayat lain yang senada dari Muslim.)
Nabi saw pernah minum di gelas yang digunakan Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit Aisyah.(HR Muslim No. 300)
Bahkan keberkahannya dijamin,
Diriwayatkan Abu Hurairah : “Makanan berdua cukup untuk tiga orang, makanan tiga orang cukup untuk empat orang” ( HR Bukhori (5392) dan Muslim (2058))
4. Suami menyuapi istri
Dari Saad bin Abi Waqosh ra berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda : “Dan sesungguhnya jika engkau  memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu“ (HR Bukhori (VI/293) dan Muslim (V/71)
5. Berlemah lembut, melayani/menemani istri yang sedang sakit (memanjakan istri sakit)
Diriwayatkan oleh Aisyah ra, nabi SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)
6. Bersenda gurau dan membangun kemesraan
Aisyah dan Saudah pernah saling melumuri muka dengan makanan. Nabi SAW tertawa melihat mereka. (HR Nasai dengan isnad hasan)
Dari Zaid bin Tsabit berkata tentang Rasulullah : suka bercanda dengan istrinya (HR Bukhari)
7. Menyayangi istri dan melayaninya dengan baik
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih).
8. Memberi hadiah
Dari Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, ia berkata, “Ketika Nabi SAW menikah dengan Ummu Salamah, beliau bersabda kepadanya, Sesungguhnya aku pernah hendak memberi hadiah kepada Raja Najasyi sebuah pakaian berenda dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui ternyata Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengira hadiah itu akan dikembalikan. Jika hadiah itu memang dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.” Ia (Ummu Kultsum) berkata, “Ternyata keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, dan hadiah tersebut dikembalikan kepada beliau, lalu beliau memberikan kepada masing-masing istrinya satu botol minyak kasturi, sedang sisa minyak kasturi dan pakaian tersebut beliau berikan kepada Ummu Salamah.” (HR Ahmad)
9. Tetap romantis walau istri sedang haid
Haid, adalah sesuatu yang alamiah bagi wanita. Berbeda dengan pandangan kaum Yahudi, yang menganggap wanita haid adalah najis besar dan tidak boleh didekati.
Ketika Aisyah sedang haid, Nabi SAW pernah membangunkannya, beliau lalu tidur dipangkuannya dan membaca Al Qur’an (HR Bukhari no 7945)
10. Mengajak istri makan di luar
Mungkin kebanyakan kita, lebih suka pergi bersama teman-teman, meninggalkan istri di rumah. Nah yang ini mungkin familiar, saya suka bilang ama istri “nge-date” yuk! ini bisa membangkitkan romantisme berdua. Menikmati lingkungan disekitar.
Anas mengatakan bahwa tetangga Rasulullah SAW -seorang Persia- pintar sekali membuat masakan gulai. Pada suatu hari dia membuatkan masakan gulai yang enak untuk Rasulullah SAW. Lalu dia datang menemui Rasululiah SAW untuk mengundang makan beliau. Beliau bertanya: “Bagaimana dengan ini? (maksudnya Aisyah).” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah SAW berkata: “(Kalau begitu) aku juga tidak mau.” Orang itu kembali mengundang Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Rasulullah kembali berkata: “Kalau begitu, aku juga tidak mau.” Kemudian, orang itu kembali mengundang Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. kembali bertanya: “Bagaimana dengan ini?” Pada yang ketiga kalinya ini orang Persia itu mengatakan: “Ya.” Akhirnya mereka bangun dan segera berangkat ke rumah laki-laki itu.” (HR Muslim)
11. Mengajak istri jika hendak ke luar kota.
Biasanya para suami, kalau ada tugas ke luar kota, hal-hal seperti ini dijadikan kesempatan. Tapi tak ada salahnya kalau rejeki kita cukup, kita ajak istri kita pergi juga, tinggal bilang sama bos (syukur-syukur kalau bos mau bayarin hehehe..), kalo saya biasanya biaya sendiri.
Aisyah berkata: “Biasanya Nabi saw. apabila ingin melakukan suatu perjalanan, beliau melakukan undian di antara para istri. Barangsiapa yang keluar nama/nomor undiannya, maka dialah yang ikut pergi bersama Rasulullah saw.’ (HR Bukhari dan Muslim)
12. Menghibur diri bersama istri ke luar rumah (entertainment)
Dari Aisyah, dia berkata: “Pada suatu hari raya orang-orang berkulit hitam mempertontonkan permainan perisai dan lembing. Aku tidak ingat apakah aku yang meminta atau Nabi saw. sendiri yang berkata padaku: ‘Apakah aku ingin melihatnya?’Aku jawab: ‘Ya.’ Lalu beliau menyuruhku berdiri di belakangnya. Pipiku menempel ke pipi beliau. Beliau berkata: ‘Teruskan main kalian, wahai Bani Arfidah (julukan orang-orang Habsyah)!’ Hingga ketika aku sudah merasa bosan beliau bertanya: ‘Apakah kamu sudah puas?’Aku jawab: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Kalau begitu, pergilah!’” (HR Bukhari dan Muslim)
13. Mencium istri sering-sering
Mencium istri dengan penuh kasih sayang, sangatlah mulia dan romantis. Berbeda dengan ciuman yang dilakukan karena nafsu seperti di film-film yang kebanyakan ada di layar kaca.
Nabi saw sering mencium Aisyah dan itu tidak membatalkan puasa (HR Nasai dalam Sunan Kubra II/204)
14. Suami mengantar istri
Kadang banyak dari kita malas mengantar istri kita bepergian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika istri saya keluar rumah sendirian, ada masalah di jalan dia kebingungan.
Shafiyyah, istri Nabi SAW, menceritakan bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah saw. ketika beliau sedang melakukan i’tikaf pada hari sepuluh yang terakhir dari bulan Ramadhan. Dia berbicara dekat beliau beberapa saat, kemudian berdiri untuk kembali. Nabi saw. juga ikut berdiri untuk mengantarkannya.” (Dalam satu riwayat492 dikatakan: “Nabi SAW berada di masjid. Di samping beliau ada para istri beliau. Kemudian mereka pergi (pulang). Lantas Nabi saw. berkata kepada Shafiyyah binti Huyay: ‘Jangan terburu-buru, agar aku dapat pulang bersamamu’”) (HR Bukhari dan Muslim)
15. Suami istri berjalan dimalam hari
Duh, so sweet.. Jalan berdua menikmati keindahan alam.
Rasulullah datang pada malam hari, kemudian mengajak aisyah berjalan-jalan dan berbincang-bincang (HR Muslim 2445)
16. Panggilan khusus pada istri
Kadang kita memanggil istri kita, honey, yayank, dan seterusnya, dan seterusnya.. seperti itu pun Rasulullah.
Nabi saw memanggil Aisyah dengan Humairah artinya yang kemerah-merahan pipinya. Rasulullah juga suka memanggil aisyah dg sebutan “aisy/aisyi”, dalam culture arab pemenggalan huruf terakhir menunjukan “panggilan manja/tanda sayang”
17. Memberi sesuatu yang menyenangkan istri
Dari Said bin Yazid, bahwa ada seorang wanita datang menemui Nabi, kemudian Nabi bertanya kepada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau kenal dia?” ‘Aisyah menjawab: “Tidak, wahai Nabi Allah.” Lalu, Nabi bersabda: “Dia itu Qaynah dari Bani Fulan, apakah kamu mau ia bernyanyi untukmu?”, maka bernyanyilah qaynah itu untuk ‘Aisyah. (HR. An Nasa’i, kitab Asyratun Nisa’, no. 74)
18. Memperhatikan perasaan istri
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi’ dari Abu Sa’id Alkhudzri r.a)
19. Segera menemui istri jika tergoda.
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda, “Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)
20. Berpelukan saat tidur
Tidak saya deskripsikan, soalnya ada yang belum merid lho? (HR Tirmidzi 132)
21. Membantu pekerjaan rumah tangga
Hal inilah yang kadang-kadang masih males. Tapi jika dikerjakan berdua, biasanya jadi tidak berasa, sambil becanda ataupun ngobrol-ngobrol.
Aisyah pernah ditanya: “Apa yang dilakukan Nabi saw. di rumahnya?” Aisyah menjawab: “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR Bukhari)
22. Mengistimewakan istri
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah.” (HR Bukhari)
23. Mendinginkan kemarahan istri dengan mesra
Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisy, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)
24. Tiduran di pangkuan istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Nabi SAW biasa meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haidh, kemudian beliau membaca al-Qur’an.” (HR ‘Abdurrazaq)
25. Mandi romantis bersama pasangan
Aisyah pernah mandi satu bejana bersama Nabi saw (HR Nasai I/202)
26. Disisir istri
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Saya biasa menyisir rambut Rasulullah saw,saat itu saya sedang haidh”.(HR Ahmad)
27. Minum bergantian pada tempat yang sama
Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, “Saya biasa minum dari muk yang sama ketika haidh, lalu Nabi mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya mengambil muk, lalusaya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau pun menghirupnya.” (HR ‘Abdurrazaq dan Sa’id bin Manshur)
28. Membelai istri
“Adalah Rasulullah saw tidaklah setiap hari melainkan beliau mesti mengelilingi kami semua (istrinya) seorang demi seorang. Beliau menghampiridan membelai kami dengan tidak mencampuri hingga beliau singgah ke tempat istri yang beliau giliri waktunya, lalu beliau bermalam di tempatnya.” (HR Ahmad)
Dan masih banyak tips lain yang bisa dilakukan sesuai kreatifitas Anda semua.
Nabi saw bersabda, “Yang terbaik di antana kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku” (HR Tirmidzi).
Semoga bermanfaat. Semoga menjadi keluarga yg sakinah, mawadah, wa rohmah selalu. Amin..

Oleh: Martin Wong, Jakarta

Berjuanglah, Nak!

Oleh Sudaryono Achmad

dia yang memandang rendah kegetiran tak akan pernah melihat kebahagiaan
~kahlil gibran~
(Penyair Lebanon)

Lelaki kecil itu....
Sering terlihat mondar-mandir di sekililing kampus (tempat dulu saya pernah kuliah). Memungut apa saja yang bisa dijual. Kertas koran, bekas botol air mineral, atau plastik bungkus makanan. Di punggungya, sebuah karung membebani dirinya yang masih mungil, maklum masih duduk di bangku sekolah dasar. Lumayan, uang hasil penjualan barang-barang bekas itu untuk tambah uang jajan. Begitu penuturan yang pernah saya dengar.

Orang tuanya. Saya tak tahu. Hanya, seperti kondisi masyarakat bawah pada umumnya, hidup serba kekurangan itu adalah irama kehidupan kesehariannya. Melihat anaknya mencari uang dengan cara seperti itu, dibiarkan saja. Toh, halal-halal saja. Bisa jadi begitu pandangannya. Pandangan umum orang-orang yang masih harus berjuang, hanya demi bisa menyambung hidup. Untuk bisa hidup diambang kecukupan, masih terlalu sulit untuk dirasakan. Melihat lelaki kecil itu (dulu), saya hanya bisa bergumam ”Berjuanglah, Nak!.

Saya selalu yakin karena sejarah kehidupan telah membuktikan, terlalu banyak orang yang sedari kecil hidup penuh dengan perjuangan, ketika dewasa, dimasa tuanya selalu terkenang, terharu dengan sebuah keberhasilan yang akhirnya bisa didapatkan. Tentu ketika orang benar dalam memahami setiap proses yang dijalaninya. Pahit getir kehidupan terbiasa dihadapinya. Hingga, terpacu untuk segera keluar dari garis nasib yang menjerat. Keluar dari kubang kesedihan dan kegetiran. Melangkahkan kaki pada sebuah impian. Itulah secercah jalan kebahagiaan.

Dilain kasus, nyinyir...
Ketika melihat wajah sedih negeri ini. Orang-orang marjinal, mereka yang belum beruntung nasibnya. Lihatlah..!. Baik dilayar kaca telvisi atau pemberitaan di berbagai media massa. Terlalu sering kita mendengar, seorang ibu membunuh anak kandungnya sendiri karena berpikir tak punya uang untuk membiayainya kelak, seorang anak bunuh diri karena sering diejek teman-temannya sebab orang tuanya terlampau miskin, seorang gembel belaka. Atau, seorang yang nekat gantung diri karena tak kuat menahan beban kesulitan, beban masalah yang dihadapinya.

Siapa yang salah..? Jelas, pemimpin negeri ini. Hanya saja kita pun mesti bisa bertahan dengan kenyataan. Terlalu berharap pertolongan kepada “para petinggi” negeri hanya semakin membuat kita kecewa saja. Jalan alternatif mesti kita bangun. Saling menolong, saling melengkapi, saling berbagi, itulah solusi. Kita rubah kegetiran hidup ini dengan karnaval senyuman yang bisa sedikit mengurangi beban hidup.

Kalau kita cermati sejarah orang-orang besar, begitu juga negeri-negeri besar, ia selalu diawali dengan kepahitan dan kegetiran hidup. Lantas, merekalah orang yang bejaya kelak ketika bisa mengatasi persoalan-persoalan dengan baik, tepat, bijak dan brilian. Tak selalu mulus, kadang perlahan, namun tetap berjalan.
Diam-diam saya juga begitu. Belajar memaknai kegetiran demi sebuah kebahagiaan. Saat ini saya juga sedang memulai era baru perantauaan. Ya, di Jakarta yang kata orang begitu kejam. Tapi bagi saya tidak, setidaknya mencoba mematahkan mitos yang terlanjur muncul itu. Semua tempat menyenangkan asalkan bisa beradaptasi, bukan hanya dengan lingkungan, yang paling penting justru adaptasi hati. Beban, cobaan selalu ada, bahkan besar. Kalau sudah begini, saya mengobati diri dan ingat pada sebuah kata yang pernah saya gumamkan dulu. Kali ini bukan untuk seorang lelaki kecil itu, tapi untuk diri saya sendiri. “Berjuanglah, Nak!.
Jakarta, 1 Desember 2007
==

Surat Untuk Bapak

Oleh Raya Shaleem

Tak sengaja saya menemukan secarik kertas di kamar baru saya, disebuah flat di Kuala Lumpur. Berikut isinya:

Andaikan waktu berputar ke masa lalu
Masa dimana disetiap pagi selalu ada cerita yang selalu aku kisahkan kepada Bapak
Seringkali saya bertanya dalam setiap doa:
“Allah, bagaimana kabar Bapakku? Aku yakin ia baik-baik saja bersamamu Tuhan, karena Engkau akan memberikan tempat terbaik”

Seringkali saya bertanya dalam rasa rindu yang tengah memuncak:
“Bapak, apakah jalan ini yang engkau inginkan? Sungguh, aku tak tahu cita-cita yang engkau harapkan dariku. Aku hanya bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan”
Seringkali aku memohon kepadaNya:
“Allah, hadirkanlah bayang dan semangatnya dalam setiap langkahku agar aku pun yakin ia selalu bersamaku”

Lagi-lagi aku pun bertanya dalam setiap lamunanku:
“Bapak, bagaimana perasaanmu jika engkau tahu aku sekarang tengah berusaha untuk mewujudkan mimpi Ibu. Bagaimana perasaanmu Bapak, jika engkau tahu aku telah berhasil masuk PTN dan kini aku mendapatkan beasiswa? Bapak, sekarang aku sedang di negeri seberang melanjutkan studi. Bapak, apakah engkau akan bangga dan bercerita kepada setiap kolega Bapak? Ataukah engkau akan melarangku? Tapi, aku berusaha untuk yakin kalau Bapak akan sangat bangga kepadaku. Karena Ibu dulu bilang kalau Bapak ingin sekali anak-anaknya bisa kuliah di PTN dan kemarin ibu juga bilang kalau Bapak selalu menceritakan anak kolega Bapak yang berhasil kuliah di Mesir. Dan tahukah Bapak, jika pembimbingku pun terlihat sangat senang dan menjabat tanganku erat ketika Beliau tahu aku mendapatkan beasiswa. Saat itulah aku pun merasakan kehadiran Bapak dalam jabatan pembimbingku itu. Jadi aku yakin Bapak akan bangga kepadaku.”

Bapak, aku iri mendengar cerita teman-temanku. Mereka selalu bercerita tentang ayah mereka. Aku pun hanya bisa mendengar dan terkadang berimajinasi, If you were here. Aku tak pernah mengatakan kepergianmu kepada semua orang, hingga mereka pun mengira engkau masih bersamaku.
Seandainya Bapak tahu bagaimana pembimbingku selalu membanggakan aku didepan dosen-dosen dan selalu expect more terhadap studiku. Dan tahukah engkau Bapak, aku tak henti-hentinya menangis ketika pembimbingku kala itu jatuh sakit seperti yang engkau derita 4 tahun lamanya.

Ingin rasanya aku menunggu di rumah sakit seperti yang dulu aku lakukan kepada Bapak. Aku takut hal yang sama terjadi kepada Bapak juga dengan pembimbingku itu. Bapak seandainya engkau tahu, pembimbingku itu selalu menasehati dan mengarahkanku selama ini.

Hingga aku pun selalu menceritakan kepada teman-temanku tentang kebaikan pembimbingku. Pernah suatu ketika aku pun curhat tentang cinta kepada pembimbingku. Entah mengapa tiba-tiba aku kemudian bercerita tentang hubunganku dengan seseorang dan meminta nasehat-nasehat dari pembimbingku itu.

Sesuatu yang sesungguhnya tidak lazim. Sungguh Bapak, aku sangat kehilangan dirimu…Hingga terkadang ketika aku sangat merindukan Bapak, aku terkadang menemui pembimbingku itu. Banyak yang heran kepadaku, mengapa aku sangat dekat dengan pembimbingku itu.

Tapi, Bapak jangan khawatir, tempat Bapak tak akan tergantikan. Kelak, tidak lama lagi, ketika aku sudah bertemu Bapak langsung, aku akan bercerita tentang seluruh kisahku kepadamu. Dan aku yakin, Bapak pasti akan semakin bangga kepadaku…

Allah jagalah Bapakku, pertemukanlah ia dengan orang tuanya dan umat muslim yang Engkau cintai…hadirkanlah ketegarannya dalam setiap letihku, hadirkanlah semangatnya dalam setiap keputusasaanku dan hadirkanlah sosoknya dalam pendampingku kelak…allahuma amin


Teruntuk Para Sabahat Akhwat

^^* ... Ukhti..
Jalan yang lurus dan mulus takkan pernah menghasilkan pengemudi yang hebat....
Laut yang tenang tidak akan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh...
  Langit yang selalu cerah takkan pernah menghasilkan pilot yg handal...
Hidup yang 'tidak ada' masalah takkan membuat orang jadi kuat...
Allah menjadikan jalan hidup

berliku liku..

Menanjak..

Mendaki..

Berbelok..

Ada 'banyak' gelombang pesoalan hidup yg menghantam...Langit yang kelam dan penuh awan serta badai...
Semua itu agar kita bisa belajar...

Belajar...

Belajar...

Belajar...

Dan akan terus belajar...

Agar menjadi Hebat, Tangguh, kuat, handal dalam menjalani hidup ini....
~ keep Istiqomah ~


Rayuan2 berbahaya seorang ikhwan kepada akhwat:
01. Ukhti, ana mencintaimu karena Allah
02. Ana jadikan anti sebagai adik angkat, mau kan?
03. Anti cantik kalau pakai jilbab
04. Jika di hatinya Ali terukir nama Fathimah, maka dihatiku terukir nama anti
05. Ukhti, apakah engkau tulang rusukku yang bengkok?
06. Assalamu alaikum, anti sudah makan?
07. Anti sudah shalat malam belum?
08. Ukhti, boleh minta no hp? nanti ana kirimin sms tausiyah dech
09. Subhanallah...ana kagum dengan kepribadian anti. Anti seperti Fathimah, Sumayyah dan Khansa.
10. Alangkah beruntungnya ikhwan yang akan mendapatkan anti kelak, Masya Allah
11. Ukhti, pacaran adalah haram."Dan Janganlah kamu mendekati Zina". Maka itu, maukah anti ta'aruf   dengan ana secara islami?
12. Ukhti, nanti kajian di sana datang ya? Ana juga datang... (ketemuan yuk!!)
13. Masya Allah, ilmu anti sangat luas, maukah membantu ana untuk selalu memberikan nasihat ke ana?
14. Maukah ukhti jadi admin group ana? Biar anti bisa menemani ana menghandle group ini.
15. Ukhti, kalau ada apa2 tentang masalah agama yg ant tidak tahu, tanyakan ke ana ya? Insya Allah ana akan bantu.
16. Ukhti, ana masih awam, ilmu ana sedikit, ana mohon ukhti membimbing dan mendakwahi ana selalu.
17. Ukhti, halalkan ana...jangan sampai ana putus asa jika ukhti menolak ana
18. Anti sudah ana anggap sebagai adik ana sendiri, jadi jangan ragu2 jika membutuhkan sesuatu ke ana
19. Ukhti sudah hafal berapa juz? Bolehkah ana mendengar bacaan ukhti?
20. Afwan ukhti...ana kesulitan jika bertemu secara langsung. Maukah kita tukeran foto saja? Tapi ukhti duluan ya?
21. dll

Berhati2lah para akhwat dari rayuan maut ini... Ingat, Jaga hati Yaa...^^*
By: Komunitas ANTI JIL (Jaringan Ikhwan Lebay)
" Copas dari akun fb ukhti Ummu S."
 

 

:: KETIKA KITA MENGELUH :: Back All To Allah


> ketika kita mengeluh : " Ahh,,,, mana mungkin.........."

Allah Menjawab : " Jika AKU Menghendaki, maka cukup KU berkata
... ... " JADI",maka jadilah " (QS.Yasin : 82)

> Ketika kita mengeluh : " Capek banget,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,"

Allah menjawab : "dan KAMI jadikan tidurmu untuk istirahat "
(QS.An Naba : 9)

> Ketika Kita mengeluh : " hufhhh,,, Koq berat bangeeet yaa,, ga sanggup

rasa nya..........."

Allah Menjawab : " AKU tidak membebani seseorang melainkan sesuai
kesanggupannya....(QS.Al BAqarah ; 28)

> Ketika kita Mengeluh : " Stressssss nih,,,, Puusiiiiiiiing........

Allah menjawab : " hanya dengan mengingatKu hati akan menjadi tenang...(QS.Ar Ra'ad : 28)

> Ketika kita mengeluh : " Yahhhhhhh,,,, Ini semua ternyata semua sia-sia...."

Allah Menjawab : " Siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji dzarah sekalipun, niscaya ia akan melihat balasanya" (QS.Az Zilzaal :7)

> ketika kita mengeluh : " Ya Allah,,,,,, Aq Sendirian,ga ada sorangpun yang mau bantuin,,,,,,,,,,,,,,"

Allah Menjawab :" Berdo'alah (mintalah) kepadaku niscaya Aku kabulkan untukmu......(QS.Al Mu'min 40 :60)

> Ketika kita mengeluh : " Duh,,,,, Sedih banggeeeettt,,,, mw nangis rasanya,,,,,,,,"

Allah Menjawab : " la Tahzan,,, InnAllaha Ma'ana.,,,,,,
Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita,,,,,,,,,,,," (At Taubah 9: 40)
 

:'(

Anemia, Si Biang Futur

Pernahkah Anda merasa menjadi orang yang paling semangat, selalu mengawali hari dengan senyuman dan sangat siap melaksanakan setumpuk kegiatan? Atau sebaliknya, setiap bangun pagi Anda merasa loyo, capek, pegal dan bahkan lupa tugas-tugas yang harus diselesaikan? Ketika suatu pagi Anda mengalami keadaan buruk ini, Anda merasa malas melakukan apapun. Kajian tidak datang, ke kampus terlambat, tilawah hanya beberapa ayat, shalat dhuha libur dulu, dan rapat organisasi absen saja. Teman-teman mengidentifikasi Anda sedang futur, sedang mengalami kemunduran ruhiyah dan penurunan spiritualitas. Lalu, Anda kebanjiran SMS motivasi dan tausiyah dari sana-sini. Anehnya, puluhan SMS dan tausiyah itu hanya sedikit atau tak membuat Anda berubah. Kaki tetap berat melangkah untuk menyambut berbagai amanah mulia itu.

Benarkah Anda sedang futur? Mungkin benar. Tetapi yang lebih penting penting adalah mengetahui penyebabnya. Tanpa tahu penyebabnya, Anda tak akan tahu cara mengatasinya.
Jangan-jangan, Anda hanya kekurangan zat besi (anemia) saja. Jika ini segera Anda sadari, sebelum teman-teman memberondong Anda dengan SMS indah dan tausiyah, Anda telah bangkit ceria dan menyapa mereka.

Mari kita hitung, manakah yang lebih banyak kita rasakan, ketika pagi tiba. Pagi adalah awal sebuah hari, biasanya kualitas hari kita akan ditentukan oleh kondisi kita di pagi hari. Jika setelah bangun tidur Anda merasakan tubuh yang segar, dan pikiran yang fresh, maka Anda akan siap mengisi hari dengan aktifitas yang penuh manfaat. Menyelesaikan semua amanah yang diemban tanpa keluhan. Selalu siap berlama-lama menjadi relawan di daerah bencana.

Kesegaran tubuh di pagi hari sangat tergantung pada kualitas tidur dan asupan nutrisi di hari sebelumnya. Tidur yang berkualitas akan membuat badan kembali segar, namun bukan berarti harus memperbanyak jam tidur. Asupan nutrisi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan pun sangat menentukan kesegaran tubuh di pagi hari. Ada 5 zat gizi yang harus diterima tubuh dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Kelima zat gizi tersebut adalah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral Jika tubuh kekurangan kelima zat gizi yang seharusnya diterima tubuh, maka akan berdampak pada defisiensi atau kekurangan zat gizi. Bahkan bisa jadi terkena defisiensi beberapa zat gizi seperti kurang gizi (akibat kekurangan kalori dan protein) dan anemia gizi besi (kekurangan Fe atau zat besi).

Bayangkan, Anda adalah relawan Merapi yang harus mendampingi para pengungsi. Atau aktifis dakwah kampus yang sedang memimpin rapat penting, atau juga seorang panitia tabligh akbar yang sedang menjemput pembicara, tiba–tiba saja pingsan. Tubuh lemah dan tidak kuat melanjutkan amanah. Semua aktifitas itu harus dihentikan dan Anda harus bad-rest. Di-cancel-lah beberapa agenda penting. Setelah diperiksakan, Anda mengalami Anemia Gizi Besi (AGB), juga memiliki status gizi yang kurang alias kurang gizi.
Penyebab utama anemia adalah kurangnya zat besi dalam tubuh. Kurangnya zat besi dalam tubuh bisa dikarenakan kurang asupan makan sumber zat besi, bisa pula karena penyakit seperti malaria, infeksi penyakit karena cacing, dan gangguan patologis.

Tanda yang sangat mudah dikenali jika terkena anemia adalah 5 L : Lemah, Letih, Lesu, Loyo dan Lunglai. Seolah tubuh sangat berat untuk digerakan, berkunang-kunang, dan sulit berkonsentrasi. Hal ini sangat terasa jika berubah posisi, ketika jongkok kemudian Anda berdiri, atau ketika beranjak dari tempat tidur.
Anemia lebih banyak diderita oleh wanita karena wanita mengalami masa haid setiap bulannya. Fe pun hilang bersamaan keluarnya darah haid. Sehingga pengeluaran zat besi ini harus diimbangi dengan asupan makanan sumber Fe, dan suplemen pil besi. Selain itu asupan vitamin C harus dupenuhi karena mendukung penyerapan zat besi. Bahan makanan yang merupakan sumber Fe adalah sumber protein hewani seperti hati daging sapi, dan daging kambing. Sayuran berwarna hijau seperti bayam hijau, bayam merah, dan daun singkong.

Jujur saja kita akui bahwa para aktivis jarang yang memperhatikan makanannya. Pagi-pagi pergi tak sempat sarapan. Siang makan dengan asupan seadanya, dan malam menyantap mie instan tanpa hijauan atau daging.
Anda perlu mengevaluasi kembali kebiasaan makan selama ini karena ini sangat mempengaruhi kesehatan tubuh. Makan tidak hanya sekedar ingin makan dan tidak sekedar kenyang. Diperlukan kecerdasan untuk memilih makanan, mempertimbangkan manfaat dan dampak positifnya. Pola makan sehat dan memakan makanan sehat harus menjadi kebiasaan para aktifis dawah. Amanah yang diemban tidak hanya untuk sekarang dan esok hari, namun sampai ajal menjelang.

Bagi seorang ahkwat atau ummahat, makanan tidak hanya untuk sekedar sehat tapi juga untuk kecantikan dirinya. Kulit yang halus, mata bersinar serta otak yang cerdas dapat dimulai dari makanan. Fungsi lain yang tidak kalah penting adalah menyiapkan diri untuk menghadapi kehamilan. Bayi sehat hanya akan berasal dari rahim yang kuat dan sehat. Begitu juga dengan ASI yang berkualitas, akan mengalir dari tubuh Ibu yang memiliki status gizi normal, berperilaku sehat, penyabar dan qanaah. Semua itu hanya bisa terwujud jika Anda mempersiapkannya dari sekarang. Mulailah dari makanan sehat dan pola makan sehat. Jangan sampai kita futur, hanya gara-gara kurang Fe.

:)

sumber www.fimadani.com


Mendidik Anak Sejak Sebelum Menikah


Alangkah dahsyat semangat dan tekad penyeru dakwah itu, ia korbankan waktu, harta, dan jiwanya untuk Islam, agamanya hidup dan mati. Alangkah indah cahaya wajahnya tatkala tersenyum, menerima segala hujat cela dengan segala kelapangan jiwa. Alangkah bening air matanya saat menyaksikan segala kebatilan dan keburukan di hadapan, namun tak memiliki daya menahannya. Meski pedih, ia lantunkan doa itu, lirih, pelan, dan rahasia, agar hidayah dan ampunan meliputi mereka yang berbuat nista. Ada gelora yang membakar dadanya, untuk selalu dan terus berjuang tiada henti,

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jalan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.” (Q.S. Al Hajj: 58)
Tak ada yang meragukan kredibilitas penyeru kebaikan itu, namun ada satu hal yang sangat patut untuk menjadi bahan diskusi para aktivis itu.

Adalah kewajiban setiap manusia sebenarnya untuk menebar kebaikan dan kebenaran, namun betapa mengiris hati jika ternyata orang-orang yang kita cintai di dalam rumah kita jauh dari nuansa syar’i. Sedih, apalagi jika yang bisa kita lakukan hanya bingung dan menunggu. Dan akan lebih parah lagi jika itu semua sudah berkaitan dengan dunia anak .

Oke, Anda aktivis? Jam terbang tinggi? Selalu kejar syuting (alias syuro penting)? membina sekian halaqoh? Applause dan beribu apresiasi dulu untuk anda. Tapi, apakah Anda merasa sudah cukup? Saya yakin tidak, karena ada satu hal yang musti Anda pikirkan setelah itu, yaitu dakwah keluarga, dakwah kepada anak kita sendiri.

Ada fenomena yang unik dan aneh, yaitu kebanyakan anak dari seorang aktivis dakwah tidak mau seperti umminya, tidak mau seperti abinya. Mengapa terjadi? Komunikasi. Komunikasi menjadi satu hal penting yang sering terlupakan, paling sering diremehkan bahkan. Padahal komunikasi menjadi sebuah media penting untuk memahamkan pikiran anak kita yang masih kanak-kanak akan segala aktifitas kita, peran kita di masyarakat, bahkan keutamaan amar ma’ruf nahi munkar yang sedang kita perjuangkan. Alangkah ironis, kita berhasil mendidik anak orang, tapi tidak berhasil mendidik anak sendiri!

Lalu kapan memulai komunikasi yang tepat kepada anak? Tentu saja lebih baik jika dimulai sejak Allah mengamanahkan mereka kepada kita, melalui sebuah pendidikan anak sejak dini yang terarah dan terencana maka kita dapat memulai komunikasi yang baik.

Bagaimana jika anda belum mempunyai anak, bahkan belum menikah? Sekarang mari kita ubah paradigma lama tentang learning by doing dalam hal ini. Di luar negeri, sudah menjadi sebuah kejadian paling lumrah ketika seorang ibu yang belum hamil, merencanakan pendidikan anak mereka sejak awal pernikahan. Baiklah, hari ini kita sama-sama belajar untuk menjadi ibu, sama-sama belajar menjadi ayah. Berbagai buku tentang pendidikan anak sejak dini, bahkan pendidikan anak pra lahir telah beredar, kita bisa memilih materi yang sekiranya mampu diterapkan dan cocok untuk keluarga kita dan khususnya bagi sang anak karena materi tentang pendidikan anak terus berkembang dari tahun ke tahun, abad ke abad menghasilkan banyak penelitian dan teori baru tentang cara mendidik anak.

Doktor cilik yang menghafal Al Quran dalam usia 5 tahun, ibunya selalu berwudhu sebelum menyusuinya, menghindari acara-acara ikhtilat dan penuh kebatilan. Apa yang dilakukan oleh beliau merupakah bagian dari pendidikan. Abdurrahman faiz, putra pertama penulis Helvy Tiana Rosa, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, ketika dalam kandungan, ibunya selalu mengajaknya berkomunikasi tentang rasa simpati dan empati terhadap sesama. Ada juga Ibu Wirianingsih yang memiliki 10 anak penghafal Al Quran di mana masa mudanya beliau habiskan dengan aktivitas-aktivitas kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar. Nah tidakkah kita ingin melahirkan anak-anak yang menghujamkan bumi dengan kalimah La Ilahaillallah?

Ada sebuah ungkapan menarik yang diucapkan oleh seorang trainer sekaligus motivator Nasional, Ayah Edy, beliau menyampaikan bahwa Indonesia Strong From Home, Indonesia kuat bermula dari rumah. Lalu mengapa persiapan itu idealnya dilakukan sebelum menikah? Karena sebelum menikah kita masih memiliki banyak kesempatan untuk berbenah diri, memenuhi pundi-pundi ilmu ke dalam pikiran kita, dan tentu saja masih memiliki keluangan waktu yang lebih ekstra dibanding saat sudah menikah. Inilah poinnya, kelapangan yang lebih di masa muda membuat kita mampu untuk lebih siap dalam menghadapi masalah-masalah pendidikan anak yang tak habis-habis menjadi tema perbindangan hangat dalam seminar-seminar parenting.
Wahai calon ibu, calon ayah, aktivis dakwah yang dirahmati Allah, mari kita mulai perhatian kita kepada (calon) anak sendiri dengan menyiapkan materi pendidikan yang menyenangkan dan aplikatif.

______^^______

Nutrisi Khusus Perempuan


Anda pernah menyaksikan berita bayi yang baru lahir namun tanpa batok kepala, bayi lahir dengan berat kurang atau bahkan bayi yang meninggal karena lahir kurang umur (prematur)? Tidak hanya itu, ada juga bayi-bayi yang mengalami obesitas, sehingga mengalami gangguan nafas serta perkembangan motoriknya terganggu. Bisa jadi semua berita itu hadir ditengah-tengah kehidupan Anda. Bisa tetangga, teman atau keluarga terdekat. Semua berita tentang bayi-bayi tersebut sangat memprihatinkan. Jika diteliti lebih dalam nutrisi menjadi salah satu penyebab bayi-bayi yang cacat tersebut. Gizi sang Ibu ketika masa kehamilan sangat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan. Juga mempengaruhi stamina tubuh Ibu dan kualitas ASI disaat nifas dan menyusui.

Peduli terhadap kesehatan dan makanan bergizi ketika akan menjadi Ibu adalah hal yang biasa (karena memang seharusnya demikian toh). Namun ketika Anda peduli terhadap kesehatan tubuh dan mulai memperhatikan asupan makanan sehat  saat Anda belum menyusui si kecil, saat belum tumbuh janin dalam perut, dan saat pernikahan belum Anda jalani, adalah hal yang luar biasa. Sahabat, kualitas sel telur, janin dalam kandungan, kondisi kesehatan kita selama hamil dan melahirkan sangat bergantung pada status kesehatan dan nutrisi Anda saat ini.

Tubuh perempuan menyimpan sistem yang sangat unik, proses haid, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui  adalah sebuah proses yang membedakan dengan laki-laki. Selain diwajibkan untuk mengkonsumsi asupan zat gizi yang 3B (bergizi, beranekaragam dan seimbang), ada zat gizi lain yang harus diperhatikan juga. Zat gizi tersebut adalah :

Zat Besi (fe)

Fungsi: Zat gizi yang satu ini sangat berhubungan erat dengan anemia. Fe diperlukan untuk membentuk sel-sel darah merah yang diubah menjadi hemoglobin dan diedarkan keseluruh jaringan tubuh yang berfungsi sebagai pembawa oksigen.
Sumber: Agar zat besi yang diabsorpsi lebih banyak tersedia untuk tubuh maka diperlukan mengkonsumsi bahan makanan tinggi Fe. Seperti (lauk hewani/daging, hati, ikan dan ayam). Sumber Fe dari hewani merupakan bahan pangan yang mudah dicerna dan mudah dipergunakan. Sedangkan sumber Fe yang berasal dari nabati (kacang kedelai, serealia, sayur  dan buah) tidak mudah diserap tubuh. Zat Inhibitor (zat yang dapat menghambat penyerapan Fe) adalah teh, kopi dan beberapa sereal. Sedangkan zat gizi yang dapat meningkatkan penyerapan zat Fe adalah vitamin C.

Asam Folat

Fungsi: asam folat sangat diperlukan saat awal pernikahan. Diperlukan tubuh untuk pembentukan DNA dan RNA. 3 bulan sebelum pernikahan dan 3 bulan pertama saat kehamilan tubuh Anda sangat memerlukan asupan asam folat. Selain itu, asam folat juga dibutuhkan untuk mencegah kelainan kardiovaskuler, fungsi susunan saraf pusat, dan fungsi kemampuan menyimpan memori.
Sumber: sayuran berwarna hijau tua, buah-buahan, biji-bijian, daging, susu dan sereal yang ditambahkan asam folat.
Kekurangan asam folat: kelainan kongenital (spinabifida, hydrocephalus, DownSyndrom, dan NTD/Neural Tube Defect).

Antioksidan

Fungsi: Antioksidan adalah sekelompok bahan kimia yang berfungsi melindungi sel/tubuh dari kerusakan yang disebabkan oleh proses oksidasi (radikal bebas).
Sumber: Antioksidan pada umumnya banyak ditemukan pada sayuran, buah-buahan dan tumbuhan-tumbuhan. Contoh antioksidan yang berasal dari makanan adalah vitamin E, C, dan vitamin A. Selain itu antioksidan juga bisa disintesis (produksi) dalam tubuh kita (asam urat, HDL dan asam amino seperti arginin).
Jika kadar Radikal bebas melebihi kadar antioksidan akan menimbulkan keadaan yang disebut dengan stress oxidative. Maka akibatnya radikal bebas akan berusaha mencuri elektron dari molekul disekitarnya dan akan menyebabkan kerusakan pada molekul tersebut. Molekul yang kehilangan elektron akan menjadi radikal bebas dan akan mencuri elektron dari molekul disekitarnya, dan begitu sterusnya sehingga menimbulkan reaksi yang berantai.

Jika keadaan ini berlangsung lama, maka akan menyebabkan kerusakan pada DNA, protein, dan membran sel. Kerusakan pada sel akan memicu berbagai kelainan dan penyakit dalam tubuh antara lain kanker, penyakit kardio vaskuler, dan berbagai penyakit degeneratif lainnya. Radikal bebas juga berperan pada penyakit Alzheimer dan Parkinson. Dengan meningkatkan asupan makanan yang mengandung antioksidan maka dapat meningkatkan sistem imun tubuh, sehingga terhindar dari serangan penyakit.
Menjadi seorang perempuan adalah sebuah anugerah yang patut kita syukuri. Perempuan ditakdirkan untuk mengemban amanah agung (haid, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui), episode ini  tidak boleh berlalu begitu saja. Tentu memerlukan sebuah persiapan khusus agar semua episode ini dapat dijalani dengan lancar, sehat dan indah.

Kini saatnya Anda mulai bersiap menyambut amanah agung itu. Saatnya untuk mengevaluasi gaya hidup, lebih memperhatikan hak tubuh akan kesehatan. Agar dari rahimmu terlahir janin- janin yang sehat, mujahid- mujahid tangguh penerus estafet dakwah ini.

www.fimadani.com

Ada Sekolah di Rumahku



 Tidak berlebihan jika ada pernyataan bahwa tiga tahun pertama usia manusia menentukan kehidupannya di masa depannya. Banyak yang bertanya-tanya tentang aktivitas belajar anak balita karena anak sebelia itu sering terlihat pasif atau justru terlampau aktif, membuat orang dewasa tidak yakin bahwa mereka banyak belajar dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Padahal, di masa tersebut, sel-sel dan saraf otak  ibarat tali temali yang saling terhubung kuat karena adanya pemicu (yang disebut sebagai stimulasi), dengan stimulasi yang dilakukan, maka koneksi sel-sel otak semakin kuat dan permanen. Sedangkan sel-sel saraf otak yang tidak distimulasi akan rusak dan dibuang. Namun untuk menstimulasi otak balita ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena meskipun hebatnya perkembangan otak bayi di usia tersebut, otak balita juga rentan kerusakan karena treatment yang keliru. Treatment yang dimaksud seperti, membentak dan bertengkar di depan anak yang menyebabkan anak stress, melenyapkan rasa ingin tahunya dengan menyuruhnya diam saat ia menanyakan sesuatu, mengganti buku dengan aktivitas menonton gambar bergerak alias televisi, dan lain sebagainya.

Kesadaran orang tua saat ini mulai berkembang sangat baik, banyak orang tua yang mulai berpikir untuk mempercayakan pendidikan pre-school dan bayinya pada lembaga daycare, sekolah bayi, playgroup, atau lembaga homeschooling di kotanya. Diharapkan dengan menyekolahkan sang anak sejak dini, anak mampu menguasai ketrampilan-ketrampilan dasar untuk persiapannya menuju sekolah formal. Namun, sehebat-hebatnya lembaga beserta instruktur yang berada di dalamnya dalam usahanya membekali anak dengan berbagai stimulasi, rumah adalah sebaik-baiknya lembaga/sekolah bagi sang anak. Di rumah justru dapat menjadi tempat paling strategis untuk mengembangkan bakat dan potensi anak sejak dini. Lembaga hanyalah salah satu tiang penyokong perkembangan kecerdasan emosi, akal dan spiritual anak, selebihnya adalah tanggung jawab orang tua. Lalu apa yang bisa dilakukan anak balita di rumahnya?

Anak usia balita, memiliki struktur otak yang masih murni dan ibarat pisau yang harus diasah untuk menjadi tajam, stimulasi ini dirangkum dalam beberapa aktivitas/kegiatan fisik maupun nonfisik yang mampu mengembangkan kecerdasan sang anak. Kegiatan belajar anak usia dini tidak memiliki struktur atau kurikulum yang berat, tidak ada target akademis yang harus dicapai dalam pelajaran yang ia lakukan di rumah. Semua pencapaian yang dihasilkan anak murni ditujukan untuk membantunya lebih siap belajar hal-hal yang lebih kompleks di lingkungan luar rumah atau sekolah formal.
Stimulasi yang dapat dilakukan  di rumah antara lain:

Stimulasi Kecerdasan Emosional. Seiring bertambahnya umur, manusia mengalami perubahan-perubahan emosi, dan ini sangat dipengaruhi oleh pangalaman-pengalaman dalam hidupnya serta lingkungan di mana ia tumbuh dan berkembang. Setiap kejadian dan permasalahan yang timbul melahirkan berbagai bentuk emosi dalam diri manusia. Jika pengetahuan dan kecerdasan emosional yang didapatnya sangat minim, maka besar kemungkinan ia mengalami yang namanya kebutaan emosi, yang nantinya justru akan menuntun anak pada emosi-emosi negatif seperti tidak bersabar, mudah putus asa, mudah marah, dan lain sebagainya. Kecerdasan emosional membantu kita untuk mewujudkan cita-cita dan harapan kita, merespon perasaan cinta, dan menghadapi masalah-masalah yang timbul dalam hidup. Anak kecil belum mampu membedakan atau menjelaskan emosi yang ia rasakan, maka sedikit latihan dan stimulasi yang kita ajarkan akan membantunya mengenali, mengendalikan, dan merespon emosi yang ia rasakan. Bantu mereka untuk mempelajari kosakata yang berkaitan dengan emosi, seperti, “aku takut”, “aku merasa ragu”, aku merasa gelisah”.  Jika anda dapat mengenali emosi mereka, maka katakankan, “ sepertinya kamu sedang marah/sedih”. Ciptakan suasana aman dan kondusif sehingga anak mampu mengungkapkan perasaannya secara jelas, terbuka, dan apresiatif. Selain itu, Anda dapat mendiskusikan perasaan emosi yang dirasakan oleh orang lain yang diamati bersama atau perasaan emosi dirinya sendiri beberapa waktu yang telah lalu, diskusikan hal-hal sederhana, sperti  ”apa yang menyebabkan aku/mereka marah?”, “apa yang membantuku/nya meredakan marah itu?”, dan seterusnya.

Stimulasi Kecerdasan Sosial. Perkembangan sosial anak akan berhubungan dengan kecerdasan emosi yang dia pelajari, maka mengajarkannya untuk bersimpati/empati dapat menjadi salah satu usaha merangsang kecerdasan sosial anak. Berdasarkan caranya besosialisasi, anak terbagi menjadi tiga macam. Pertama, anak yang mudah bergaul, Kedua anak yang perlu penyesuaian diri, dan yang ketiga adalah anak yang sulit. Untuk anak pertama dan kedua mungkin tidak ada hambatan yang berarti dalam perkembangan sosialnya. Namun untuk jenis anak ketiga seringkali membuat was-was orang tua, karena seolah-olah anak terlihat anti-sosial. Padahal, jika kita mau bersabar sembari membantunya mengenali lingkungan, ia akan menjadi anak yang ramah dan terbuka terhadap sekitar.

Stimulasi Kecerdasan Akal. Pemikiran anak sebenarnya lebih kompleks dibanding orang dewasa, karena mereka seringkali memikirkan sesuatu hingga detail, maka tak heran anak usia balita sangat gemar bertanya ini itu. Pemenuhan “gizi akal” anak balita dapat dipenuhi dengan permainan dan eksplorasi yang sarat dengan pelajaran di dalamnya. Membaca buku, mendengarkan dongeng, melayani pertanyaannya, menggambar, mengumpulkan kerang di laut (lalu mengelompokkannya berdasakan warna/besar-kecil, dan sebagainya), menggunting, menempel, semua aktivitas tersebut adalah makanan bergizi bagi akalnya. Maka, menyediakan waktu beserta fasilitas belajarnya akan mendukung perkembangan akalnya.

Stimulasi Perkembangan Motorik/Fisik. Anak yang sehat adalah anak yang aktif, anak yang aktif berarti ia sehat secara fisik dan sehat secara psikologis. Dari bayi usia 0 bulan, perhatikanlah fase-fase yang dilalui. Pada fase berapa ia harus bisa menggenggam, meremas, menuang-menumpahkan mainan/pasir/dll, merangkak, berdiri, dan lain sebagainya. Setiap perkembangan bayi merupakan bentuk ketrampilan standar  yang umumnya harus dicapai, karena pada beberapa kasus kerusakan otak anak dapat menunjukkan sebuah perkembangan abnormal yang memicu adanya disfungsi organ, seperti cacat, bisu/tuli, bahkan ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder), gangguan perkembangan pada anak yang ditandai dengan perasaan mudah gelisah, tidak bisa tenang, meletup-letup, dan sebagainya.

Stimulasi Kecerdasan Spiritual. Pengetahuan dan pemahaman spiritual menjadi bagian yang penting dalam perkembangan kecerdasan anak secara keseluruhan. Menyambut keingintahuannya tentang banyak hal, seperti mengapa ada siang-malam, siapa yang menurunkan hujan, Siapa yang menciptakan adik bayi, Hal-hal sederhana seperti itu sering menjadi bahan pemupukan spiritual dalam diri anak. Kisah-kisah heroik dari dalam Al Qur’an, sejarah hidup Rasulullah, dan keindahan ahlak beliau dapat menjadi cerita yang akan menumbuhkannya menjadi anak yang meneladani sifat-sifat mulia idolanya; Rasulullah SAW.

Siapa yang bertanggungjawab dalam menstimulasi kecerdasan-kecerdasan tersebut? Tentu saja orang-oang yang hidup di dalam rumahnya; ibu, ayah, nenek/kakek, pengasuh, khadimat, dan siapapun yang tinggal di dalam rumahnya hendaknya dikondisikan untuk ramah terhadap perkembangan anak. Dengan begitu, anak akan tumbuh dan berkembang dalam pengasuhan yang positif, dan ia pun siap menghadapi masa depannya yang penuh dengan tantangan.


Berbahayakah Mengajari Anak Balita Calistung?


Beberapa waktu yang lalu saya dihebohkan dengan sebuah artikel yang intinya mengatakan bahwa mengajari anak calistung alias baca, tulis, dan hitung membahayakan mentalnya.

Saya penasaran kemudian mulai menekuni kalimat per kalimat yang tercetak di halaman sebuah blog milik seorang teman. Dan saya menyadari ada sedikit kesalahpemahaman yang mungkin akan mempengaruhi pembacanya. Bukan berarti bahwa apa yang disampaikan di dalam artikel tersebut salah, namun agaknya perlu uraian pendamping yang akan menjelaskan apa yang belum dijelaskan di dalam artikel tersebut.

Memperkaya pengalaman anak dengan kegiatan-kegiatan yang sarat stimulasi penting untuk menyiapkannya belajar di bangku sekolah, atau belajar sesuatu yang ia minati. Ibarat memancing, orangtua hanya perlu menyiapkan umpannya, biarkan anak-anak tersebut memilih umpan yang ia sukai. Termasuk dengan kegiatan membaca, membacakan buku kepada anak bukanlah kegiatan yang dilakukan saat anak sudah dapat mengeja kata menjadi kalimat utuh, bukan kegiatan yang memerlukan ketrampilan membaca yang ahli dari seorang anak. Cukup memerlukan waktu santai untuk bersenang-senang tenggelam ke dalam cerita di dalam sebuah buku. Maka tidak heran banyak para ahli menyarankan sang ibu untuk membiasakan diri membacakan buku kepada anaknya bahkan sejak ia mulai hamil.

Kematangan setiap anak berbeda-beda, jika Anda mengenali anak Anda dengan baik, itu akan membantu dalam menyiapkan anak belajar calistung. Tak ada penjelasan sederhana tentang kematangan dan kesiapan anak menerima pelajaran (atau stimulasi), ada anak yang dapat berjalan di usia sepuluh bulan dan yang lain baru bisa belajar pada usia delapanbelas tahun. Demikian pula anak-anak yang sudah cakap berbahasa, perbedaan pengetahuan kata dan tata bahasa antar anak pra-sekolah dapat terpaut beberapa bulan. Seorang anak usia 4 tahun bisa saja lancar dapat lancar membaca dan mudah belajar, namun ada pula anak lain yang baru siap belajar membaca di usia 6 tahun.

Orangtua tak perlu terburu-buru memasukkan anak ke dalam bimbingan belajar calistung. Usianya masih sangat muda, anak hanya perlu bersenang-senang dengan bukunya, buku-buku untuk pemula tidak mengandung apa pun kecuali kesenangan dan keasyikan. Jika orangtua memaksakan anaknya untuk belajar calistung di kala anak itu belum siap, maka itu hanya akan melemahkan dan menjatuhkan harga diri anak tersebut. Ketika ia melihat kawan-kawan yang lain telah bisa membaca bahkan menulis dan berhitung, maka anak akan merasa gagal, dan hal ini mungkin akan menghasilkan sikap negatif yang kurang menguntungkan. Anggapan bahwa dirinya kurang pintar dalam latihan calistung menjadi penyebab sebagian besar masalah calistung.

Dalam kondisi seperti ini, para ahli biasanya akan mendorong orangtua untuk menunggu setahun lagi untuk menyekolahkan anak. Pilihan ini mungkin mustahil bagi beberapa keluarga, orangtua yang bekerja atau memiliki tanggungjawab lain yang penting bisa dimaklumi ingin segera menyekolahkan anak-anak mereka. Namun akan lebih baik menyekolahkan anak terlambat daripada mengharuskan mereka mengulang kelas di kemudian hari yang akan berefek pada mental anak; menurunnya harga diri, merasa lemah, gagal, dan lain sebagainya.

Lalu kapan sebaiknya anak diajari calistung?
Tentu saja orangtua harus mengenali kesiapan anak untuk mempelajarinya. Sementara kita mempersiapkan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, perhatikan ketertarikan anak terhadap buku, hal ini ditandai dengan anak suka membuka-buka buku, membolak-balikkan halamannya, memilih sendiri buku yang diinginkan, dan meminta orangtua untuk membacakannya. Tanda anak siap belajar calistung juga ditandai dengan sudah terkoordinasinya mata-tangan, kemampuan mengikuti kata yang kita tunjuk saat membacakan buku padanya, anak mulai menyadari ada huruf/angka yang menyusun kata dalam kalimat yang dibaca, biasanya anak akan bertanya ini huruf apa dan itu angka berapa atau ini bacanya apa dan itu bacanya apa.  Namun jika anak sama sekali belum tertarik saat kita sodori buku, maka kita harus kembali ke tahap awal dahulu, yaitu menumbuhkan minat baca pada anak terlebih dahulu.

copas :www.fimadani.com