Selamat datang di gerai kami, terlengkap dan termurah.

Minggu, 04 Maret 2012

Karena Cinta adalah Sejiwa

“Sekali-kali tidak akan tersusul; Inna ma’ana Rabbuna, sesungguhnya Rabbku besertaku, Dia akan mememberi petunjuk kepadaku.”  [1]

Jawaban yang terlontar dari lisan Musa, menjawab rengekan kaumnya, Bani Israil. Allah abadikan dialog musa terhadap kaumnya ini dalam surah Asy Syu’ara ayat ke enampuluh dua. Apa sebab? Kisah tentang pelarian Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bla tentaranya yang zhalim. Yang kemudian Allah selamatkan dengan mukjizat terbelahnya laut merah. Sehingga Nabi Musa dan Bani israil bisa melaluinya[2]. Dan Allah menyelamatkan mereka dari kejaran firaun dan bala tentaranya yang kemudian Allah tengelamkan mereka di laut merah[3].

Agak menarik untuk kita cermati, diksi yang dipilih Musa ini. Mari kita bandingkan dengan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.  Mereka berdua sama-sama Nabi Allah. Sama-sama dalam kondisi pelik dalam kejaran tiran musuh dakwah.  Rasulullah ketika harus tertahan di gua tsur, berlindung dari kejaran  bala tentara musuh. Musa diburu bala tentara firaun. Muhammad dikejar pasukan musyrikin Quraisy. Namun diksi yang dipilih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika Abu Bakar menangis cemas takut mereka berdua tertangkap. “Laa Tahzan !! Allahu ma’ana, Janganlah bersedih Allah bersama kita[4] Sabda Baginda Nabi, yang kemudian Allah merekam dan mendokumentasikan dialog agung nan menyejarah ini dalah surah At Taubah ayat ke empat puluh.

Mari kita cermati, Musa mengatakan “Inna ma’ana Rabbuna, sesungguhnya Rabbku besertaku, Dia akan mememberi petunjuk kepadaku” ketika Bani Israil cemas takut akan kejaran sang Tiran dan bala tentaranya.  Karena memang Musa dan  Bani Israil tidak pernah sejiwa. Musa diutus kepada kaum yang bebalnya luar biasa. Jahil Murakkab.  Keimanan mereka kepada Musa dan Rabbnya, sulit diharapkan. Mereka tidak memiliki gelombang frekuensi yang sama dalam keimanan. Baru saja Allah selamatkan mereka dari kejaran Sang Tiran. Baru saja mukzijat, Allah tunjukan. Diseberangkan mereka di laut merah. Ditenggelamkannya sang Tiran di laut merah. Di depan mata. Sekelebat saja mereka lupa,  mereka sudah merengek pada Musa, “Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai  beberapa tuhan (berhala)[5]

Tapi berbeda dengan Abu Bakar, Ia adalah  shahabat yang telah berada dalam frekuensi iman yang sama dengan Rasulullah. Ia bergelar Ash Shidiq. Senantiasa benar dan membenarkan. Apa yang datang dari Rasulullah, langsung ia percaya. Ia pun termasuk Asabiqunal awwalun, yang berislam pertama kali. Turut dalam halaqah di rumah Arqam bin Abi Al Arqam. Dan satu dari 10 orang yang terjaminkan surga.

Ya, dalam cinta ada perasaan yang tak boleh terlupakan. Perasaan sejiwa. Berada di jalur yang sama. Tujuan yang sama. Berada pada gelombang frekuensi yang sama. Cinta butuh itu.  Perasaan sejiwa. Yang menjadikan seolah satu tubuh. Seperti yang disabdakan Beliau dalam sebuah hadits, “Mukmin itu bagikan satu tubuh, bila satu bagian terluka maka bagian lain ikut merasakannya.”

Sama seperti Abu Bakar ketika di gua tsur. Ketakutan yang dihadapinya adalah kecemasan atas keselamatan jiwa Rasulullah. Perasaan sejiwa akan mendatangkan ghirah, rasa cemburu. Ketidakrelaan apabila yang dicintainya mendapat perlakuan buruk. Maka perasaan sejiwa inilah yang mendorong seseorang berperilaku bertindak membela yang dicintainya. Seolah seperti telah dikomando!  Untuk memberikan pembelaan kepada yang dicintainya. Karena yng dicintai adalah bagian dari dirinya.

Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang saling tidak mengenal diantara mereka pasti akan saling bebeda dan berpisah(HR. Bukhari)

Maka perasaan sejiwa ini haruslah dihidupkan untuk pertama kali sebelum yang lain. Perasaan sejiwa akan muncul dari sebuah kesaman visi dan tujuan. Perasaan sejiwa ini akan membuat nyaman ketika menapaki perjalanan. Ia akan menemukan kesamaan ritme gerakan. Kapan harus bergerak cepat dan kapan harus melambat. Kapan beristirahat dan kapan bersiap berangkat.
Sejiwa Berawal dari Setara

Terlebih dalam menapaki kehidupan. Yang hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang. Maka akan sangat penting untuk membentuk Tim Kerja yang solid dan sejiwa. Dalam menuntaskan misi peradaban manusia yang telah ditakdirkan, menjadi seorang khalifah Allah.    Al-Imam Asy Syahid Hasan Al Banna dalam Maratib Al’Amal, menjelaskan detail-detail pencapaian misi besar ini. Mulai dari Perbaikan Diri (Islah An Nafs), pembentukan rumah tangga muslim (Bina’ul usrah al muslimah), Pembentukan Masyarakat Muslim (Irsyadul Mujtama’), Pembebasan Tanah Air (At Tahrir Al Wathan), Perbaikan Hukum dan Pemerintahan (Islahul Hukumat), dan Menjadi Guru Semesta (Ustadziyyatul ‘Alam).

Semua membutuhkan kesejiwaan. Perasaan sejiwa. Terutama pada proses pembentukan keluarga muslim. Kesamaan visi dan gerak akan menentukamn kelangsungkan dan kelanggengan proses menuju tahapan selanjutnya pada tahap pembentukan masyarakat islami. Pada tahap masyarakat islami pun juga menghajatkan perasan sejiwa. Visi yang sama dari tiap-tiap keluarga muslim. Sehingga gerak dan ritme yang dihasilkan bisa  selaras. Satu frekuensi. Dan terbentuk sebuah harmoni.
Menghasilkan keselarasan dan kesejiwan dalam tahap ini (masyarakat muslim) ditentukan dari proses sebelumnya (pembentukan keluarga muslim). Proses pembentukan keluarga muslim sangat ditentukan sejauh mana kualitas diri seorang muslim dan muslimah untuk dipersatukan. Perasaan sejiwa dalam iman, sudah disyaratkan disini.  Sebagaimana yang Allah firmankan “Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor, dan laki-laki yang kotor hanyalah untuk wanita yang kotor. Wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk  wanita yang baik” (QS. An Nur: 26)

Maka proses menjadi baik itu penting. Seperti yang dituliskan Pak Solikhin Abu ‘Izzuddin dalam Zero To Hero, “Menjadi penting itu baik, tetapi menjadi baik itu lebih penting” Maka proses awal yang harus dilalui adalah prores perbaikan diri (Al Islah An Nafs),  menjadi seorang mencelup kedalam celupan Allah (shibqoh Allah)[6] , kemudian menjadikannnya seorang rabbani[7].   Setelah tahapan ini telalui, maka pribadi-pribadi nan gemilang telah siap untuk menapaki tahap selanjutnya: Nikah.
Dipertemukankanlah pribadi-pribadi geminlang itu untuk membentuk sebuah generasi nan gemilang. Menyatukan cinta dan cita dalam sebuah pernikahan. Maka ditahap inipun disyaratkan juga kesejiwaan. Kesertaraan. Kafa’ah. Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan Kesamaan dan kesetaraan yang dimaksud adalah dalam kedudukan, status social, moral, kekayaan. Namun yang paling utama dalah kesetaran dalam hal iman. Dalam agamanya.  Rasul pun bersabda: “wanita itu dinikahi karena empat hal, karena kekayaannya, karena keturunannnya, karena kecantikannya, dan karean agamanya, dan pilihlah agamanya maka engkau akan beruntung.”

Kekayaan, keturunan, dan kecantikan atau ketampanan memang mudah disetarakan.  Tapi tidak semua kesetaraan itu mampu menghasilkan perasaan sejiwa. Perasaan yang tumbuh menjadi sebuah ketenangan. Terhadirkan sakinah yang menentramkan.  Karena relativitas yang ada pada masing-masing tentang definisi Kaya, Cantik, Mulia (keturunan) masing-masing memiliki versinya sendiri yang sukar disamakan. Tapi tidak dengan Agama. Iya akan mampu memberikan ketenangan dan perasan sejiwa. Karena standar kebenaran ada pada Allah. Bukan pada masing-masing makhluq. Tentu nilai kebaikan yang digunakan adalah kebaikan versi Allah.  Maka kesamaan akan nilai-nilai inilah yang akan menghadirkan perasaan sejiwa. Perasaan yang menimbulkan keyakinan yang sama. Sehingga berada dalam frekuensi iman yang sama. Sehingga satu dan yang lainnya akan saling mencintai. Akan tumbuh ghirah untuk membela, melindungi yang dicintainya. Karena bagi para pencinta danyang dicinta sudah tidak lagi ada kepemilikan tunggal. Yang ada adalah kemilikan bersama. Bukan lagi “aku” dan “kamu” tetapi  “kita”. Hunn libaasullakum wa antum libasullahun.., Dia adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakian baginya (Al Baqarah : 187).

Menyelaraskan Kembali
Menjadi penting untuk memperoleh kesejiwaan. Perasaan yang sama. Visi yang sama. Karena Agama bukan yang lain. Maka perlu setiap saat untuk menselaraskan kembali visi kita. Visi rumah tangga yang akan kita bangun. Seperti sebuah dawai gitar yang harus selalu diselaraskan nada-nadanya yang dihasilkan agar tidak sumbang.

Seperti sudah menjadi tabiat manusia untuk tidak mudah berpuas diri. Godaan yang mengalihkan pandangan dari visi besar itu pasti ada. Ketidak-istiqomahan itu pasti terjadi.  Kelelahan fisik yang berdampak pada psikologis juga pasti akan mampu menggoyahkan visi besar. Menjadikannya timpang dan tidak lagi selaras. Dan kesejiwaan pun mulai memudar. Maka perlu sebuah proses untuk kembali menyegarkan visi kita. Semangat kita yang mulai kendur. Visi yang mulai kabur, dan ghiroh yang mulai luntur. Dalam siroh kita bisa bisa simak peri hidup Rasulullah bersama para istri-istrinya  untuk kembali menselaraskan visi dan ritme kehidupan.  Ini menunjukan bahwa godaan itu pasti ada. Setelah perang hunain, istri-istri nabi menuntut lebih banyak perhiasan dunia kepada Rasulullah. Jika istri-istri sekarang menuntut tambahan uang belanja.

Lalu turunlah ayat kepada mereka , “ Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, ‘ Jika  kamu sekalian menginginkan dunia dan perhiasannya, maka marilah  subaya aku berkan  kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik Dan jika kamu sekalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat , Maka sesusungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar” (QS. Al Azhab 28-29)
Ayat ini begitu agung, mengajarkan kepada kita untuk selalu menselaraskan visi dan ritme gerak kita.  Untuk selau berdialog dengan pasangan kita tentang visi dan ritme gerak kehidupan. Visi pernikahan dan rumah tangga kita. Agar tetap sejiwa. Agar tetap selaras. Agar sakinah dapat tergapai agar mawaddah dan  rahmah dapat terrengkuh. Wallahu a’lam bishawab.
 
Oleh : Ardhianto Murcahya,S.Psi- Solo

Engkaulah Suami yang Aku Impikan



dakwatuna.com

Ketika engkau mencintaiku, engkau menghormatiku. Dan ketika engkau membenciku, engkau tidak mendzalimiku. (Dr. Ramdhan Hafidz)
Aku masih ingat saat malam pertama kita, saat itu engkau mengajakku shalat Isya’ berjamaah. Setelah berdoa engkau kecup keningku lalu berkata: “Dinda, aku ingin engkau menjadi pendampingku Dunia-Akhirat”. Mendengar ucapan itu, akupun menangis terharu. Malam itu engkau menjadi sosok seperti sayyidina Ali yang bersujud semalam suntuk karena bersyukur mendapatkan sosok istri seperti Siti Fatimah. Apakah begitu berharganya aku bagimu sehingga engkau mensyukuri kebersamaan kita? Malam itu, aku tidak bisa mengungkapkan rasa syukurku ini dengan ucapan. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah. Tanpa bisa aku bendung, air mata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah Allah yang diberikan padaku dalam bentuk dirimu. Akupun berikrar, aku ingin menjadi sosok seperti Siti Fatimah, dan aku akan berusaha menjadi istri sebagaimana yang engkau impikan.

Dan ternyata sujud itu bukan hanya di saat malam pertama, setiap kali aku terbangun pada akhir sepertiga malam, ku lihat engkau sedang bersujud dengan penuh kekhusu’an. Aku kadang iri dengan keshalihanmu, engkau terlena dalam sujudmu sedang aku berbaring di atas kasur yang empuk dengan sejuta mimpi. Kenapa engkau tidak membangunkan aku? Padahal aku ingin bermakmum padamu agar kelak aku tetap menjadi istrimu di surga. Aku hanya merasakan kecupan hangat melengkapi tidur malamku saat engkau terbangun untuk melakukan shalat malam. Apakah kecupan itu sebagai isyarat agar aku terbangun dari tidurku dan melaksanakan shalat berjamaah bersamamu? Atau karena engkau tidak tega membangunkan aku saat engkau melihat begitu pulasnya aku dalam tidurku? Aku yakin, dengan ketaatanmu pada agama, engkau akan membahagiakanku dunia-akhirat. Tidakkah agama kita mengajarkan bagaimana suami harus menyayangi istri, membuatnya bahagia, melindungi dan membuatnya tersenyum. Dan sebaliknya, istri harus berbakti, melayani dan membuat suaminya terpesona padanya.

Aku tidak peduli siapakah engkau, miskin dan kaya tidak ada bedanya bagiku. Aku hanya tertarik pada sosokmu yang bersahaja dan sederhana. Raut wajahmu yang penuh dengan keikhlasan membuatku ingin selalu menatapnya. Lembutnya sifatmu membuatku yakin bahwa engkau adalah suami yang bisa menerima segala pemberian Tuhan dan akan menyayangiku apa adanya. Aku tidak peduli dengan rumah mungil dan sederhana yang engkau persembahkan untuk kita tempati bersama. Rumah yang hanya terdiri dari ruang tamu, kamar kita, dan satu ruangan yang berisi buku-buku terutama buku agama. Namun dari rumah yang mungil ini, aku melihat taman surgawi menjelma di sini. Aku yakin engkau adalah sosok suami yang tekun belajar dan memahami agama, dan dengan bekal ini aku yakin engkau bisa membimbingku untuk meraih surga ilahi. Sebagaimana agama kita telah mengisyaratkan bahwa, barang siapa berjalan dijalan ilmu, maka Allah akan mempermudah jalan menuju ke surga.

Saat kulihat engkau begitu berbakti kepada kedua orang tuamu dan senang menjalin silaturahim, aku yakin engkau akan berlaku baik pada anak-istrimu. Aku lihat engkau jarang sekali berbicara, tapi masya Allah kalau sedang bekerja, engkau menjadi sosok yang tekun dan ulet. Dan dari cara tutur katamu, aku mendengar kata-kata mutiara yang penuh hikmah, sehingga yang tergambar dalam pikiranku adalah sosok Lukmanul Hakim, sosok suami dan ayah yang selalu mendidik keluarganya, mengajarkan anaknya untuk tidak menyekutukan Allah.

Sungguh aku bangga mempunyai suami sepertimu melebihi kebanggaanmu padaku. Aku lebih membutuhkanmu jauh melebihi kebutuhanmu padaku. Terima kasih suamiku, karena engkau telah membimbingku…

Minggu, 12 Februari 2012

Visi Keluarga

Suatu siang yang sangat cerah, Anda keluar dari rumah, berpakaian rapi, berdandan necis, membawa sebuah tas ransel berisi beberapa perbekalan. Sebelum meninggalkan rumah, Anda peluk istri Anda, sembari membisikkan kata-kata sayang dan minta agar didoakan. “Semoga perjalanan Kanda sukses”, kata isteri Anda. Dengan mantap hati Anda berjalan menuju halte tempat pemberhentian bus umum.
Ada sangat banyak bus lalu lalang di jalan raya, namun perhatian Anda fokus kepada bus yang akan membawa Anda ke stasiun Gambir. Anda biarkan saja bus-bus itu berseliweran mencari penumpang, dan Anda tidak menaikinya kendati awak bus berteriak-teriak menawari Anda.

Akhirnya bus kota itu tiba. Jurusan Gambir. Pasti, inilah bus yang Anda tunggu. Anda pun segera masuk ke dalam bus, dan membayar ongkosnya. Ada banyak halte tempat bus kota ini singgah, namun  Anda tidak mempedulikannya. Anda tetap duduk di dalam bus, dan Anda tidak ikut turun bersama para penumpang yang telah terlebih dahulu turun di berbagai halte. Anda hanya memandangi mereka, melihat kesibukan dan aktivitas banyak orang masuk dan keluar dari bus kota.

Tiba di stasiun Gambir, Anda turun dari bus kota. Segera langkah Anda bergegas masuk ke dalam stasiun kereta api. Di samping stasiun Gambir ada Monas yang menjulang tinggi dan banyak dikunjungi orang, namun anda tidak tergoda ke sana. Sama sekali tidak. Ada pula supermarket dan beberapa warung kuliner yang sangat padat pengunjung, ternyata Anda juga tidak tertarik untuk menghampirinya.

Fokus. Langkah Anda sangat pasti masuk ke stasiun Gambir. Di pintu masuk Anda langsung menunjukkan tiket kepada petugas, dan Anda dipersilakan masuk. “Langsung naik ke atas, di lantai 2 pak”, kata petugas setelah mengetahui kereta api yang akan anda tumpangi. Tepat jam 16.30 anda tiba di ruang tunggu lantai 2. Andapun duduk di bangku yang disediakan bagi para calon penumpang kereta api, menunggu waktu keberangkatan kereta api sesuai tiket Anda.  Kereta api eksekutif Bima, jurusan Surabaya, akan berangkat tepat pukul 17.00 dari stasiun Gambir.

Ada banyak kereta api di stasiun Gambir, namun Anda membiarkan saja mereka datang dan pergi. Anda memandangi kereta-kereta yang lewat, tanpa berusaha untuk menaikinya. Bukan, mereka bukan kereta yang Anda inginkan. Anda tahu persis itu. Biar saja kereta-kereta itu datang dan pergi. Anda tetap setia menanti di ruang tunggu keberangkatan.

Tidak berapa lama menunggu kereta Bima pun siap. Anda dipersilakan memasuki kereta api. Ada banyak gerbong, namun anda masuk gerbong 2, dan langsung mencari kursi nomer 8 A. Tepat, itulah yang tertulis di tiket. Anda segera duduk di kursi 8 A pada gerbong 2 kereta api eksekutif Bima. Tepat jam 17.00 kereta api Bima berangkat, menuju Surabaya. Ya, menuju Surabaya. Mengapa? Karena memang Anda akan bepergian ke Surabaya. Bukan ke Malang, bukan Ke Jogja, bukan ke Semarang, bukan ke Cirebon.

Kata teman Anda, cobalah naik kereta Taksaka, karena ada gerbong super-eksekutif di dalamnya yang sangat nyaman. Ada lagi yang menganjurkan, cobalah naik kereta Gajayana, karena ada banyak kejutan di dalamnya. Ada lagi yang menyarankan agar Anda naik kereta Argo Muria, karena hanya empat jam waktu tempuh perjalanan. Atau naik saja Argo Jati, karena hanya dua jam perjalanan.  Anda dengan tegas mengatakan tidak. Sekali lagi, tidak! Mengapa Anda tidak mau, mengapa Anda menolak tawaran-tawaran itu?

Karena Anda tahu, kereta Taksaka membawa Anda ke stasiun Tugu Jogjakarta. Kereta Gajayana akan membawa penumpang ke Malang. Kereta Argo Muria akan menuju Semarang. Kereta Argo Jati membawa penumpang menuju Cirebon. Tidak, Anda tidak akan menuju ke sana. Anda akan ke Surabaya, bukan kemana-mana. Anda telah mantap, naik kereta api Bima, kendati harus menempuh tigabelas jam perjalanan. Karena Surabaya tujuan akhir anda.

Anda nikmati perjalanan kereta Bima. Jam enam esok pagi Anda sampai di stasiun Gubeng Surabaya. Anda bersyukur, turun dari kereta api dengan selamat, sampai tujuan akhir. Anda telpon isteri di rumah, “Dinda, alhamdulillah, Kanda telah sampai Surabaya”. Lega semuanya.

Andai Anda naik bus kota sembarangan dari halte di dekat rumah Anda, niscaya tidak akan menghantar Anda menuju stasiun Gambir. Andai Anda turun di halte yang lain, tentu tidak sampai pula ke Gambir. Andai mengikuti ajakan orang yang tengah berkunjung ke Monas, Anda tidak jadi masuk stasiun kereta api. Andai Anda naik kereta Argo Muria, niscaya Anda dibawa ke Semarang. Semua langkah Anda sejak berangkat dari rumah, sudah menghantarkan Anda menuju Surabaya.

Anda berhasil mengabaikan berbagai gangguan yang bisa menghalangi Anda menuju Surabaya. Anda berhasil memfokuskan langkah Anda menuju tujuan akhir yang pasti. Surabaya. Anda telah sampai ke sana.

Urgensi Visi

Apakah yang menyebabkan langkah Anda fokus menuju tujuan akhir? Karena Anda memiliki visi yang jelas dan kuat. Anda memiliki gambaran yang jelas dan akurat tentang tujuan akhir yang Anda inginkan. Inilah langkah awal keberhasilan  hidup Anda. Visi menuntun hidup Anda selalu fokus mencapai cita-cita. Anda menjadi tidak mudah tergoda. Anda menjadi tidak mudah tertarik agenda-agenda lain yang bukan tujuan Anda. Anda menjadi sangat efektif dan efisien dalam mengalokasikan sumber daya yang Anda miliki, hanya untuk menghantarkan menuju tujuan akhir.

Visi membuat Anda bisa bekerja dengan tepat. Tidak memubadzirkan potensi serta sumber daya untuk hal-hal yang tidak diperlukan. Visi membuat Anda terjaga dari penyimpangan. Tidak membuat Anda keluar dari track yang menyebabkan Anda tidak akan mencapai tujuan. Hidup Anda selalu berada dalam koridor utama menggapai cita-cita. Inilah pentingnya visi dalam kehidupan kita.

Visi (vision) merupakan ungkapan yang menyatakan cita-cita atau impian (want to be) yang ingin dicapai di masa depan. Visi memberikan pernyataan tentang tujuan akhir dari sebuah kegiatan atau perjalanan kehidupan. Visi adalah pernyataan luhur tentang cita-cita yang hendak dicapai. Bisa dalam bentuk visi pribadi, visi keluarga, visi organisasi, bahkan visi negara. Visi menjadi penunjuk arah yang pasti, ke mana langkah mesti diarahkan. Visi menjadi pemandu perjalanan dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi dan negara.

Maka, Anda harus memiliki visi yang jelas dalam kehidupan. Semakin jelas dan kuat visi yang Anda miliki, akan semakin jelas dan kuat pula jalan-jalan yang harus Anda lalui. Semakin jelas pula Anda memandang dan mendefinisikan penyimpangan yang terjadi. Semakin lemah visi, semakin kabur pandangan Anda tentang tujuan.

Apalagi jika tidak memiliki visi, hidup Anda mengalir begitu saja, terbang bersama angin yang berhembus. Menuju apapun, dimanapun, entah namanya apapun. Lalu kapan Anda akan sampai, sementara tidak pernah mendefinisikan tujuan akhir ? Hidup Anda penuh pemborosan potensi.

Visi Keluarga

Sekarang rumuskan visi hidup Anda dan visi keluarga Anda. Keduanya menjadi satu kesatuan. Visi diri Anda melebur bersama visi pasangan hidup Anda, dan lahirlah visi keluarga. Akan Anda bawa kemana keluarga Anda? Akan menuju kemana keluarga Anda? Apa tujuan akhir dari keluarga yang Anda bentuk dan Anda bina bersama pasangan hidup Anda? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut namanya visi keluarga.

Keluarga, awalnya terdiri dari seorang suami dan seorang isteri. Keduanya telah diikat dan disatukan menjadi sebuah pasangan, yang berikrar dengan nama Tuhan. Sebagai pasangan, suami dan isteri tidak boleh memiliki visi yang berbeda tentang keluarga. Harus satu visi, agar keduanya melangkah pada jalur yang sama, menggapai tangga yang sama, melintasi jalan yang sama, dan akhirnya mencapai tujuan akhir bersama-sama.

Pada suatu saat ada sepasang suami isteri keluar bersama-sama dari rumah hendak melakukan perjalanan. Ketika sampai di stasiun Gambir, tiba-tiba suami naik kereta Bima dan isteri naik kereta Argo Jati. Saat mereka turun dari kereta, ternyata tidak mendapatkan pasangannya di sana. Karena memang kereta telah membawa mereka berdua pada arah yang berbeda, pada tujuan akhir yang tidak sama. Mereka tidak menyatukan visi keluarga. Mereka bersikukuh dengan pilihan visi masing-masing, dan melangkah masing-masing. Akhirnya, anak-anak bisa menjadi korban perselisihan tajam orang tua mereka. Satu ke Surabaya, satu ke Cirebon. Anak-anak kebingungan akan mengikuti siapa.

Dalam kehidupan keluarga, visi harus diinternalisasikan dengan kuat pada masing-masing anggota. Suami, isteri dan anak-anak, menginternalisasikan visi keluarga dalam diri mereka. Dengan demikian seluruh tindakan dan usaha yang mereka lakukan, akan selalu mengarah kepada tujuan akhir yang telah mereka tetapkan. Inilah visi yang sangat terang benderang, visi yang sangat cerah bak sinar matahari di tengah hari pada musim kemarau. Sangat jelas. Semua anggota keluarga mengerti ke mana langkah kaki akan diarahkan.

Segala bentuk gangguan dan godaan di sepanjang perjalanan hidup berumah tangga, akan mampu mereka hadapi dengan tepat. Mereka tidak mudah tergoda oleh banyaknya tawaran yang sangat menarik di perjalanan. Mereka tidak mudah membelok ke berbagai tempat yang bukan tujuan mereka, kendati tempat tersebut sangat ramai dikunjungi orang dan tampak sangat menarik. Mereka telah memiliki tujuan akhir tersendiri yang akan dicapai, yang menyebabkan pandangan serta langkah mereka menjadi fokus.

Cobalah rumuskan bersama pasangan Anda, apa visi keluarga Anda. Tanam dengan sangat kuat. Internalisasikan visi itu dengan mantap. Jadikan visi sebagai pemandu arah perjalanan bahtera keluarga Anda. Jadikan visi sebagai cara menyelesaikan persoalan dalam kehidupan keluarga. Jadikan visi sebagai “hakim” dalam menentukan pilihan saat Anda berdua mengalami disorientasi dalam kehidupan. InsyaAllah, Anda akan sangat efektif dan efisien mengelola potensi dan sumber daya keluarga.

Anda tidak perlu bertengkar tentang hal-hal yang kecil dan remeh. Anda tidak perlu marah untuk sesuatu yang tidak esensial. Karena Anda mengetahui visi dengan jelas. Karena Anda telah mampu memvisualisasikan visi dengan terang benderang, yang memandu arah perjalanan keluarga Anda, menuju bahagia dunia dan bahagia kelak di surga.

-fimadani-

Mengevaluasi Pengalaman, Menuju Pernikahan Sukses

Apakah  kita telah menikah dalam jangka waktu yang lama atau  bisa jadi baru saja melangsungkan akad nikah, kita  tetap akan bertanya-tanya tentang bagaimana pernikahan itu seharusnya. Apakah ini merupakan pernikahan yang sukses? Apakah kita pernah berpikir untuk menyerah? Jika kita melihat pernikahan kita telah sukses, apa yang telah kita lakukan untuk membuatnya bekerja? Dan jika kita melihatnya sebagai kegagalan, lalu apa peran kita di dalam kegagalan itu? Karena jika kita adalah bagian dari masalah, maka kita harus menjadi bagian dari solusi.

Mengevaluasi pengalaman pernikahan seseorang mengharuskan kita untuk kembali dan mengingat tentang apa persepsi pernikahan kita  pada awalnya. Apa artinya bagi kita di awal, dan apakah semua berjalan di jalur yang benar? Ini juga membutuhkan evaluasi diri, untuk melihat apa yang telah kita lakukan untuk membuat pekerjaan pernikahan sukses. Hal ini mengharuskan kita untuk mempertimbangkan semua keadaan buruk, kesulitan, dan kendala yang kita hadapi melalui kehidupan pernikahan kita, dan untuk mengingat bagaimana kita berhasil untuk mengatasinya.

Sebelum menilai pernikahan kita merupakan sebuah  kegagalan atau kesuksesan, kita harus menyadari bahwa tidak ada kehidupan yang lengkap dan bahwa kebahagiaan mutlak tidak ada di bumi. Kita harus mempertimbangkan kembali pkitangan kita yang kadang-kadang naif atau mimpi bahwa pernikahan harus dunia kemerah-jambuan,  tiada apapun selain cinta, kenyamanan, dan kebahagiaan tanpa masalah atau kesulitan. Singkirkan persepsi salah itu, karena hanya akan merusak pernikahan kita.

Kita akan terkejut dengan kesulitan pertama atau masalah, dan semua impian kita akan hidup bahagia dan pernikahan yang berhasil akan lenyap, jika kita tidak menyadari dari awal bahwa hasil pernikahan kebanyakan tergantung pada diri kita. Kitalah yang membuat pernikahan yang berhasil, jadi jangan berharap untuk sukses sebelum bekerja untuk keberhasilan ini.

Masih Mungkinkah?

Namun, ini tidak berarti bahwa pernikahan yang sukses adalah tujuan yang sulit diraih. Itu hanya memerlukan upaya oleh kedua pihak untuk mengatasi rintangan dan kesulitan hidup yang terus menghadang jalan mereka. Perlu pengorbanan, cinta sejati, kebaikan, pengertian, pengampunan, dan kekuatan.  Jadilah kuat untuk menantang kesulitan, untuk memaafkan, dan pengorbanan. Jadilah cukup sabar untuk mengejar kebahagiaan kita.

Orang-orang di masa lalu mengetahui hal-hal yang sangat baik dan berupaya untuk membuat hidup mereka sebahagia dan sedamai yang mereka bisa. Mereka selalu merasa membutuhkan satu sama lain, dan mereka jarang memikirkan perpisahan. Ini mungkin menjadi alasan mengapa angka perceraian saat ini dibandingkan dengan masa lalu, kita menemukan perbedaan besar dan tingkat lebih tinggi untuk pasangan hari ini.

Tidak ada keraguan bahwa kita hari ini hidup di kehidupan yang keras, tertekan dengan terlalu banyak hal, yang terkadang membuat kita lupa tentang diri kita sebagai manusia, yang membutuhkan cinta dan kasih sayang. Dan lupa bertindak sebagai pasangan yang harus peduli satu sama lain. Hal ini benar-benar akan memiliki dampak yang sangat buruk pada pernikahan kita,  proyek terpenting seumur hidup kita!

Setelah hari yang panjang di tempat kerja, tekanan masalah keuangan, dan menjadi sibuk dengan hal-hal yang terlalu banyak dalam pikiran, kita lupa untuk peduli terhadap pasangan hidup kita. Kita lupa memberikan sentuhan lembut, kata manis, dan senyum di wajah, yang dapat memencairkan setiap ketegangan, atau menghapus kelelahan. Dan hari demi hari, hidup menjadi sulit, dan tak seorang pun siap untuk memaafkan, tidak ada orang yang mencoba untuk mengerti, dan tak seorang pun yang mampu memberikan pengorbanan. Kemudian, kita mulai menyalahkan satu sama lain. Dan hal itu berubah buruk ketika kita berhenti untuk meninjau apa yang terjadi dan membuat putar balik perjalanan yang cepat.

Mengambil Inisiatif

Sebelum menyalahkan pasangan untuk tidak peduli dan penuh kasih seperti sebelumnya, mari kita memikirkan cara untuk membawa kembali cinta dan kebahagiaan dalam hidup kita. Mari kita melihat ke dalam diri kita sendiri dan menemukan tentang kesalahan kita sendiri sebelum berbicara tentang kesalahan pasangan kita. Mari kita percaya bahwa tidak ada yang sempurna. Mari kita mengampuni untuk diampuni. Mari kita memahami untuk dipahami. Mari kita merasakan anugerah besar bahwa Allah telah memberikan kita suami atau isteri,  memberikan pasangan hidup yang peduli tentang kita, yang mengasihi kita,  dan membangun  rumah tangga dengan kita.

Jika kita telah memiliki rumah tempat tinggal dengan pasangan kita untuk merasakan kehangatan dan perlindungan di dalamnya, ingatlah bahwa ada ribuan orang yang menginginkan anugerah seperti ini dalam hidupnya. Biarkan ini menjadi motivasi kita untuk menjadi kuat dan sabar dalam mengejar kebahagiaan kita.

Tentu saja, ini tidak berarti bahwa salah satu pasangan akan mengambil tanggung jawab seluruh pekerjaan perbaikan di atas bahunya, dan melakukan semua upaya itu sendiri. Pernikahan adalah tentang suatu pengalaman yang selalu berbagi: berbagi pikiran kita, usaha kita, dan perasaan kita. Berbagi saat-saat bahagia maupun saat sedih. Dan hanya ketika kita berbagi dalam hidup kita bersama-sama, ketika kita mengatasi kesulitan bersama, dan mengejar kebahagiaan kita bersama, itu yang  akhirnya akan membawa kita pada pernikahan yang berhasil!

Oleh: Hasna Hasan, seorang jurnalis yang tinggal di Mesir.

Ketika Suami Harus Bisa Memasak

Sesungguhnya Islam telah mengatur kehidupan manusia dengan standar yang paripurna, menyeluruh (syamil), dan diletakkan atas dasar keadilan dan keseimbangan. Seperti yang terfirmankan dalam “Maka berbuatlah adil-lah karena keadilan mendekatkan kepada taqwa” (QS. Al Maidah: 8 ) dan “Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangannya” (QS. Ar Rahman : 9).

Jika  bicara keadilan dan keseimbangan, maka kita kan bicara tentang hak dan kewajiban. Ada hak orang lain yang menjadi kewajiban kita yang harus kita tunaikan begitupun sebaliknya. Karena yang disebut adil adalah meletakan segala sesuatu sesuai dengan porsi atau haknya. Begitu pula dalam kehidupan berumah tangga, ada hak dan kewajiban yang harus dipahami dan ditunaikan satu dengan yang lain. Hak istri adalah kewajiban bagi suami dan hak suami adalah kewajiban bagi istri. Hunn libaasullakum wa antum libasullahun..

Terkadang ketidakmengertian tentang fungsi hak dan kewajiban suami istri inilah yang menjadikan prahara dalam rumah tangga. Karena satu dan yang lainnya saling berebut mencari pembenaran diri, mana yang menjadi hak yang harus dipenuhi oleh pihak yang lain. Salah satunya adalah dalam urusan memasak. Saya bukanlah seorang penganut fahm patriarkhi yang menganggap kaum lelaki lebih superior dibanding perempuan. Namun juga bukan seorang pendukung gender, yang menganggap setaranya lelaki dan perempuan. Tapi mencoba memandang dari kacamata Islam nan syamil wa mutakamil.

Kembali pada tema memasak, mungkin sudah terstigma di masyarakat bahwa wanita atau istri harus bisa memasak, menyiapkan makanan untuk suami tercinta. Karena telah ada semacam tugas pokok dan fungsi bahwa peranan istri adalah di kasur, di dapur dan di sumur. Walaupun tidak sepenuhnya penilaian ini benar. Terkadang karena telah terpersepsi bahwa perempuan itu harus bisa atau pandai memasak, maka akan menjadi tabu ketika melihat seorang perempuan tak pandai memasak. Bahkan menjadi hal yang tabu juga ketika seorang laki-laki suka bereksperimen di dapur. Dianggapnya kurang jantan, kebanci-bancian, dan sebagainya. Padahal tidak demikian kan? Toh, di dunia profesional atau industri banyak kita temui  para juru masak restoran berbintang lima atau para chef adalah lelaki. Mungkin karena lelaki lebih memiliki ketahanan fisik untuk berlama-lama bekerja, atau mungkin juga karena lelaki memiliki ketahanan psikologis sehingga suasana hati yang berubah tidak mempengaruhi citarasa masakan.

Istri Harus Pandai Memasak?

Suatu ketika istri saya pernah cerita, bahwa saat masih lajang ada salah satu rekannya sesama akhwat menikah. Beberapa jam setelah aqad nikah, salah satu rekan akhwat istri saya bertanya kepada suami temannya tersebut, “Akh, nanti mau dimasakin apa sama istri?” Dengan polos sang suami baru tadi menjawab “Ehm.. Mie instan saja.” Kontan saja istrinya tersebut agak sedikit cemberut. Pertanyaan yang tidak perlu dijawab seharusnya.

Saya yakin para akhwat memiliki kemampuan untuk memasak hanya saja kurang terkelola dan tergarap dengan baik. Mungkin karena kurangnya sarana dan prasarana untuk memasak  karena tinggal di kos-kosan, atau karena kesibukan aktivitasnya yang menghajatkan waktu yang banyak sehingga terkadang tidak sempat lagi untuk berbelanja dan memasak. Kira-kira seperti itulah yang dituturkan istri saya.  Tapi kemampuan memasak itu sebenarnya  ada, dan kemapuan memasak adalah termasuk dalam skill yang harus dilatih bukan sesuatu yang given. Jadi kalau seseorang yang tidak bisa memasak  terus berlatih untuk bisa memasak pasti dia akan bisa memasak. Tapi seorang ibu rumah tangga yang sewaktu belum menikah bisa memasak namun ketika berkeluarga memiliki khadimat dan  ia lebih sering meminta sang khadimat untuk memasak  sementara dirinya jarang memasak, lambat laun keterampilannya memasak akan hilang.

Mari kita belajar dari Umar bin Khaththab. Suatu ketika ada seorang lelaki mengadukan istrinya kepada Amirul Mukminin perihal istrinya yang cerewet dan galak. Namun ia tangguhkan, karena ia juga mendapati istri Amirul Mukminin juga seperti istrinya. Cerewet dan galak. “Adapun aku,” Umar pun menasehatkan pada si lelaki tersebut, “Aku tabah dan sabar menghadapi kenyataan itu karena ia  telah menunaikan kewajiban-kewajiban dengan baik. Dialah yang memasak makananku, dialah yang membuatkan roti untukku, dialah yang mencuci pakaianku, dialah yang menyusui anak-anakku, padahal itu bukanlah kewajibannya sepenuhnya.”

Umar bin Khaththab adalah sahabat yang memiliki kekhasan lisannya  yang apabila ia berbicara selalu mendapat pembenaran dari wahyu. Jadi cukuplah atsar Umar Ibn Khaththab tadi menjadi dalil bahwa istri tidak diwajibkan sepenuhnya untuk bisa memasak, yah paling tidak tahu teorinya, kalau tidak ya kebangetan.

Suami Harus Bisa Memasak

Nah kita kembali pada konsep keadilan dan keseimbangan. Jika, tadi kita telah menelisik kewajiban istri yang pandai memasak, ternyata bukanlah hal yang wajib sepenuhnya, berarti yang mendapat kewajiban  memasak adalah para suami. Hmm, tenang bapak-bapak jangan emosi dulu, kita bedah satu per satu. Pertama dari sisi definisi nafaqah. Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan definisi nafaqah sebagai mencukupi segala kebutuhan istri yang mencakup makanan, tempat tinggal, pelayanan dan obat-obatan, meskipun dia orang kaya. Hukum memberikan nafkah adalah wajib berdasarkan Qur’an, Sunnah, dan Ijma’.

Dalam kaidah ushul fiqh yang saya kutip dari kitab Syaikh Utsaimin Al Ushul min ‘Ilmil Ushul didapati sebuah kaidah, bahwa bila sesuatu yang terhukumi wajib tidak akan sempurna jika tidak ada sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu terhukumi wajib juga. Maa laa yatimmu al waajibu illaa bihi fa huwa waajib atau dalam  kaidah yang lebih umum Al wasa’ilu laha ahkamul maqhosid. Sarana itu mempunyai hukum yang sama dengan tujuan. Jadi bila memberikan nafaqah kepada istri adalah sebuah bentuk kewajiban. Dan memberikan makanan kepada istri adalah bentuk nafkah juga yang berarti terhukumi sebagai kewajiban.

Nah masalahnya, makanan tidak akan ada bila tidak melalui proses pengolahan atau pemasakan. Tidak mungkin kan, istri kita berikan beras lalu dia memakannnya? Tentulah beras tersebut harus diolah terlebih dahulu menjadi nasi, dan  makan nasi tanpa lauk pauk dan sayur juga rasanya aneh, maka perlu juga mengolah sayur dan lauk-pauk sebagai teman nasi. Barulah nasi tadi di santap oleh istri kita. Kalau demikian memberikan makan kepada istri atau pemberian nafkah tadi yang merupakan kewajiban itu, menjadi belum sempurna bila tidak dibarengi oleh kemampuan mengolah masakan.

Padahal dalam kaidah ushul fiqh dijelaskan bahwa sesuatu yang wajib namun tidak akan sempurna bila tidak adanya sesuatu yang lain dan menjadikan sesuatu yang lain itu wajib terhukumi wajib juga. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang suami wajib memiliki kemampuan untuk memasak juga, untuk menyempurnakan kewajibannnya menafkahi istri. Tapi tenang, setiap yang wajib pasti ada rukhshah. Setiap yang wajib pasti ada keringanan untuk menjalaninya. Dan Allah tidak menghendaki kesukaran justru menghendaki kemudahan bagi hamba-hambaNya, Allah pun tidak akan membebani hamba melebihi kemampuannya. Jadi asalkan sudah terniati insya Allah sudah berpahala, selanjutnya akan lebih romantis ketika suami dan istri saling belajar bersama untuk memasak.
Jadi tidak perlu risau ketika mendapati istri kita tidak pandai memasak, karena kita pada dasarnya menikah untuk mencari istri bukan mencari tukang masak, bukan begitu?
Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Ardhianto Murcahya, S.Psi, Solo