Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Jumat, 20 Januari 2012

Muslimah Acuan Al-Quran

Muslimah Acuan Al-Quran ialah muslimah
...

Yang Beriman
Yang Hatinya Disaluti Rasa Taqwa Kepada Allah SWT
Yang Sentiasa Haus Dengan Ilmu
Yang Sentiasa Dahaga Dengan Pahala
Yang Solatnya Adalah Maruah Dirinya
Yang Tidak Pernah Takut Berkata Benar
Yang Tidak Pernah Gentar Untuk Melawan Nafsu

Muslimah Acuan Al-Quran Ialah muslimah

Yang Menjaga tutur katanya
Yang Tidak Bermegah Dengan Ilmu Yang Dimilikinya
Yang Tidak Bermegah Dengan Harta Dunia Yang Dicarinya
Yang Sentiasa Berbuat Kebaikan Kerana Sifatnya Yang Pelindung
Yang Mempunyai Ramai Kawan Dan Tidak Mempunyai Musuh Yang Bersifat Jembalang

Muslimah Acuan Al-Quran Ialah muslimah

Yang Menghormati ibu bapanya
Yang Sentiasa Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Dan Keluarga
Yang Bakal Memelihara Keharmonian Rumahtangga
Yang Akan Mendidik Anak-Anak Dan membantu suami mendalami Agama Islam

Yang auratnya dikhaskan buat suami tercinta
Yang Mengamalkan Hidup Penuh Kesederhanaan
Kerana Dunia Baginya Adalah Rumah Sementara Menunggu
Akhirat

Muslimah Acuan Al-Quran Sentiasa Bersedia Untuk Agamanya

Yang Hidup Di Bawah Naungan Al-Quran Dan Mencontohi
Sifat Rasulullah SAW serta wanita sufi yg digariskan dalam kalamullah
Yang Boleh Diajak Berbincang Dan berbicara
Yang Sujudnya Penuh Kesyukuran Dengan Rahmat Allah Ke Atasnya

Muslimah Acuan Al-Quran Tidak Pernah Membazirkan Masa

Matanya Kepenatan Kerana Kuat Membaca
Yang Suaranya Lesu Kerana Penat Mengaji Dan Berzikir
Yang Tidurnya Lena Dengan Cahaya Keimanan
Bangun Subuhnya Penuh Dengan Kecerdasan
Kerana Sehari Lagi Usianya Bertambah Penuh Kematangan

Muslimah Acuan Al-Quran Sentiasa Mengingati Mati


Yang baginya Hidup Di Dunia Adalah Ladang Akhirat
Yang Mana Buah Kehidupan Itu Perlu Dibajai Dan Dijaga
Meneruskan Perjuangan Islam Sebelum Hari Kemudian
bersama lelaki


Muslimah Acuan Al-Quran Ialah muslimah

Yang Tidak Mudah Terpesona
Dengan Buaian Dunia
Kerana Dia Mengimpikan Syurga
Di Situlah Rumah Impiannya
Bersama muslim Acuan Al-Quran ganjaran ALLAH SWT
copas fb InsyaAllah
 
 

Selasa, 17 Januari 2012

Jangan Sepelekan Memasak


Anda tak suka memasak atau tak pernah memasak? Mengapa? Karena memang tak pernah tertarik dengan memasak? Enak tidak enak, yang penting tinggal makan, tidak repot, tidak perlu berkotor-kotor dan berlelah-lelah. Atau karena terlalu sibuk? Lebih baik melakukan pekerjaan lainnya daripada memasak, yang memakan waktu lama, sementara menghabiskannya hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Atau karena merasa tak bisa memasak? Sudah pernah mencoba? Berapa kali mencoba memasak lalu gagal? Atau karena khawatir masakan anda tak enak, hingga keinginan memasak anda urungkan? Daripada dicaci, diprotes, melihat wajah-wajah jadi berubah bentuk ketika memakan masakan anda? Atau karena rasa malas yang begitu kuat membelenggu? Dari berbelanja bahan masakan, menyiapkan lalu memasaknya. Ribet dan bisa ruwet.

Memasak itu menyenangkan dan mengasyikkan. Gembirakan hati sebelum memasak, agar memasak tak dirasakan sebagai beban. Jika perlu, libatkan anggota keluarga untuk memasak. Libatkan juga mereka saat berbelanja. Itu juga akan menjadi ajang rekreasi  keluarga.  Memasak bersama pasangan akan menjadi variasi dalam menjaga  hubungan agar tak membosankan. Saling berbagi cerita ketika memasak. Wah… akan memberikan romansa tersendiri. Anak-anak pun bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak. Anak mulai usia tiga tahun sudah cukup mampu diajak turun dapur. Selain melatih gerak motoriknya,  memasak juga dapat dijadikan sebagai sarana  belajar matematika, bahasa, pengetahuan alam dan pengetahuan lainnya. Mereka akan menikmati, karena seperti sedang bermain. Ya, bermain masak-masakan. Bukan hanya anak perempuan yang bisa dilibatkan dalam kegiatan memasak, anak laki-laki pun bisa. Dapur bukan hanya milik perempuan. Gelar Master Chef justru banyak dimiliki oleh laki-laki  . Untuk anak-anak yang beranjak remaja, memasak sebagai sarana mengajarkan mereka mandiri.

Memasak itu seru.  Dari berburu bahan masakan, menyiapkan hingga memasak, terkadang membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Ketika tidak menemukan bahan masakan yang dicari, kreativitas diuji. Jika tak ingin lelah berburu di tempat lain, yang belum tentu ada, harus memikirkan bahan penggantinya. Memilih bahan masakan pun haruslah cermat, agar mendapatkan daging, ikan, sayuran, buah atau bumbu masakan dengan kualitas yang baik. Belum lagi ketika mencoba resep baru, menjadi sebuah  tantangan untuk bisa menghasilkan masakan yang lezat. Tidak jarang untuk mendapatkan hasil yang memuaskan harus mencobanya berkali-kali. Hal tersebut membutuhkan kesabaran dan ketekunan.  Dan sebuah kepuasan ketika berhasil. Apalagi memasak makanan yang membutuhkan ketelitian, ketekunan dan kreativitas tinggi. Menjadi tantangan juga, bagaimana mengolah sisa makanan menjadi makanan baru agar tidak terbuang. Bagaimana dapat menyajikan masakan dengan cepat, sementara waktu sangat terbatas. Seru!

Kehebohan memasak bersama pasangan atau buah hati, merupakan petualangan yang seru. Keributan-keributan kecil di dapur karena perselisihan memasak, riuhnya anak-anak, jangan dianggap sebagai sesuatu yang menyebalkan. Nikmati kebersamaan itu, yang bisa jadi langka. Dan suatu saat anda akan merindukan saat-saat memasak  bersama pasangan atau buah hati.

Memasak itu membahagiakan. Seorang teman saya adalah wanita karir. Hampir tak ada waktu baginya untuk memasak. Sebenarnya ia bisa memasak. Suatu saat, ia sangat ingin memasak untuk keluarganya. Hanya tempe goreng dan sambal yang sempat dibuatnya. Apa kata anak-anaknya? “Ummi, tempe gorengnya enak sekali. Aku mau Ummi memasak lagi untukku.” Hanya tempe goreng. Tapi dilihatnya mata sang anak berbinar-binar. Ia menceritakan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Sejak itu, setiap kali ada waktu luang, ia memasak untuk keluarganya. Bisa memasak untuk orang-orang yang dicintai dan disayangi memberikan kebahagiaan tersendiri. Hilanglah penat kala melihat binar di mata mereka menikmati masakan yang kita buat. Waktu berjam-jam yang dihabiskan untuk berkutat di dapur terbayar.

Memasak sebagai terapi. Memasak sebagai terapi? Ya. Lindsay Lohan, artis terkenal, telah membuktikannya. Untuk mengatasi depresi karena bertumpuknya masalah yang dihadapi, ia sering memasak. “Saya suka memasak. Saya memasak setiap malam. Terkadang saya memasak untuk teman-teman. Saya merasakan kenikmatan tersendiri ketika memasak. Itu merupakan terapi bagi saya,” ungkap Lindsay yang dirilis Femalefirst. Kesibukan memasak akan mengalihkan perhatian dari masalah yang membelenggu. Melihat ekspresi kepuasan di wajah yang menikmati masakan, menghadirkan rasa senang dan bahagia yang dapat mengurangi kesedihan dan kegalauan.

Memasaklah dengan hati. Bagaimanapun kondisi hati, memasaklah dengan hati. Sesederhana apa pun masakan, jika memasaknya dengan hati, akan menghasilkan rasa yang luar biasa. Dan sebaliknya, semewah apa pun masakan, jika memasaknya tidak dengan hati, rasanya akan sangat mengecewakan. Hati yang tenang, riang, apalagi disertai dengan cinta, akan menghadirkan semangat dan membantu untuk dapat konsentrasi memasak. Ya, memasak juga membutuhkan konsentrasi. Jika tidak, dapat terjadi kecelakaan, salah memasukkan bumbu, atau ada yang terlupa tidak dimasukkan.

Memasak bukanlah hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang sulit. Tergantung dari mana melihatnya. Jika ingin menjadi Master Chef memang bukan hal yang mudah. Harus memiliki kemampuan meramu masakan, inovasi, kreatif dan mampu menyajikan masakan dengan cepat. Jika hanya ingin bisa memasak makanan sehari-hari, mudah koq. Merasa tidak punya bakat? Tidak perlu bakat hanya untuk memasak makanan sehari-hari. Dan jangan mudah berputus asa jika mengalami kegagalan. Teruslah mencoba. Ibarat orang yang mengendarai kendaraan, memasak butuh kebiasaan untuk melatih rasa. Semakin sering memasak, akan semakin pandai mengetahui masakan yang kurang bumbu hanya melalui aromanya,semakin tahu trik-trik memasak, juga  akan semakin mahir. Man jadda wa jadda, barang siapa bersunguh-sungguh, maka akan berhasil.
Selamat memasak dengan gembira!

sumber-fimadani-

Menjadi Orang Tua Berwibawa Untuk Anak

Seperti kita ketahui, kebanyakan perilaku dan karakter negatif anak adalah akibat kesalahan orang tua dalam memberikan pengasuhan sejak anak berusia dini. Sedimian parahnya kondisi itu, sampai ada yang menganggap wajar membentak dan memarahi orang tua, seakan sudah tidak ada lagi ketaatan dan penghormatan kepada orang tua di dalam rumah tangga.

Dalam keadaan seperti ini orang tua sering memberi cap bahwa anak mereka telah durhaka dan tidak patuh. Hanya sedikit yang menyadari bahwa semua kondisi anak adalah akibat dari cara mendidik orang tua yang kurang tepat. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa mereka  sendiri yang membentuk perilaku durhaka pada anak anak mereka.

Orang tua sering mengganggap dengan perlakuan yang mereka anggap sebagai sebuah ketegasan justru sebenarnya telah dipahami berbeda oleh anak-anak mereka. Bukan hal yang tepat jika orangtua yang menginginkan anak menjadi taat pada mereka kemudian menggunakan kekerasan dalam mendisiplikan. Susana rumah yang penuh dengan intimidasi, ancaman dan hukuman hanyalah merusak rasa hormat anak kepada orang tua mereka.

Sudah saatnya orang tua merenungi diri tentang pola yang selama ini telah dipilih dalam mendidik anak. Kebiasaan menyalahkan anak hanyalah menjadikan orang tua kehilangan wibawa di mata anak-anak, hingga saat orang tua memberi saran dan nasehat anak tak lagi mau mendengarkan.
Hampir 1500 tahun yang lalu Allah telah memberikan petunjuk bagi orangtua dalam mendidik anak.
Bangunlah dimalam hari (untuk Shalat), kecuali sedikit (daripadanya), setengahnya atau kurangilah sedikit dari padanya, atau lebihkan dari padanya dan bacalah Al-Qur’an itu perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan padamu ‘qaulan tsaqiila”. (QS. Al Muzzammil :2-5)
Sudah menjadi janji Allah bagi siapa saja yang secara konsisten melaksanakan sholat lail dan membaca Al Quran dengan perlahan-lahan dimalam hari, akan diberikan sebuah penghargaan berupa wibawa yang dalam ayat tersebut dikatakan Allah sebagai “Qaulan tsaqila” atau perkataan yang berat.

Coba bayangkan bila Anda sebagai orang tua yang penuh wibawa karena anda mempunyai qaulan tsaqila, tentu saat saat Anda mengajak anak-anak untuk melakukan sebuah kebaikan, secara serta merta cara Anda berbicara akan penuh pesona dan wajah Anda berseri-seri karena bekas sujud Anda dalam sholat yang Anda lakukan dimalam hari.

Secara pribadi setiap kita pasti pernah memiliki pengalaman yang unik, yang akhirnya kita bisa bedakan saat kita tidak melakukan sholat malam, atau target tilawah Al Qur’an kita tidak terpenuhi. Biasanya kita akan merasa ada yang kurang, seperti kering ruhani kita, sehingga saat berbicara pada siapa saja tentu akan kurang kuat, karena saat kita berbicara, berbicaranya kita hanya pembicaraan yang biasa, apapun yang kita sampaikan tidak memiliki “ruh” yang mampu menggugah orang lain.

Adakalanya juga kita mengalami, bertemu dengan seseorang yang kita kenal sebagai orang-orang yang istiqomah dalam ibadahnya, serta sangat terjaga sholat malam dan tilawah Al Qurannya, biasanya dalam kondisi diam mereka  sudah memberikan cahaya yang luar biasa, mereka tak perlu berbicara saja, keimanan orang-orang di sekeliling mereka bisa naik, apalagi jika mereka menyampaikan sesuatu.

Demikian pula bagi kita orang tua yang baik, hendaknya sudah menjadi perhatian kita secara khusus kepada sholat malam dan aktivitas tilawah Al Qur’an kita, agar Allah memudahkan kita menjadi orang tua yang memiliki wibawa dihadapan anak-anak kita. Setiap kalimat yang terucap senantiasa dipenuhi  hikmah dan kebaikan. Insyallah..

Jika dibahas melalui pendekatan pola pikir, sudah  menjadi sunnatullah, seseorang yang didalam hatinya kurang kuat maka semua sistem dan sumber daya dalam dirinya tidak akan bisa bekerja secara maksimal.
Seperti yang telah kita pahami, bahwa segala sesuatu dalam hidup kita ini berawal dari lintasan yang ada didalam hati kita, kemudian lintasan hati itu dikirimkan ke bagian bagian di otak untuk kemudian diproses. Usai diproses di otak, informasi tersebut akan disebarkan ke seluruh tubuh melalui sistem syaraf.

Respon sistem syaraf akan menimbulkan tindakan fisik yang khas sesuai dengan informasi yang telah diterima dari otak. Kemudian tindakan yang lakukan terus-menerus, akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang terus-menerus akan berubah menjadi sebuah karakter. Jika sebuah pikiran telah menjadi karakter akan sangat sulit untuk merubahnya.

Perhatikan saja orang tua kita yang telah menginjak usia diatas 40 tahun, bila Anda ingin mencoba merubah apa yang sudah menjadi kebiasaan orang tua Anda, sama sulitnya bagi Anda saat membersika sebuah teko/ceret yang penuh dengan karat akibat terlalu sering di pakai sebagai tempat teh atau kopi. Tentu akan sangat sulit bukan?

Begitulah sebuah pikiran yang telah menjelma menjadi sebuah karakter. Pikiran yang menjadi karakter itu telah terpatri dalam sistem keyakinan seseorang, yang kemudian bisa disaksikan melalui citra diri mereka.
Anak menjadi kurang menghormati, tidak taat bahkan sampai durhaka besar kemungkinan orang tua memang kurang memiliki kekuatan ruhani, sehingga saat berkata dan bertindak, sistem dan semua sumber daya dalam dirinya tidak secara selaras memilih ekpresi wajah yang berwibaya, dan kata-kata yang mudah dicerna oleh anak sebagai bahasa yang memiliki daya gugah dan daya rubah bagi anak anak.

Dengan kondisi ruhaniyah yang kuat, orangtua tak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan anak mereka. Karena wajah yang teduh dan didukung dengan bahasa bahasa yang lebut akan lebih mudah menyentuh hati anak.

Di sisi lain kondisi ruhaniyah yang senantiasa terjaga dalam pengawasan Allah, mengarahkan ketaatan anak tidak hanya tertuju kepada orang tuanya. Kesertaan Allah saat orang tua menasihati anak akan mengarahkan nasihat ketaatan tersebut dihubungkan dengan ketaatan kepada Allah, sehingga anak tidak lagi bergerak dan beramal karena ketakutan pada orang tua. Motivasi anak akan lebih berkualitas karena ketaatan mereka pada orang tua terbangun bersama ketaatan mereka kepada Allah.
Hal ini telah lakukan oleh Luqman Al – Hakim dalam memupuk ketaatan pada anaknya.
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzoliman yang besar”. [QS. Luqman: 13]
Dalam ayat ini Luqman Al-Hakim telah menginspirasi kita bahwa beliau mendahulukan ketaatan anak kepada Allah, sehingga Anak memiliki keimanan yang lurus dalam menjalani kehidupannya ukuran kebaikan dan kebenaran dalam hidupnya adalah keridhoan Allah.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” [QS. Luqman: 14]
Usai Lukman Al- Hakim menancapkan sebuah wasiat tentang ketaatan kepada Allah pada anaknya, barulah beliau melanjutkan menasihati anaknya agar taat  dan berbuat baik kepada kedua orang tua.

Demikianlah telah Allah tawarkan kepada kita para orang tua tentang solusi dalam memupuk ketaatan pada anak-anak kita melalui peningkatan kualitas ibadah kita, lengkap dengan inspirasi yang sangat agung dari seorang Ayah yang mulia Lukman Al-Hakim.

Semoga Allah meneguhkan hati kita dalam ketaatan kepada-Nya. Generasi Rabbani hanya lahir dari keluarga yang Rabbani.
Insyallah…

sumber-fimadani-

Memperbaiki Pola Didik Pada Anak

Rani, adalah seorang perempuan yang telah dikarunia seorang putra kecil berumur hampir 3 tahun. Usianya memang masih kecil, namun perkembangan sang anak melebihi perkembangan anak rata-rata seusianya, baik dari sisi vocal maupun motoriknya.

Sudah satu bulan lebih Rani mengalami “sakit”. Sebuah penyakit yang tak biasa, dan penyakitnya ini terus menggerogoti fisiknya. Karena sakitnya ini, maka Rani sempat menghilang dari aktivitas pergaulan social. Fisik Rani kian rapuh, tensinya melonjak drastis hingga 150/90. Rani benar-benar merasakan sakit yang teramat sakit. Berbagai upaya dia lakukan untuk menurunkan tensinya dengan berbagai obat alami. Tensi pun normal kembali, namun penyakit berpindah. Rani merasakan seluruh tubuhnya sakit luar biasa, sampai-sampai dia minum vitamin syaraf, juga obat-obatan kimia, sebuah hal yang sudah dia tinggalkan bertahun-tahun. Namun semua upaya itu tidak juga meredakan sakit di tubuhnya, padahal dia sudah minum sekian obat per hari. Rani merasakan dadanya sangat sesak.

Tak hanya berhenti di situ. Detak jantungnya menjadi tak beraturan, tensi tidak stabil, gelisah, ketakutan, kecemasan merajalela. Sangat tidak nyaman. Rani benar-benar merasakan sakit yang teramat sakit. Makan, tidur, interaksi social tidak enak, juga insomnia. Complicated! Fisik tergerogoti, ibadah pun tiada nyaman. Shalat, tilawah, dan ibadah lain terganggu. Rani merasa hampir gila.

Apa yang menyebabkan kondisi itu semua? Rupanya, selama ini Rani memendam kemarahan kepada orangtua hampir seumur hidupnya. Tentu kemarahan Rani beralasan. Pola asuh yang salah, itulah penyebabnya. Rani kecil biasa ditampar pipi, dicubit paha sampai biru, diseret keluar rumah dan dikunci dari dalam rumah, kemudian listrik dimatikan.

Sebenarnya Riani sudah lupa dengan hal-hal itu. Tetapi memeori itu seakan terpanggil kembali ketika dia memiliki anak, dan ketika anaknya mulai polah. Kekerasan yang Rani alami sedari kecil membuatnya dendam kepada kedua orangtuanya. Namun ternyata antara sadar dan tidak, Rani melakukan perlakuan yang sama kepada sang anak, meskipun tidak membabi buta, tidak separah yang Rani alami sewaktu kecil. Rani sadar, bahwa dia benci terhadap perlakuan itu. Namun justru Rani juga memperlakukan anaknya secara kasar ketika dia dalam kondisi capek dan jengkel.

Rani berusaha mati-matian melawan alam bawah sadarnya. Rani benci perlakuan orang tuanya, baik sama dirinya sendiri maupun sama anaknya yang tidak lain adalah cucu orangtuanya sendiri. Orang tua Rani memang tak jarang memberi perlakuan kasar sebagaimana yang diterima Rani sewaktu kecil kepada anak Rani.  Hal inilah yang membuat Rani heran, kenapa orangtuanya bisa berbuat seperti itu kepada cucunya sendiri. Bahkan sang cucu hampir tidak pernah dimandikan, disuapi, ataupun di temani ketika Rani sedang ada keperluan ataupun ketika Rani terpaksa harus opname di RS.

Cukup mengerikan memang. Sesuatu yang hampir dilupakannya, namun tiba-tiba memori itu muncul kembali ketika Rani punya anak yang mulai polah. Rani marah-marah sama anaknya, namun Rani tak sanggup menghentikan kemarahan itu. Rani sangat sadar, tapi  alam bawah sadarnya mengendalikannya. Rani benar-benar merasa tersiksa dan itu seperti lingkaran setan. anaknya dimarahi eyang. Rani marah dengan eyang, anak dan suaminya jadi sasaran pelampiasan kemarahannya, begitu seterusnya. Sakit psikis itu benar-benar sangat menyiksanya. Imbasnya ke tubuh dan kesehatannya. Rani melakukan apapun untuk menghentikan semua itu, mulai dari bekam hingga terapi ruqyah. Keluhan mulai berkurang, tapi bara api masih di hati dan dadanya. Rani tetap merasa tidak kuat. Hingga akhirnya Rani berniat mencari psikolog. Pokoknya apapun akan Rani lakukan asal bisa terlepas dari semua belenggu itu.

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dari cerita tersebut. Bahwa menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak bukanlah berarti menjadi orangtua ‘malaikat’ yang tak boleh kecewa, sedih, capek, pusing menghadapi anak. Perasaan negatif pada anak adalah wajar. Namun, sebagai orangtua hendaknya kita bisa bijak dan pandai menahan emosi, bagaimana agar semua rasa negatif tersebut tidak sampai menyakiti sang anak. Inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita. Karena hal-hal negatif yang orangtua lakukan terhadap anak ternyata bisa menempel begitu kuatnya pada diri sang anak, sehingga bukan tak mungkin apa yang dialami Rani tersebut juga dialami oleh anak-anak kita kelak.

Ketika kita mendapati perilaku negatif pada anak, bukan berarti kita tidak boleh sedih dan kecewa pada anak, tetapi yang harus kita ingat adalah, kita sama sekali tak berhak untuk melukai dan menyakiti anak-anak kita. Ingatlah, bahwa melotot, mengancam, membentak dapat membuat hati anak terluka. Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya. Tubuhnya bisa kesakitan, tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya. Bisa jadi sang anak mengatakan bahwa dia telah memaafkan perilaku orangtuanya tersebut, tetapi mungkin hatinya masih terluka, sebuah luka yang mungkin butuh waktu sangat lama untuk menyembuhkannya. Tentu saja ini akan berdampak panjang, seperti halnya yang dialami oleh Rani.

Kita bukanlah orangtua malaikat, maka yakinlah anak kita pun bukan anak malaikat yang langsung terampil berbuat kebaikan dan mudah diatur serta menuruti apa saja yang diinginkan orangtua. Anak-anak kita pun butuh belajar, mereka seperti kita juga yang membutuhkan proses. Seperti belajar berjalan, kadang mereka terjatuh, kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

Perilaku anak-anak kita, mereka bereksplorasi, mereka berproses, mereka mengayuh kehidupan untuk meraih kebaikan dan menjadi manusia yang berperilaku baik. Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku, sebagian kita (orangtua) terburu-buru memvonisnya sebagai anak nakal, padahal kalo kita sadar, sebenarnya mereka hanya belum terampil berbuat kebaikan.

Anak-anak kita, masih butuh banyak bimbingan, sebagaimana kita yang juga masih sering membutuhkannya. Maka bimbinglah kebelumterampilan perbuatan baik anak dengan cara yang baik sehingga kebelumterampilan berbuat baik mereka akan terus tergerus dari kehidupan mereka. Sekali lagi, bimbinglah mereka dengan cara yang baik, karena jika kita menghadapi ketidakterampilan ini dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan, mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan, sadar ataupun tidak.

Jika sang anak emosinya kepanasan: nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk yang mungkin dapat membuat kita jengkel, maka janganlah dibentak. Api tidak akan padam dengan disiram bensin, yang ada malah akan semakin terbakar, tapi siramlah api dengan air yang memberikan kesejukan.

Apapun yang dilakukan anak, yakinilah, bahwa ketika anak melakukan hal-hal negatif, itu semua hanyalah bagian daari proses eksplorasi untuk mencari cahaya kehidupan, bagian dari proses eksplorasi untuk trampil berbuat kebaikan. Jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan, maka insyaAllah ini semua akan memberikan dampak positif, anak-anak kita akan akan menebar cahaya untuk kehidupan.

Pupuk selalu positive thinking dalam diri. Jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak mampir lagi dalam hidup kita, kamus yang benar adalah ‘inilah uji ketulusan’ bukan kegagalan, terus belajar tentang kehidupan, bukan tak berhasil dalam kehidupan. Belajar, memburu ilmu, adalah ikhtiar yang kita tuju, karena sebagian kita ketika menikah tidak disiapkan jadi orangtua.

Teruslah belajar, belajar sepanjang hayat, meskipun telah jadi orangtua atau bahkan telah menjadi eyang sekalipun. Belajar menjadi orangtua yang baik, belajar menjadi eyang yang baik, belajar menjadi manusia yang baik, cerdas, dan bijak dalam menjalani semua proses kehidupan. Kuatkan diri, keluarga, maka insyaAllah anak-anak kita memiliki ketahanan mental terhadap lingkungan yang gawat.

sumber-fimadani-

Karakter Suami Ideal

Menjadi suami ideal, bisakah? Sudah lebih dari duapuluh tahun menjadi suami, namun saya merasa bukanlah suami ideal. Saya hanya selalu berusaha untuk menjadi baik dan menjadi lebih baik lagi setiap hari. Mungkin tidak akan pernah sampai ke taraf ideal, karena memang tidak mudah untuk mencapainya.

Namun sebagai suami, saya tetap perlu memiliki peta yang jelas, seperti apa karakter ideal yang seharusnya saya miliki. Jika tidak memiliki peta ini, saya hanya berjalan melingkar-lingkar, menuruti ritme hidup dan rutinitas yang mekanistik. Setiap hari seperti itu saja, bersembunyi di balik ungkapan “terimalah aku apa adanya”, lalu kita merasa tidak perlu melakukan perbaikan dan perubahan apapun. Toh pasangan kita sudah menerima kita apa adanya.

Pada kesempatan kali ini, saya akan menguraikan tentang sepuluh karakter suami ideal.

Karakter pertama, suami ideal memiliki kemampuan untuk senantiasa memiliki cinta dan kasih sayang dalam jiwanya. Mungkin isteri kita terasa sangat menyebalkan, atau tampak sangat menjengkelkan dengan perkataan dan perbuatannya setiap hari. Para suami selalu memiliki catatan yang sama, bahwa isteri mereka amat sangat cerewet, terlalu banyak bicara, terlalu banyak komentar, dan suka memberi nasihat tanpa diminta. Namun sebagai suami, kita tidak layak mencaci maki, memarahi dan membenci isteri.
Jika tidak suka dengan perkataan atau perbuatannya, nasihati, ingatkan dengan kelembutan, dengan cinta dan kasih sayang. Jika melihat ada kekurangan pada dirinya, ingatlah Tuhan telah mengutus kita untuk mendampinginya, agar bisa menutupi kelemahan dan melengkapi kekurangan yang dimilikinya. Bukan mendamprat, memaki, apalagi sampai berlaku kasar dan menyakiti hati, perasaan dan badan isteri. Selalu sediakan cinta dan kasih sayang untuk isteri anda.

Karakter kedua, suami ideal mampu menundukkan egonya sehingga mudah mengalah, cepat mengakui kesalahan dan ada banyak maaf dalam dirinya. Apakah yang menghalangi seorang suami untuk meminta maaf kepada isterinya? Apakah yang menghalangi suami untuk bersikap mengalah ketika ada perselisihan pendapat dengan isteri? Apakah yang menghalangi suami untuk mengakui kesalahan yang dilakukan? Apakah yang menghalangi suami untuk memaafkan kesalahan dan kekurangan isteri?

Itulah yang disebut dengan ego. Ada ego lelaki, ada ego perempuan. Dalam suatu pertengkaran antara suami isteri, ego masing-masing memuncak tinggi. Tidak ada yang mau mengalah, tidak ada yang mendahului meminta maaf, tidak ada yang mau mengakui kesalahan. Padahal, dalam setiap konflik dan pertengkaran suami isteri, selalu ada andil kesalahan dari kedua belah pihak. Keduanya mesti memiliki andil dalam menciptakan suasana konflik. Maka, tundukkan selalu ego anda, untuk isteri Anda tercinta, demi keharmonisan rumah tangga.

Karakter ketiga, suami ideal mampu membahagiakan isteri, dan merasa senang jika bisa membahagiakan isterinya. Jika kita mampu membahagiakan isteri, maka akan sangat banyak yang bisa kita dapatkan darinya. Isteri merasa nyaman dan tenang, sehingga kita sebagai suami akan lebih optimal dalam menunaikan berbagai macam kegiatan dalam kehidupan. Isteri akan mendukung berbagai keinginan positif suami, selama ia merasa bahagia.

Yang perlu diketahui para suami, membahagiakan isteri itu bukanlah bab bagaimana memberikan semua yang diinginkan isteri, namun bab bagaimana menyentuh perasaan dan hatinya. Inilah hakikat yang lebih utama dan penting. Para suami sangat penting mengetahui jalan untuk menyentuh hati dan perasaan isteri, sehingga lebih bisa menyelami hal-hal apakah yang membahagiakan jiwanya, apakah yang menenteramkan hatinya, apakah yang sangat diharapkannya.

Bahagiakan selalu isteri Anda, dan lihatlah hasilnya, ia akan bersedia memberikan bantuan apapun yang Anda minta.

Karakter keempat, suami ideal selalu fokus melihat sisi kebaikan dan kelebihan isteri, serta cepat melupakan kekurangan isteri. Sesungguhnyalah setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna, dimana hanya memiliki kelebihan saja dan tidak memiliki kekurangan. Sebagaimana juga tidak ada manusia yang hanya memiliki kelemahan dan kekurangan saja, tanpa memiliki kebaikan dan kelebihan apapun.

Semenjak awal pernikahan, seharusnya sudah ada kesadaran yang tertanam dalam diri suami dan isteri, bahwa pasangan hidupnya bukanlah malaikat, bukanlah manusia super yang terbebas dari kelemahan. Para suami hendaknya menyadari, isteri yang dinikahi itu hanyalah perempuan biasa saja, yang memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Untuk itulah Tuhan mengutus Anda untuk melengkapi kekurangannya, untuk memperbaiki sisi kelemahannya.

Lupakan saja berbagai kekurangan dan kelemahannya, fokuslah melihat sisi kebaikan dan kelebihannya.

Karakter kelima, suami ideal memiliki peta kasih yang lengkap terhadap isterinya. Peta kasih yang terperinci tentang pasangan akan memberikan banyak sekali kemanfaatan. Di antara manfaatnya adalah menumbuhsuburkan cinta dan kasih sayang, karena adanya rasa saling percaya. Dengan mengenal secara mendalam tentang berbagai kondisi pasangan, maka yang muncul adalah suasana saling percaya, dan tidak ada dusta atau curiga di antara mereka. Tidak ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, karena setiap bentuk perubahan sekecil apapun telah mereka ketahui bersama.

Cara yang paling sederhana untuk mengetahui detail perubahan dan perkembangan adalah dengan selalu mengobrol setiap saat, setiap waktu. Biasakan mengobrol, di setiap ada kesempatan, tanpa perlu membatasi atau menetukan tema-tema tertentu untuk diobrolkan. Dari A sampai Z, semua bisa diobrolkan oleh suami dan isteri. Dengan cara mengobrol itulah berbagai hal bisa diketahui oleh pasangan. Suami menjadi mengerti pikiran isteri, dan isteri bisa mengerti pikiran suami.

Karakter keenam, suami ideal selalu mendekat kepada isteri, bukan menjauh. Jika Anda tengah marah kepada isteri, atau menyimpan kekesalan kepada isteri, apa yang Anda lakukan? Semakin mendekat kepada isteri, atau semakin menjauh? Jika pada kondisi seperti itu Anda menuruti emosi, melontarkan kata-kata yang menyakitkan, menampakkan mimik muka merah, apalagi sampai menyakiti fisik isteri, artinya Anda menjauh.
Jika isteri Anda tengah mengeluhkan sesuatu kepada Anda, bagaimanakah Anda merespon keluhannya? Jika 

Anda cepat mengkritik, bahkan cepat menyalahkan isteri, itu pertanda Anda menjauh darinya. Anda tidak berusaha untuk mendekat dan menenteramkan hatinya, namun justru membuat garis pemisah yang semakin tajam antara Anda dengan isteri Anda.

Sebagai suami, teruslah berusaha mendekat isteri, jangan menjauh. Saat isteri tampak emosional dan marah-marah, dekatilah, peluklah, bisikkan kalimat mesra di telinganya. Jangan diimbangi dengan kemarahan, emosi dan apalagi kekerasan serta kekasaran sikap. Mendekatlah terus kepada isteri, dan jangan menjauh.

Karakter ketujuh, suami ideal memiliki ketrampilan praktis kerumahtanggaan. Suami bukan hanya bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak dan isteri, sehingga setelah di rumah merasa menjadi manusia bebas yang tidak memiliki tugas dan tanggung jawab apapun untuk dikerjakan. Sesampai di rumah langsung istirahat, bersantai atau tidur karena merasa sudah lelah dalam menjalankan kewajiban mencari nafkah. Seakan-akan semua pekerjaan praktis kerumahtanggaan dengan sendirinya menjadi kewajiban isteri.

Sesungguhnyalah pengerjaan kegiatan praktis kerumahtanggaan itu sangat fleksibel, tidak ada ketentuan baku tentangnya. Maka, lakukan musyawarah di rumah untuk membagi peran antara suami, isteri, anak-anak, dan pembantu (jika memiliki pembantu rumah tangga). Lebih khusus lagi yang harus disepakati adalah peran suami dan isteri di dalam rumah, agar tidak menimbulkan perasaan ketidakadilan.

Bagilah peran secara berkeadilan, melalui proses musyawarah yang penuh suasana kasih sayang, bukan pemaksaan kehendak atau intimidasi. Semua untuk menjaga cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga.

Karakter kedelapan, suami ideal memberikan kesempatan dan dorongan kepada isteri untuk maju, berkembang dan berprestasi. Tidak layak bagi suami untuk menghambat kemajuan dan perkembangan potensi isteri. Pernikahan bukanlah lembaga untuk mensterilkan berbagai potensi dan prestasi salah satu pihak. Justru dengan pernikahan itu akan semakin mengoptimalkan berbagai potensi kebaikan dari suami dan isteri.

Definisikan format prestasi, dan sepakati bersama dalam keluarga. Setelah ada kesepakatan, maka dukung dan doronglah isteri untuk berprestasi. Rayakanlah setiap keberhasilan dan capaian prestasi suami dan isteri, dalam suasana kehangatan cinta dan kasih sayang. Apabila suami mencapai peningkatan prestasi, itu karena dukungan dan dorongan isteri serta anak-anak. Apabila isteri mencapai puncak prestasi, itu karena dukungan dan dorongan suami serta anak-anak. Semua pihak merasa gembira, berbangga dan mampu merayakannya.

Karakter kesembilan, suami ideal selalu tampak “young and fresh” di hadapan isteri. Banyak suami yang menuntut isteri dalam bentuk yang perfect, seperti harus selalu wangi, segar, harum, berdandan menarik, berpenampilan menyenangkan, dan lain sebagainya. Namun dirinya sendiri tampak tidak memperhatikan penampilan saat di rumah. Bau keringat yang menyengat, penampilan yang apa adanya, tidak menampakkan kerapian dan keserasian dalam berpakaian, menjadi sesuatu yang khas saat di rumah.

Tidak layak semua tenaga, pikiran dan perhatian Anda habiskan di kantor dan di tempat berkegiatan di luar rumah. Sementara Anda pulang dengan membawa tenaga sisa, pikiran sisa, hati sisa, dan perhatian sisa. Cinta dan kasih sayang seperti apa yang anda harapkan tumbuh berkembang di dalam kehidupan keluarga apabila semua dibangun di atas sisa-sisa?

Jangan bawa beban masalah dari luar rumah masuk ke dalam rumah Anda. Sebanyak apapun rasa lelah Anda dari melaksanakan aktivitas seharian, pulanglah ke rumah dalam kondisi segar dan bergairah menemui isteri serta anak-anak.

Karakter kesepuluh, suami ideal selalu memperbarui motivasi dan menguatkan kembali makna ikatan dengan isteri. Menikah, awalnya adalah sebuah akad, atau ikatan. Prosesi nikah yang sakral itu hakikatnya adalah sebuah ikrar dan perjanjian agung atas nama Tuhan, diresmikan oleh negara, disaksikan oleh orang tua, keluarga, kerabat, sahabat, tetangga dan sanak saudara. Sedemikian sakral prosesi pernikahan, tampak dari banyaknya pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Motivasi menikah adalah ibadah, bagian dari pelaksanaan aturan Ketuhanan, yang kemudian secara teknis administrasi diatur oleh negara. Sejak awal, motivasi ini telah diwujudkan dan dikokohkan dalam sebentuk ucapan atau ikrar, saat melaksanakan akad nikah di depan petugas pernikahan. Dalam perjalanan kehidupan berumah tangga, ikatan ini bisa mengendur dan melemah, maka harus selalu disegarkan dan dikuatkan.

Demikianlah ringkasan keterangan sepuluh karakter suami ideal. Semoga ada manfaatnya untuk membawa kita menuju kondisi yang lebih baik.

sumber-fimadani-